Analisis Korosi Pada Baling-Baling Kapal Laut
Iqbal Hasnul Hadi, Ir. Mudjijana, M. Eng.
2009 | Skripsi | S1 TEKNIK MESINBaling-baling / propeller merupakan salah satu bagian penting dari pergerakan kapal laut, untuk itu diperlukan perhitungan yang teliti dalam pemilihan material dan perancangannya. Kuningan salah satu paduan yang digunakan pada alat ini, paduan tembaga (Cu) dan seng (Zn) menghasilkan paduan ini tahan terhadap korosi. Penambahan sedikit unsur-unsur lain akan memperbaiki sifat mekanis dari paduan, pada baling-baling kapal penambahan unsur Sn tidak melebihi 1%, pada penelitian ini dilihat kriteria yang terdapat pada baling-baling kapal, diantara pengujian yang dilakukan yaitu uji kekerasan, uji impact, uji keausan, uji korosi serta pengamatan struktur mikro. Pengujian korosi dilakukan pada media air laut dengan 4 jenis air laut dari tempat yang berbeda. Dari pengujian korosi yang dilakukan pada paduan kuningan maka laju korosi pada baling-baling kapal tergolong rendah, ketahanan korosi pada material ini tergolong outstanding namun korosi yang telah terjadi pada baling-baling kapal menunjukkan adanya korosi selektif yaitu dealloying atau lebih tepatnya dezincivication yang sudah umum terjadi pada paduan kuningan didalam air laut. Hal ini juga akan memacu kerusakan lain yang terjadi pada baling-baling kapal dimana dengan terjadinya peluruhan seng maka secara tidak langsung akan mempengaruhi sifat mekanis dari paduan, sehingga korosi erosi sangat mudah terjadi terutama pada ujung daun baling-baling kapal. Selain itu pengujian kekerasan menunjukkan kekerasan paduan berkisar 89,6 BHN – 96,6 BHN, keuletan pada paduan yang diperoleh melalui pengujian impact sebesar 0,02 joule/mm2 , serta keausan spesifik pada paduan kuningan berkisar 4,685 ×10-6 mm2 /kg – 6,1947 ×10-6 mm2 /kg.
The propeller is a crucial component for marine vessel propulsion; therefore, precise calculations regarding material selection and design are essential. Brass—an alloy of copper (Cu) and zinc (Zn)—is one of the materials used for this purpose, offering inherent corrosion resistance. The addition of small amounts of other elements can enhance the alloy's mechanical properties; for instance, in marine propellers, the tin (Sn) content is kept below 1%. This study examines the characteristics of marine propellers through various tests, including hardness, impact, wear, and corrosion testing, as well as microstructural analysis. Corrosion testing was conducted using seawater samples collected from four different locations. The corrosion tests revealed that the corrosion rate of the brass propeller alloy is low, and the material demonstrates outstanding corrosion resistance. However, the observed corrosion was selective in nature—specifically dealloying, or more precisely, dezincification—a common phenomenon for brass alloys in seawater. This process can trigger further damage; the leaching of zinc indirectly affects the alloy's mechanical properties, making the material highly susceptible to erosion-corrosion, particularly at the propeller blade tips. Additionally, hardness testing showed values ??ranging from 89.6 BHN to 96.6 BHN; impact testing yielded a ductility value of 0.02 J/mm²; and the specific wear rate of the brass alloy ranged from 4.685 × 10?? mm²/kg to 6.1947 × 10?? mm²/kg.
Kata Kunci : Baling-baling kapal, Laju korosi, Kekerasan, Keuletan, Keausan.