Pengembangan Model Persepsi Risiko Kolektif Urban Flooding dengan Mempertimbangkan Heterogenitas Paparan Media Individu Menggunakan Agent-Based Modelling
Yuliana Herawati, Sinta Rahmawidya Sulistyo, ST., M.SIE., Ph.D.
2026 | Skripsi | TEKNIK INDUSTRI
Banjir perkotaan merupakan bencana yang paling sering terjadi di Indonesia dan DKI Jakarta adalah salah satu wilayah metropolitan yang paling rentan menghadapi risiko ini secara berulang setiap tahunnya. Namun, kompleksitas banjir Jakarta tidak hanya terletak pada dimensi fisiknya, tetapi juga persepsi masyarakat terhadap risikonya yang dibentuk oleh kepercayaan terhadap institusi, paparan media, sensitivitas risiko, dan komunikasi sosial antarindividu. Penelitian ini mengembangkan model simulasi Opinions on Risky Events (O.R.E.) ke dalam konteks banjir perkotaan DKI Jakarta dengan menambahkan tingkat keterpaparan media sebagai karakteristik yang berbeda-beda antarindividu. Simulasi dijalankan menggunakan NetLogo berbasis data survei terhadap 233 responden warga DKI Jakarta. Secara umum, warga Jakarta sudah memandang banjir sebagai ancaman yang perlu diwaspadai, dengan rata-rata penilaian risiko yang relatif tinggi. Penelitian ini menghasilkan empat temuan utama. Pertama, pengaruh heterogenitas paparan media terhadap persepsi risiko kolektif bergantung pada isi pesan yang sedang disampaikan pemerintah. Dibandingkan dengan kondisi ketika pengaruh media diasumsikan sama rata, perbedaan paparan media antarindividu menghasilkan kewaspadaan kolektif yang lebih rendah ketika pemerintah menyatakan risiko rendah, menyeragamkan persepsi kolektif ketika pemerintah menyatakan risiko sedang, dan justru menghasilkan kewaspadaan yang lebih kuat dan lebih seragam ketika pemerintah menyatakan risiko tinggi. Kedua, kombinasi isi pesan pemerintah dan paparan media individu menghasilkan tiga kondisi kritis, di mana isi pesan pemerintah menjadi penentu terbesar yang menjelaskan sekitar 84,6% variasi pola persepsi kolektif. Normalisasi risiko terbentuk ketika pemerintah menyatakan risiko rendah dan paparan media dalam populasi juga rendah. Polarisasi opini terbentuk ketika pemerintah menyatakan risiko rendah, tetapi paparan media tinggi karena berbagai framing media menarik opini ke arah yang berlawanan. Konsensus kewaspadaan paling kuat terbentuk ketika pemerintah menyatakan kondisi bahaya dan paparan media relatif rendah, sehingga pesan resmi diterima lebih utuh. Ketiga, perubahan komposisi karakteristik internal populasi, yaitu proporsi individu dengan sensitivitas risiko, kepercayaan terhadap institusi, atau kecenderungan berkomunikasi yang tinggi, tidak menghasilkan perubahan yang substantif pada pola persepsi risiko kolektif. Namun, ketiga karakteristik tersebut memengaruhi cara agen memproses informasi risiko. Keempat, dinamika opini populasi secara konsisten mengarah ke salah satu dari tiga pola, yaitu normalisasi risiko, polarisasi opini, atau konsensus kewaspadaan, dengan kombinasi isi pesan pemerintah sebagai penentu utama dan paparan media sebagai faktor yang memodifikasinya. Penelitian ini memberikan dasar analitis untuk merancang strategi komunikasi risiko banjir yang lebih efektif di DKI Jakarta, khususnya mengenai pentingnya konsistensi pesan institusional tentang tingkat risiko, koordinasi antara institusi dan media agar framing tidak bertentangan dengan pesan resmi.
Urban flooding is one of the most frequent disasters in Indonesia, and DKI Jakarta is among the metropolitan areas most vulnerable to recurrent flood risks each year. However, the complexity of flooding in Jakarta is not only related to its physical dimensions but also to how the public perceives the risk, which is shaped by trust in institutions, media exposure, risk sensitivity, and social communication among individuals. This study develops an Opinions on Risky Events (O.R.E.) simulation model in the context of urban flooding in DKI Jakarta by incorporating individual-level variation in media exposure. The simulation was implemented in NetLogo based on survey data from 233 Jakarta residents. Overall, residents already consider flooding as a threat requiring attention, with a relatively high average risk perception. The study produced four main findings. First, the effect of heterogeneous media exposure on collective risk perception depends on the content of the message conveyed by the government. Compared to the condition in which media influence is assumed uniform, differences in media exposure among individuals result in lower collective vigilance when the government communicates low risk, a more uniform perception when the government communicates medium risk, and higher and more uniform vigilance when the government communicates high risk. Second, the combination of government message content and individual media exposure generates three critical conditions, with government messaging as the dominant factor explaining approximately 84.6% of the variance in collective risk perception. Risk normalization occurs when the government communicates low risk and population media exposure is also low. Opinion polarization occurs when the government communicates low risk but media exposure is high, as various media framings pull opinions in opposing directions. Strongest consensus vigilance occurs when the government communicates high risk and population media exposure is relatively low, so that the official message is received more intact. Third, changes in the composition of population characteristics, namely the proportion of individuals with high risk sensitivity, trust in institutions, or communication tendency, do not produce substantial changes in the pattern of collective risk perception. However, these characteristics influence how agents process risk information. Fourth, population opinion dynamics consistently converge toward one of three patterns: risk normalization, opinion polarization, or vigilance consensus, with the combination of government message content as the primary determinant and media exposure as a modifying factor. This study provides an analytical basis for designing more effective flood risk communication strategies in DKI Jakarta, particularly emphasizing the importance of consistent institutional messaging regarding risk levels and coordination between institutions and media to prevent conflicting framing with official messages.
Kata Kunci : banjir perkotaan, persepsi risiko kolektif, paparan media individu, Agent-Based Modelling, model O.R.E., komunikasi risiko, DKI Jakarta, dinamika opini, kepercayaan institusi