Integrasi Location-Based Management System (LBMS) dan Critical Path Method (CPM) untuk Penyusunan Alternatif Penjadwalan Lanjutan berdasarkan Aliran Kerja Aktual pada Pekerjaan Struktur
Desinta Salsabila, Dr. Toriq Arif Ghuzdewan, ST, M.Sc.E.
2026 | Skripsi | TEKNIK SIPIL
Penjadwalan proyek konstruksi pada bangunan bertingkat berulang sering menghadapi permasalahan berupa ketidakteraturan aliran kerja, waktu tunggu antaraktivitas, serta kurang optimalnya pemanfaatan sumber daya yang berdampak pada kinerja proyek. Critical Path Method (CPM) umum digunakan untuk menentukan durasi proyek dan mengidentifikasi lintasan kritis, namun belum mampu menggambarkan kontinuitas aliran kerja berdasarkan lokasi. Sebaliknya, Location-Based Management System (LBMS) mampu memvisualisasikan aliran kerja dan perpindahan sumber daya antar lokasi, tetapi memiliki keterbatasan dalam analisis logika ketergantungan aktivitas. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan mengintegrasikan LBMS dan CPM untuk menyusun alternatif penjadwalan lanjutan berdasarkan aliran kerja aktual pada pekerjaan struktur gedung bertingkat.
Penelitian dilakukan pada proyek gedung bertingkat dengan fokus pada pekerjaan struktur berupa kolom, balok, shear wall, dan pelat lantai. Data penelitian meliputi master schedule, shop drawing, model 3D struktural, dan laporan progres harian. Analisis aliran kerja aktual dilakukan pada pekerjaan struktur lantai 1 hingga lantai 3, sedangkan penyusunan penjadwalan lanjutan dilakukan untuk lantai 4 hingga lantai atap. Volume pekerjaan diperoleh dari proses quantity take-off dari model 3D menggunakan Autodesk Revit 2025, kemudian disusun tiga alternatif penjadwalan berdasarkan variasi penerapan buffer. Setiap alternatif dianalisis menggunakan LBMS untuk mengevaluasi kontinuitas aliran kerja dan menggunakan CPM untuk mengevaluasi durasi proyek serta lintasan kritis.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh alternatif menghasilkan aliran kerja yang kontinu. Alternatif 1 menghasilkan durasi penyelesaian proyek paling singkat, yaitu 55,25 hari kalender dengan waktu lebih cepat 6 hari (9,68%) dibandingkan target master schedule. Alternatif 2 menghasilkan durasi penyelesaian 69,25 hari kalender keterlambatan waktu 8 hari (12,90%), sedangkan Alternatif 3 menghasilkan durasi penyelesaian 72,50 hari kalender dengan keterlambatan waktu 11 hari (17,74%). Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan buffer menghasilkan aliran kerja yang lebih stabil, namun berdampak pada bertambahnya durasi proyek. Integrasi LBMS dan CPM memberikan dasar yang lebih komprehensif dalam evaluasi dan pengambilan keputusan penjadwalan proyek.
Construction scheduling in repetitive multi-story building projects often faces challenges related to workflow irregularities, activity waiting times, and inefficient resource utilization, which can negatively affect project performance. The Critical Path Method (CPM) is widely used to determine project duration and identify critical activities; however, it is unable to adequately represent workflow continuity across locations. Conversely, the Location-Based Management System (LBMS) can visualize workflow and resource movement between locations but has limitations in analyzing activity dependency logic. Therefore, this study aims to integrate LBMS and CPM to develop alternative schedules based on actual workflow conditions for structural works in a multi-story building project.
This study was conducted on a multi-story building project focusing on structural works, including columns, beams, shear walls, and floor slabs. The research data consisted of the master schedule, shop drawings, a 3D structural model, and daily progress reports. Actual workflow analysis was performed on the structural works of Floors 1 to 3, while advanced scheduling scenarios were developed for Floors 4 through the roof level. Work quantities were extracted from the 3D model using Autodesk Revit 2025, and three scheduling alternatives were developed based on different buffer configurations. Each alternative was evaluated using LBMS to assess workflow continuity and CPM to evaluate project duration and critical paths.
The results indicate that all alternatives produced continuous workflows without location conflicts. Alternative 1 achieved the shortest project duration of 55.25 calendar days and completed the structural work 6 days (9.68%) ahead of the master schedule target. Alternative 2 resulted in a project duration of 69.25 calendar days, causing a delay of 8 days (12.90%), while Alternative 3 produced a duration of 72.50 calendar days, resulting in an 11-day delay (17.74%). The findings show that increasing buffer values improves workflow stability but also extends project duration. The integration of LBMS and CPM provides a more comprehensive basis for evaluating and supporting construction scheduling decisions.
Kata Kunci : Aliran Kerja Aktual, Buffer, Critical Path Method (CPM), Location-Based Management System (LBMS), Pekerjaan Struktur.