Pengaruh aspek pelestarian pada penataan ruang jalan sebagai Coridor dua kawasan Heritage Candi :: Studi kasus Jalan Prambanan-Boko, Kecamatan Prambanan, Kabupaten Sleman Daerah Istimewa Yogyakarta dan Kabupaten Klaten Jawa Tengah
HASWEDI, Prof.Dr.Ir. Nindyo Soewarno, M.Phil
2005 | Tesis | S2 Teknik ArsitekturSaat ini, beberapa kawasan di sekitar Taman Wisata Candi Prambanan mengalami degradasi kondisi dan penurunan kualitas ruang, terutama sekali kawasan koridor antara Candi Prambanan dengan Candi Ratu Boko. Identitas kawasan koridor tersebut kurang jelas dan kurang mendukung keberadaan dua kawasan Prambanan dan Ratu Boko sebagai kawasan wisata yang berbasiskan pada ‘heritage’. Hal tersebut disebabkan karena kurang tertatanya jalur Jalan Prambanan-Boko sebagai Corridor/Path penghubung, sehingga tidak memunculkan identitas penghubung kawasan wisata. Lokasi penelitian ini adalah Path/Corridor yang terletak diantara Kawasan Wisata Candi Prambanan dengan Kawasan Wisata Ratu Boko. Jalur ini di pilih sebagai kawasan penelitian karena Keberadaan kawasan yang berada diantara dua objek wisata yaitu Candi Prambanan disisi Utara dan Bekas Kraton Ratu Boko disisi Selatan. Heritage merupakan kekuatan besar sebagai sumber daya identitas kawasan sebagai kawasan wisata budaya, sehingga dibutuhkan ‘guidelines’ untuk mengendalikan pertumbuhannya agar lebih terarah dan tertata. Penelitian dilakukan melalui pendekatan pengamatan langsung di lapangan pada objek penelitian (Deskriptif Natural Rasionalistik), dengan mencari data yang sesuai dengan variabel-veriabel yang ada, kemudian dianalisis dan diintrepretasikan. Secara diagnostik, penelitian ini merupakan suatu evaluasi dengan maksud untuk memperbaiki kualitas lingkungan binaan dengan melihat aspek setting fisiknya, sehingga dapat meningkatkan kualitas lingkungan untuk menunjang kepariwisataan dan pemakaian jalan sebagai ruang publik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jalur Jalan yang menghubungkan Candi Prambanan – Candi Boko tidak memiliki identitas kawasan sebagai Corridor kawasan wisata antara kedua objek, sehingga tidak memunculkan citra penghubung kawasan wisata. Selain itu tidak tertatanya elemen-elemen sebagai kawasan pariwisata dimana elemen-elemen tersebut meliputi; Struktur kawasan, Tata massa bangunan, Facade dan sistem jalur pedestrian yang belum tercipta sehingga masih rancu antara jalur kendaraan dan pejalan kaki. Berdasarkan hasil analisis, dapat dirumuskan kesimpulan bahwa 3 (tiga) masalah strategis pada setting fisik dan aktifitas di jalan Prambanan-Boko, yaitu; (1) Tidak terdapat elemen penunjang kawasan/street furniture utamanya di ruang Jalan Prambanan- Boko (2) Karakter formal street wall (bangunan, dan pohon) tidak menarik, (3) Kondisi akses yang tidak mendukung (intervensi ruang sirkulasi/tidak lancarnya aktifitas pejalan kaki). Penelitian ini menemukan berbagai hubungan spasial antara dua kawasan wisata yang dikaitkan dengan aspek-aspek kebudayaan, ekonomi dan fisik arsitektural.
The image of the areas around Prambanan Temple Tourism Park have subjected to degradation in physical condition and quality of space, especially at corridor area between Prambanan temple and Ratu Boko temple. The identity of the area as a corridor is not clear and not supported the existence of both Prambanan temple and Ratu Boko as tourism area which based on ‘heritage’. This problem is caused by the weakness in arranging Prambanan-Boko street lane as a connecting corridor/path, therefore its rule as connector between those tourism area can not be achieved. The research location is a path/corridor located between Prambanan temple tourism area and Ratu Boko tourism area. This path was chosen as research location due to it’s existence between Prambanan temple situated in the north and Ratu Boko’s palace situated in the south. Heritage is an important factor as area identity’s resources of cultural tourism area, so the ‘guidelines’ area needed to control properly its development in the future. The research conducted directly on location (Rational Natural Descriptive). Data acquisition achieved by applying observation method to get data variable properly. The data was analized and interpreted. Diagnostically, this research is an evaluation to improve environment quality by considering physical setting aspect, therefore environmental quality improvement can be achieved to support tourism and utilization of road space as public space. The reasearch result shows that road track connected Prambanan temple – Boko temple is not have area’s identity as a tourism corridor area between both tourism object, so the connecting image of tourism area is not appear. In addition, tourism area’s elements such as area structure, building layout, facade and pedestrian track system are not arranged properly, so there is overlaping utilization between traffict track and pedestrian track. Based on the analysis results show that the problems of physical setting and activities of Prambanan- Boko road were influenced by 3 (three) factors, that are : (1) There is no supported element of the area (street furniture), especially at Prambanan- Boko’s street space. (2) Formal character of street wall (buildings and vegetations) is not interesting. (3) entry condition is not feasible (pedestrian’s activities are interrupted). This research shows that there is spatial relation between both tourism area pertinent to cultural, economical and physical architecture.
Kata Kunci : Tata Ruang dan Lingkungan, Ruang Jalan, Pelestarian, Kawasan Heritage