Laporkan Masalah

KETIMPANGAN YANG DIPERTAHANKAN: ANALISIS KEBERLANJUTAN ACFTA MELALUI KERANGKA ASYMMETRIC INTERDEPENDENCE

Michaela Nadine Gracenata Sitompul, Prof. Dr. Poppy Sulistyaning Winanti, S.I.P., M.P.P., M.Sc.

2026 | Skripsi | Ilmu Hubungan Internasional

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis mengapa kerja sama ASEAN dan Cina dalam ASEAN-China Free Trade Area (ACFTA) yang masih berlanjut hingga saat ini meskipun terdapat ketimpangan keuntungan yang secara konsisten terbukti menguntungkan pihak Cina. Dengan menggunakan kerangka asymmetric interdependence atau ketergantungan asimetri yang diperkenalkan oleh Keohane dan Nye (1977/2012), penelitian ini berargumen bahwa keberlanjutan ACFTA hingga saat ini ditopang melalui tiga kondisi struktural yang saling melengkapi. Pertama, tingginya sensitivitas ASEAN terhadap Cina dalam hal pasokan input produksi yang dibuktikan dengan lebih dari 80% impor ASEAN dari Cina merupakan barang produksi dan barang setengah jadi yang apabila terganggu langsung memengaruhi lini produksi kawasan. Kedua, kerentanan struktural ASEAN terhadap posisi Cina sebagai pusat sentral dalam rantai nilai global (GVC). Hal ini terbukti melalui studi kasus COVID-19, dimana seluruh negara anggota ASEAN mengalami gangguan produksi secara simultan dan hampir semuanya bergantung pada vaksin Cina. Ketiga, tingginya biaya kerentanan yang harus ditanggung ASEAN apabila keluar dari ACFTA yakni sekitar USD 75 miliar per tahun serta kerugian investasi. Terlebih lagi ketiadaan alternatif lain yang lebih efektif dari Cina karena kerja sama seperti CPTPP, IPEF, dan Altasia memiliki keterbatasan struktural yang menjadikannya tidak mampu menggantikan posisi Cina. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi pustaka. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa keberlangsungan ACFTA bukan merupakan kepuasan ASEAN terhadap keuntungan yang ada, melainkan hasil dari besarnya ketergantungan asimetri yang menjadikan pilihan untuk keluar jauh lebih mahal dibandingkan untuk tetap bertahan.

This research aims to analyze why ASEAN-China cooperation under the ASEAN-China Free Trade Area (ACFTA) framework continues to persist despite an imbalance of benefits that has consistently proven to favor China. Drawing on the asymmetric interdependence framework introduced by Keohane and Nye (1977/2012), this research argues that the continuation of ACFTA is sustained through three mutually reinforcing structural conditions. First, ASEAN’s high sensitivity toward China in terms of production input supply, as evidenced by the fact that more than 80% of ASEAN’s imports from China consist of capital and intermediate goods that, when disrupted, directly affect the region’s production lines. Second, ASEAN’s structural vulnerability toward China’s position as the central node in global value chains (GVC), as demonstrated through the COVID-19 pandemic case study, in which all ASEAN member states simultaneously experienced production disruptions and nearly all of them relied on Chinese vaccines. Third, the high vulnerability costs that ASEAN would bear upon exiting ACFTA - approximately USD 75 billion per year in addition to investment losses - compounded by the absence of more effective alternatives, as frameworks such as CPTPP, IPEF, and Altasia each possess fundamental structural limitations that prevent them from replacing China’s position. This research employs a qualitative descriptive method with literature review approach. The findings indicate that ACFTA’s continuation does not reflect ASEAN’s satisfaction with the existing benefits, but rather the result of deep asymmetric interdependence that makes the choice to exit far more costly than to remain.

Kata Kunci : ACFTA, ASEAN, Cina, ketergantungan asimetri, sensitivitas, kerentanan, biaya kerentanan / ACFTA, ASEAN, China, asymmetric interdependence, sensitivity, vulnerability, vulnerability cost

  1. S1-2026-493750-abstract.pdf  
  2. S1-2026-493750-bibliography.pdf  
  3. S1-2026-493750-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2026-493750-title.pdf