Kelayakan Usaha dan Tingkat Penerapan Integrasi Kakao-Kambing di Kalurahan Terong Kapanewon Dlingo Bantul
Syafira Meilani Putri, Prof. Dr. Ir. Tri Anggraeni Kusumastuti, S.P., M.P., IPM.
2026 | Skripsi | ILMU DAN INDUSTRI PETERNAKANIntegrasi tanaman-ternak bermanfaat untuk meningkatkan produktivitas, dan pendapatan petani-peternak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kelayakan usaha integrasi tanaman-ternak, tingkat penerapan integrasi kakao-kambing, dan hubungan antara tingkat penerapan integrasi dengan pendapatan. Penelitian dilakukan di Kalurahan Terong Kapanewon Dlingo dengan pertimbangan merupakan sentra pengembangan kakao dan kambing di Kabupaten Bantul. Responden sebanyak 40 petani kakao-kambing dipilih dengan metode sensus. Pengambilan data primer dilakukan secara langsung melalui wawancara dengan alat bantu kuisioner sedangkan data sekunder diperoleh dari literatur dan instansi terkait. Analisis dilakukan secara deskriptif kuantitatif. Analisis kelayakan usaha dimulai dari identifikasi penerimaan dan biaya produksi dilanjutkan kelayakan investasi dengan menggunakan metode Benefit Cost Ratio (BCR), Net Present Value (NPV), dan Internal Rate of Return (IRR). Tingkat penerapan integrasi kakao-kambing melalui indikator pemanfaatan limbah kakao, pemanfaatan kotoran kambing, optimalisasi lahan, dan diversifikasi sumber daya dianalisis dengan skala Likert range 1 (rendah), 2 (sedang) dan 3 (tinggi) yang sudah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis hubungan antara tingkat penerapan integrasi dengan pendapatan menggunakan analisis korelasi Rank Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa usaha integrasi kakao-kambing bligon layak dijalankan dengan BCR 1,25, NPV Rp5.627.845/petani ternak/tahun, dan IRR 55%. Tingkat penerapan integrasi kakao-kambing bligon dari semua indikator berada pada kategori tinggi. Terdapat hubungan Terdapat hubungan nyata (p<0>
Crop-livestock integration is beneficial for increasing productivity and income of farmers and breeders. This study aims to analyze the feasibility of crop-livestock integration, the level of implementation of cocoa-goat integration, and the relationship between the level of integration implementation and income. The study was conducted in Terong Village, Kapanewon Dlingo, considering it is a center for cocoa and goat development in Bantul Regency. Respondents of 40 cocoa-goat farmers were selected using a census method. Primary data collection was carried out directly through interviews using a questionnaire, while secondary data were obtained from the literature and related agencies. The analysis was carried out using a quantitative descriptive method. The business feasibility analysis began with the identification of revenue and production costs, followed by investment feasibility using the Benefit Cost Ratio (BCR), Net Present Value (NPV), and Internal Rate of Return (IRR) methods. The level of implementation of cocoa-goat integration through indicators of cocoa waste utilization, goat manure utilization, land optimization, and resource diversification was analyzed using a Likert scale range of 1 (low), 2 (medium), and 3 (high) which has been tested for validity and reliability. Analysis of the relationship between the level of integration implementation and income using Spearman Rank correlation analysis. The results showed that the cocoa-Bligon goat integration business is feasible to run with a BCR of 1.25, NPV of Rp5,627,845/livestock farmer/year, and IRR of 55%. The level of implementation of cocoa-Bligon goat integration from all indicators is in the high category. There is a significant relationship (p<0>
Kata Kunci : integrasi kakao-kambing, kelayakan usaha, pendapatan, tingkat penerapan integrasi