Laporkan Masalah

POLA KESANTUNAN BERBAHASA DALAM REALITY SHOW PERSIDANGAN KASUS CHILD SUPPORT PADA YOUTUBE "SUPPORT COURT WITH JUDGE VONDA B"

ELA LOLITASARI, Dr. Ni Gusti Ayu Roselani, M.A.

2026 | Tesis | S2 Linguistik

Persidangan child support pada kanal YouTube Support Court with Judge Vonda B menampilkan dinamika komunikasi yang kompleks akibat konflik interpersonal dan perbedaan kepentingan antara pihak yang bersengketa. Kondisi tersebut memengaruhi penggunaan kesantunan berbahasa dalam interaksi persidangan. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pematuhan dan pelanggaran prinsip kesantunan, mendeskripsikan strategi dan fungsi kesantunan, dan menggambarkan pola kesantunan yang terbentuk dalam interaksi persidangan child support. Penelitian ini menggunakan pendekatan sosiopragmatik dengan teori prinsip kesantunan Leech (1993) dan teori strategi kesantunan Brown & Levinson (1987). Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan pernarikan kesimpulan berdasarkan model Miles & Huberman (1994). Hasil analisis menunjukkan bahwa hakim mendominasi pematuhan kesantunan melalui maksim kearifan yang berfungsi untuk menjaga keteraturan, netralitas, dan memaksimalkan keuntungan bersama. Pelapor dan terlapor dominan melanggar maksim pujian dan kesepakatan akibat konflik interpersonal, kepentingan pribadi, dan keinginan untuk memenangkan perkara, sehingga interaksi cenderung dipenuhi ketegangan dan pertantangan. Ditemukan empat strategi kesantunan yang didominasi oleh bald-on record yang menunjukkan bahwa interaksi dalam persidangan mengutamakan kejelasan dan efisiensi. Penggunaan strategi kesantunan digunakan secara dinamis sesuai dengan tujuan komunikasi dan situasi. Strategi tersebut berfungsi untuk menjaga kesantunan, mengendalikan interaksi, mempertahankan citra diri, dan mengelola konflik. Dan pola kesantunan terbentuk berdasarkan status sosial, arah interaksi, tujuan tuturan, dan intensitas konflik. Pola tersebut menunjukkan bahwa kesantunan cenderung ketika partisipan berinteraksi dengan pihak otoritas dan ketika komunikasi diarahkan pada penyelesaian perkara. Sedangkan kesantunan menurun ketika interaksi bersifat kompetitif. Pola kesantunan dipengaruhi oleh faktor relasi interpersonal, konflik pascaperceraian, kepentingan ekonomi, citra diri, dan emosi. Semakin buruk hubungan interpesonal, semakin tinggi tekanan ekonomi dan emosional, maka semakin konfrontatif, langsung, dan agresif pola komunikasi yang digunakan dalam persidangan. Selain itu, penelitian ini menunjukkan bahwa dalam konteks reality show, kesantunan berbahasa tidak hanya berfungsi sebagai strategi komunikasi dalam persidangan, tetapi juga membentuk persepsi publik dan menghadirkan nilai hiburan bagi penonton.

Child support court on the YouTube channel Support Court with Judge Vonda B presents complex communication dynamics resulting from interpersonal conflict and differing interests between the disputing parties. These conditions influence the use of linguistic politeness within courtroom interactions. This study aims to describe the observance and violation of politeness principles, identify the strategies and functions of politeness, and explain the politeness patterns formed in child support court interactions. The study employs a sociopragmatics approach using Leech (1993) politeness principle theory and Brown & Levinson (1987) politeness strategy theory. Data were analyzed through the stages of data reduction, data display, and conclusion drawing based on the Miles & Huberman (1994) model. The findings reveal that the judge predominantly observed politeness principles, particularly the tact maxim, in order to maintain order, neutrality, and mutual benefit during the court. In contrast, the complainant and defendant frequently violated the approbation and agreement maxims due to interpersonal conflict, personal interests, and the desire to win the case, resulting in interactions characterized by tension and confrontation. Four politeness strategies were identified, with bald-on record emerging as the most dominant strategy, indicating that courtroom interaction prioritizes clarity and efficiency. The use of politeness strategies was dynamic and adapted to communicative goals and situational contexts. These strategies functioned not only to maintain politeness, but also to control interaction, preserve self-image, and manage conflict. Furthermore, politeness patterns were shaped by social status, interactional direction, communicative goals, and conflict intensity. The findings also indicate that politeness patterns were influenced by interpersonal relations, post-divorce conflict, economic interests, self-image, and emotional factors. Furthermore, this study shows that in the context of reality shows, linguistic politeness not only serves as a communication strategy during the courts, but also influences public perception and provides entertainment value for viewers.

Kata Kunci : Persidangan child support, sosiopragmatik, kesantunan berbahasa, pola kesantunan/Child support court, sociopragmatics, language politeness, politeness patterns

  1. S2-2026-536442-abstract.pdf  
  2. S2-2026-536442-bibliography.pdf  
  3. S2-2026-536442-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2026-536442-title.pdf