Latar belakang keluarga pelaku bunuh diri di Kabupaten Gunungkidul :: Studi kasus korban bunuh diri diKabupaten Gunungkidul dari tahun 1999 sampai dengan tahun 2003
SETIAWAN, Ari, Drs. Soetomo, M.Si
2005 | Tesis | S2 SosiologiProses pemaksaan terhadap peristiwa kematian yang dilakukan dengan penuh kesengajaan dan secara sadar itulah yang disebut dengan bunuh diri. Dengan kata lain bunuh diri adalah suatu peristiwa yang mengakibatkan tewasnya manusia dengan sengaja dan pelakunya adalah dirinya sendiri. Bunuh diri berbeda dengan pembunuhan, bahwa yang terakhir ini adalah kematian yang dipaksakan secara sengaja dan pelakunya adalah orang lain.Tindakan bunuh diri biasanya dilakukan seseorang secara sadar dan dianggap sebagai salah satu bentuk jalan keluar untuk menyelesaikan persoalan hidupnya. Bunuh Diri di Gunungkidul tidak dapat dilepaskan dengan realitas hidup yang sudah merasuk kedalam sistim budaya dan kepercayaan masyarakatnya, yaitu sejarah masyarakat Gunungkidul dan adanya kepercayaan gejala alam sebagai alasan pembenar akan terjadinya “Bunuh Diri†yang di kenal dengan nama “Pulung Gantungâ€, walaupun bagi kebanyakan orang pasti sangat asing dan sulit dipercaya, apalagi akan dicari pertanggungjawabannya, akan tetapi merupakan realitas hidup yang telah berakar pada masyarakat Gunungkidul terutama bagi generasi tuanya. Penelitian tentang Latar Belakang Keluarga Pelaku Bunuh Diri masyarakat di Kabupaten Gunungkidul ini dilakukan dengan pendekatan studi Kuantitatif dan Kualitatif dengan menganalisis berbagai data yang telah ditetapkan, sedang pendekatannya menggunakan Metode Penelitian Surve dengan mendiskripsikan data sampel. Dengan pendekatan ini penulis berusaha memperjelas suatu fenomena atau kejadian-kejadian nyata tentang kasus bunuh diri di Kabupaten Gunungkidul. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa korban Bunuh Diri tertinggi pada tahun 1999, untuk tingkat Kecamatan paling banyak Kecamatan Tepus, untuk tingkat agama yang dianut paling banyak beragama Islam karena mayoritas penduduknya beragama Islam dengan tingkat pemahaman agama dan keimanan yang masih rendah, untuk tingkat pendidikan paling banyak dengan tingkat pendidikan Non Pendidikan, untuk tingkat status sosial pekerjaan paling banyak petani karena mata pencaharian mayoritas penduduknya sebagai petani, untuk tingkat jenis usia paling banyak usia 61 tahun ke atas, untuk tingkat jenis kelamin paling banyak jenis kelamin laki- laki, untuk tingkat bulan melaksanakan Bunuh Diri paling banyak pada bulan September, dan kebanyakan Bunuh Diri dengan modus operandi Gantung Diri karena dengan cara itu merasa lebih efektif dan cepat meninggal dunia. Latar Belakang Keluarga Korban Bunuh Diri adalah dengan kondisi sosial ekonomi miskin yang paling banyak dengan tingkat pendidikan keluarga SR atau SD, sedangkan untuk kondisi sosial ekonomi tidak miskin paling banyak dengan tingkat penididkan keluarga SLTA. Hasil Penelitian bahwa Faktor kemiskinan, tingkat keimanan yang kurang, pendidikan rendah dan sikap altruistik (Sikap perasaan keterikatan menjurus ketergantungan kepada kelompok yang pekat) banyak bersekongkol yang meletupkan bunuh diri dengan tehnik relatif mudah dengan menggantung diri.
The compulsion process to death incident, Which conducted in full deliberanetess and awareness, is called as suicide. In another word, the suicide is an incident caused a deliberately death of people and the actor is he himself. The suicide differs from homicide, that last is deliberately forced death and the actor is another person. This suicidal behavior is usually conducted by any person deliberately and assuming as one way out to solve hie/her life problem. The suicidal behavior in Gunungkidul is not released from the life reality that has been penetrated into the faith and culture sytem of its society, that is history of Gunungkidul Society and the presence of faith on the nature symptom as justification reason to the suicidal action called as “Pulung Gantungâ€, although for many people is certainly most strange ang unbelievable, moreover to seek its responsibility, but constitute of the life reality that has rooted in the Gunungkidul Society particularly to the old generation. The research on family background of the suicidal actor of society in this Gunungkidul Regency was implemented by Quantitative and Qualitative approach by analyzing various of defined data, while the approach using Survey Method With describing sample data. In this approach the writer try to explain a phenomenon and real incidents on the suicidal case in Gunungkidul Regency. The result indicate that the highest suicidal victim in 1999, to sub d istrict level is Tepus sub district, to the most numeraous followed religion level is Islam, since majority of its population is Muslim with religius faith and grasping level still lower. To the most numerous educations level is Non Education. To the most numerous work social statuses is the farmer since the livelihood of majority of its population as the farmer. To the most numerous old level is 61 olds above. To the most numerous sex level is male. To the most numerous month level for conducting suicide is month of September, and the most suicide with the suicidal modus “self hangâ€, since in this way felt more effective and death smoothly. The family background of suicidal victim is in the most poorly social-economic condition with the family education level graduated from Populace School (SR) and Elementary School (SD), while to the most numerous not poor social economic condition is the family education level graduated from Senior High School (SLTA). The result indicate that poverty factor, the less faith level, lower education and altruistic attitude (Commitment attitude that tends to dependence toward pekat group) have conspired that lead to the suicide in relative easy way by self hanging.
Kata Kunci : Pelaku Bunuh Diri, Latar Belakang Keluarga, Upaya Pemerintah, lembaga keagamaan, The suicidal Actor, family Background, Real Initiative by Government, religious institution