Laporkan Masalah

PENGARUH PENAMBAHAN SELENIUM DALAM PAKAN TERHADAP PRODUKTIVITAS DAN HISTOMORFOLOGI USUS AYAM PETELUR

Muhammad Aufarrafif Hanafi, Dr. Ir. Muhsin Al Anas, S.Pt., IPM

2026 | Skripsi | ILMU DAN INDUSTRI PETERNAKAN

Telur merupakan sumber protein hewani dengan tingkat konsumsi yang meningkat setiap tahun. Produksi telur akan mencapai puncaknya pada umur 28 sampai 30 minggu dan menurun dengan perlahan sampai 75% setelah umur 80 minggu. Penggunaan Selenium (Se) yeast dalam pakan merupakan upaya meningkatkan produksi telur setelah ayam berumur 80 minggu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan selenium organik terhadap produktivitas dan histomorfologi ayam petelur setelah 80 minggu. Sebanyak 126 ekor ayam petelur umur 88 minggu strain Lohmann dibagi menjadi tiga kelompok perlakuan. Setiap kelompok perlakuan terdiri dari 6 ulangan dengan 7 ekor ayam setiap ulangan. Perlakuan terdiri dari CTRL (pakan basal tanpa penambahan Se), Se300 (pakan basal + Se 300 g/ton), dan Se600 (pakan basal + Se 600 g/ton). Perlakuan pakan diberikan selama 3 bulan. Parameter penelitian yang diamati pada produktivitas adalah HDA, FI, FCR, EM, dan EW. Sementara parameter yang diamati pada histomorfologi usus adalah panjang vili, lebar vili, kedalaman kripta, serta rasio tinggi vili dan kedalaman kripta. Analisis data menggunakan metode rancangan acak lengkap pola searah (One Way ANOVA) dan dilanjutkan dengan Duncan’s Multiple Range Test (DMRT). Perbedaan antar perlakuan ditunjukkan oleh nilai P<0>feed conversion ratio di bulan ke-1 (P<0>0,05) terhadap parameter produktivitas lainnya. Penambahan selenium organik juga meningkatkan panjang vili,  kedalaman kripta serta rasio tinggi vili dan kedalaman kripta (P<0>

Eggs are an important source of animal protein, and their consumption continues to increase each year. Egg production generally reaches its peak at 28–30 weeks of age and gradually declines to approximately 75?ter 80 weeks of age. The use of selenium (Se) yeast in feed is considered one strategy to maintain egg production in laying hens after 80 weeks of age. This study aimed to evaluate the effect of organic selenium supplementation on the productivity and histomorphology of laying hens after 80 weeks of age. A total of 126 Lohmann strain laying hens aged 88 weeks were divided into three treatment groups. Each treatment consisted of six replicates with seven hens per replicate. The treatments included CTRL (basal diet without Se supplementation), Se300 (basal diet + 300 g Se/ton feed), and Se600 (basal diet + 600 g Se/ton feed). The dietary treatments were applied for three months. Productivity parameters observed included hen day production (HDA), feed intake (FI), feed conversion ratio (FCR), egg mass (EM), and egg weight (EW). Intestinal histomorphology parameters measured were villus height, villus width, crypt depth, and the villus height to crypt depth ratio. Data were analyzed using a completely randomized design with one-way ANOVA followed by Duncan’s Multiple Range Test (DMRT). Differences among treatments were considered significant at P<0>0.05). Organic selenium supplementation also increased villus height, crypt depth, and the villus height to crypt depth ratio (P<0>

Kata Kunci : ayam petelur, produktivitas, pakan, selenium, histomorfologi usus

  1. S1-2026-499352-abstract.pdf  
  2. S1-2026-499352-bibliography.pdf  
  3. S1-2026-499352-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2026-499352-title.pdf