Hubungan Tingkat Depresi dan Kecemasan dengan Kejadian Obesitas pada Peserta Posbindu di Seyegan, Kabupaten Sleman
Safira Putri Aryadi, Dr. dr. Emy Huriyati, M.Kes.; Janatin Hastuti, S.Si., M.Kes., Ph.D.
2026 | Skripsi | GIZI KESEHATAN
Latar Belakang: Obesitas merupakan masalah kesehatan global dan nasional dengan prevalensi yang terus mengalami peningkatan secara signifikan, salah satunya di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Berdasarkan pendekatan biopsikososial, gangguan psikologis, seperti depresi dan kecemasan berkaitan erat dengan obesitas melalui mekanisme perubahan gaya hidup. Meskipun demikian, studi terdahulu masih menunjukkan hasil yang sangat beragam dan penelitian pada populasi dewasa di tingkat komunitas, khususnya pada Posbindu, masih sangat terbatas.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dan menganalisis hubungan antara tingkat depresi dan tingkat kecemasan dengan kejadian obesitas pada peserta Posbindu di Kecamatan Seyegan, Kabupaten Sleman.
Metode: Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif observasional dengan desain cross-sectional. Teknik pengambilan sampel menggunakan metode purposive sampling yang berhasil melibatkan 239 responden individu dewasa berusia 18 tahun ke atas yang tercatat sebagai peserta Posbindu pada periode Oktober hingga November 2025. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner DASS-21 yang telah divalidasi untuk mengukur variabel tingkat depresi dan kecemasan, pengukuran antropometri IMT untuk menentukan status obesitas, kuesioner SQ-FFQ untuk memantau riwayat asupan energi, serta IPAQ-SF untuk menilai aktivitas fisik responden.
Hasil Penelitian: Hasil analisis statistik mengungkapkan bahwa meskipun prevalensi obesitas pada kelompok responden dengan depresi (66,7%) tercatat lebih tinggi dibandingkan kelompok tanpa depresi (50,8%), tidak ditemukan adanya hubungan yang signifikan secara statistik (PR = 1,31; 95% CI 0,58–2,94; p = 1,000). Di samping itu, prevalensi obesitas pada responden yang mengalami kecemasan (71,4%) juga lebih tinggi dari responden yang tidak cemas (50,4%), namun hubungan ini juga terbukti tidak bermakna (PR = 1,42; 95% CI 0,87–2,30; p = 0,447).
Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan yang bermakna secara signifikan antara tingkat depresi dan kecemasan dengan kejadian obesitas pada populasi peserta Posbindu di wilayah Kecamatan Seyegan, Kabupaten Sleman.
Background: Obesity is a global and national health problem with a significantly increasing prevalence, including in the Special Region of Yogyakarta. Based on the biopsychosocial approach, psychological disorders such as depression and anxiety are closely related to obesity through lifestyle shifts. Nevertheless, previous studies still show highly mixed results, and research on adult populations at the community level, particularly in Posbindu, remains very limited.
Objective: This study aims to determine and analyze the relationship between the levels of depression and anxiety and the incidence of obesity among Posbindu participants in Seyegan Subdistrict, Sleman Regency.
Method: This study used an observational quantitative approach with a cross-sectional design. The sampling technique used purposive sampling, successfully involving 239 adult respondents aged 18 years and older registered as Posbindu participants from October to November 2025. Data were collected using the validated DASS-21 questionnaire to measure depression and anxiety levels, Body Mass Index (BMI) anthropometric measurements to determine obesity status, the SQ-FFQ questionnaire to monitor energy intake history, and the IPAQ-SF to assess respondents' physical activity.
Result: Statistical analysis results shows that although the prevalence of obesity in the group of respondents with depression (66.7%) was recorded higher than the group without depression (50.8%), no statistically significant relationship was found (PR = 1.31; 95% CI 0.58–2.94; p = 1.000). In line with these findings, the prevalence of obesity among respondents experiencing anxiety (71.4%) was also higher than those without anxiety (50.4%), but this relationship also proved to be insignificant (PR = 1.42; 95% CI 0.87–2.30; p = 0.447).
Conclusion: There is no statistically significant relationship between the levels of depression and anxiety and the incidence of obesity among the population of Posbindu participants in Seyegan Subdistrict, Sleman Regency.
Kata Kunci : depresi, kecemasan, kesehatan mental, obesitas, posbindu