Laporkan Masalah

Strategi Re-Institusionalisasi Pengetahuan Lokal dalam Praktik Tata Kelola Telaga Melalui Inisiatif Revitalisasi Telaga Dondong di Desa Jetis, Kecamatan Saptosari, Kabupaten Gunungkidul

Hafid Argama Putra, Dr. Indah Surya Wardhani

2026 | Skripsi | ILMU PEMERINTAHAN

Kabupaten Gunungkidul dikenal sebagai wilayah yang memiliki karakteristik khas. Sebagian besar wilayah Kabupaten Gunungkidul terselimuti oleh kawasan karst yang berimplikasi pada ciri wilayahnya yang utamanya ditandai dengan adanya keterbatasan akses terhadap air bersih. Kondisi keterbatasan tersebut mendorong warga untuk mencari solusi alternatif dalam memenuhi kebutuhan atas air bersih, salah satunya melalui pendayagunaan telaga. Intensnya penggunaan telaga membuat warga Kabupaten Gunungkidul memiliki praktik-praktik perawatan telaga yang berdasar pada pengetahuan lokal. Namun, dalam kurun waktu beberapa tahun terakhir, praktik tata kelola telaga mengalami kemunduran, seiring dengan mengeringnya telaga di Kabupaten Gunungkidul. Penelitian ini bertujuan untuk melihat proses re-institusionalisasi pengetahuan lokal ke dalam praktik tata kelola telaga dengan mengangkat studi kasus upaya revitalisasi Telaga Dondong di Dusun Dondong, Kalurahan Jetis, Kecamatan Saptosari, Kabupaten Gunungkidul. Menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode wawancara, observasi, analisis dokumen, penelitian ini dianalisis melalui perspektif institusionalisme baru dan brikolase institusional untuk mamahami bagaimana proses pelembagaan kembali pengetahuan lokal melalui praktik revitalisasi telaga.

Temuan menunjukkan terdapat lima strategi re-institusionalisasi pengetahuan lokal yang saling berkaitan: (1) strategi kolaborasi dan co-management di antara aktor yang terlibat yang utamanya diprakarsai dan dijalankan oleh IPPD dan Komunitas Resan, (2) strategi menghidupkan kembali pengetahuan lokal melalui penyesuaian mekanisme penerapannya, (3) strategi penyampaian gagasan revitalisasi melalui penyesuaian dan pengombinasian berbagai institusi yang telah ada, (4) strategi pengelaborasian unsur modern dan tradisional dalam salah satu rangkaian kegiatan revitalisasi telaga, (5) strategi penggabungan aspek formal dan informal dalam mengupayakan perluasan akses terhadap sumber daya yang dibutuhkan selama proses revitalisasi. Kelima strategi ini berjalan seiring dengan tersedianya faktor-faktor pendukung yang mendorong proses re-institusionalisasi pengetahuan lokal dalam praktik revitalisasi telaga. Implikasi penelitian ini menegaskan bahwa keberhasilan re-institusionalisasi pengetahuan lokal sangat ditentukan oleh dinamika interaksi antaraktor, strategi yang kontekstual, serta keberadaan faktor pendukung yang memungkinkan upaya re-institusionalisasi berlangsung secara berkelanjutan. 

Gunungkidul Regency is known as an area with distinct regional characteristics. A large part of the Gunungkidul Regency is covered by karst landscapes, which directly implicates its regional features, primarily characterized by limited access to clean water. This condition of scarcity compels residents to seek alternative solutions to meet their clean water needs, one of which is through the utilization of lakes (telaga). The intensive use of these lakes has led the residents of Gunungkidul Regency to develop lake maintenance practices based on local knowledge. However, in recent years, lake governance practices have experienced a decline, corresponding with the drying up of the lakes in Gunungkidul regency. This study aims to examine the process of re-institutionalizing local knowledge into lake governance practices by presenting a case study of the Telaga Dondong revitalization efforts in Dondong Hamlet, Jetis Village, Saptosari Subdistrict, Gunungkidul Regency. Employing a qualitative approach with interview, observation, and document analysis methods, this research is analyzed through the perspectives of new institutionalism and institutional bricolage to understand the process of re-institutionalizing local knowledge through lake revitalization practices.

The findings indicate that there are five interconnected strategies for the re-institutionalization of local knowledge: (1) a collaboration and co-management strategy among the involved actors, primarily initiated and executed by IPPD and the Resan Community, (2) a strategy of reviving local knowledge through adjustments to its application mechanisms, (3) a strategy of conveying revitalization ideas through the adaptation and combination of various existing institutions, (4) a strategy of elaborating modern and traditional elements within one of the series of lake revitalization activities, and (5) a strategy of combining formal and informal aspects in seeking to expand access to the resources required during the revitalization process. These five strategies run parallel with the availability of supporting factors that encourage the process of re-institutionalizing local knowledge in lake revitalization practices. The implications of this study affirm that the successful re-institutionalization of local knowledge is highly determined by the dynamics of inter-actor interactions, contextual strategies, and the presence of supporting factors that enable re-institutionalization efforts to proceed sustainably.

Kata Kunci : karst, telaga, re-institusionalisasi, pengetahuan lokal, revitalisasi, brikolase institusional

  1. S1-2026-476621-abstract.pdf  
  2. S1-2026-476621-bibliography.pdf  
  3. S1-2026-476621-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2026-476621-title.pdf