Laporkan Masalah

Evaluasi Strategic Spatial Planning Sebagai Pendekatan Proses Perencanaan Koridor Ekonomi Regional dan Hubungannya Dengan State-Led Development

Muhammad Iqbal Halim, Doddy Aditya Iskandar, S.T, M.CP., Ph.D.

2026 | Skripsi | PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA

Pengembangan Koridor Ekonomi atau Economic Corridor Development (ECD) merupakan pendekatan pengembangan wilayah yang mengintegrasikan infrastruktur, kebijakan, dan ekonomi dalam satu kerangka spasial yang sedang berkembang pesat di Asia. Namun, proses perencanaannya belum pernah dipetakan secara komparatif dalam satu kerangka analitik yang sistematis. Di sisi lain, Strategic Spatial Planning (SSP) sebagai cara pandang perencanaan wilayah memiliki keterkaitan konseptual dengan ECD, dengan salah satu kerangka operasionalnya yakni SPlaMI (Hersperger et al., 2019) yang dibangun dari 21 wilayah metropolitan Eropa belum diuji relevansinya di dalam konteks Asia. Selain itu, ECD juga dekat dengan State-Led Development (SLD) sebagai paradigma yang memandang negara sebagai aktor dominan dalam pembangunan wilayah, namun relevansi SLD di Asia juga masih diperdebatkan terkait keadaptifannya maupun dimensi spasialnya yang minim dalam literaturnya (Routley, 2012; Sonn & Choi, 2022). Penelitian ini hadir untuk menjawab tiga gap sekaligus: (1)  gap empiris studi komparatif proses perencanaan ECD; (2) gap teoritis relevansi kerangka SPlaMI di Asia; dan (3) gap teoritis perdebatan SLD dalam konteks perencanaan spasial.  

Dengan pendekatan deduktif-kualitatif dan multistage design, penelitian ini menganalisis 135 dokumen dari delapan kasus koridor ekonomi regional di Asia melalui tiga tahap. Tahap pertama adalah analisis konten terarah menggunakan lima variabel dalam dua fase proses perencanaan (Plan-Making & Plan Implementation). Tahap kedua dilanjutkan analisis komparatif lintas kasus untuk menghasilkan tipologi proses perencanaan ECD serta didukung analisis deskriptif performa ekonomi wilayah. Tahap ketiga adalah analisis penyandingan konseptual yang menggeneralisasi keterwujudan komponen SPlaMI serta menyandingkannya secara silang dengan empat komponen konseptual SLD (Autonomy, Embeddedness, Planning Centrality, dan Market Instrument). 

Pada tataran empiris, temuan menunjukkan bahwa proses perencanaan ECD di Asia bervariasi secara sistematis dan tidak seragam, namun berpola mengikuti logika kondisi awal, kapasitas kelembagaan, dan konteks wilayah masing-masing. Selain itu, seluruh kasus secara konsisten juga diprakarsai dan dieksekusi oleh otoritas pemerintahan/negara tanpa satu pun aktor pasar atau warga memimpin secara bottom-up. ECD juga terbukti secara konsisten mendukung pertumbuhan ekonomi wilayah (terutama yang dari negara berkembang), melalui mekanisme penggerak yang bervariasi, yakni antara akselerasi investasi asing, kapasitas pasar domestik yang besar, atau wilayah dengan ekonomi yang sudah mapan. 

Pada tataran teoritis, penelitian ini menemukan bahwasanya SSP relevan secara parsial sebagai pendekatan proses perencanaan ECD di Asia, namun sifat kolaboratif-partisipatif yang diidealkan SSP versi Eropa tidak terkonfirmasi, melainkan posisinya digantikan oleh watak pengarahan negara. Sehingga jika diposisikan secara berjenjang, SLD adalah mazhab pengarah yang dianut negara, SSP sebagai wujud operasional yang menerjemahkannya dalam proses perencanaan, dan ECD sebagai proyek unggulan instrumen pengembangan wilayah. Maka dari itu, penelitian ini menyimpulkan dan mengusulkan Developmentalist Strategic Spatial Planning (DSSP) sebagai konsep yang menegaskan bahwa karakter SSP lebih tepat dipahami bukan sebagai cita-cita kolaboratif-partisipatif yang berdiri sendiri, melainkan sebagai disiplin proses operasional yang seharusnya ditanamkan dalam tubuh negara developmental untuk menjaga akuntabilitas eksekusi jangka pendek-menengah dengan visi strategis jangka panjang.

Economic Corridor Development (ECD) is a regional development approach that integrates infrastructure, policy, and economic activity within a single spatial framework, and has been expanding rapidly across Asia. However, its planning process has never been mapped comparatively within a systematic analytical framework. Strategic Spatial Planning (SSP), as a planning perspective, is conceptually associated with ECD, with one of its operational frameworks, the Strategic Spatial Plan-Making & Plan-Implementation (SPlaMI) by Hersperger et al. (2019), built from 21 European metropolitan regions and not yet tested for its relevance beyond the European context. In addition, ECD is also conceptually associated with State-Led Development (SLD), a paradigm that positions the state as the dominant actor in regional development, although the relevance of SLD in Asia remains debated regarding both its adaptability and the limited treatment of its spatial dimension in the existing literature (Routley, 2012; Sonn & Choi, 2022). This research addresses three gaps simultaneously: (1) an empirical gap concerning comparative studies of ECD planning processes; (2) a theoretical gap concerning the relevance of the SPlaMI framework in Asia; and (3) a theoretical gap concerning the SLD debate within the context of the spatial planning. 

Using a deductive-qualitative approach with a multistage design, this research analyzes 135 documents from eight regional economic corridor cases in Asia through three stages. The first stage involves directed content analysis using five variables across two planning phases (Plan-Making & Plan Implementation). The second stage proceeds with cross case comparative analysis to generate typologies of the ECD planning proceeds, supported by descriptive analysis of regional economic performance. The third stage involves conceptual mapping analysis, which generalizes  SPlaMI components and cross-tabulates them against four conceptual components of SLD (Autonomy, Embeddedness, Planning Centrality, & Market Instrument).

At empirical level, findings indicate that ECD planning processes in Asia vary systematically and unevenly, yet follow patterns shaped by initial conditions, institutional capacity, and the specific context of each region. Furthermore, all cases are consistently initiated and executed by state authorities, with no case showing market actors or citizens leading the process in a bottom-up manner. ECD is also consistently associated with regional economic growth, particularly in developing country cases, through varying driving mechanisms, ranging from accelerated foreign investment, substantial domestic market capacity, to the resilience of already mature regional economies. 

At the theoretical level, this research finds that SSP is partially relevant as a planning process approach for ECD in Asia, although the collaborative-participatory character idealized in the European version of SSP was not empirically confirmed; its position was instead supplanted by a state-directed orientation. Positioned within this hierarchy, State-Led Development functions as the governing paradigm adopted by the state, Strategic Spatial Planning serves as its operational translation into the planning process, and Economic Corridor Development stands as the flagship instrument of regional development. Building on this pattern, this research proposes Developmentalist Strategic Spatial Planning (DSSP), asserting that the character of SSP is more accurately understood not as a self-standing collaborative-participatory ideal, but as an operational process discipline embedded within the developmental state to safeguard accountable short-to-medium-term execution aligned with long-term strategic vision.

Kata Kunci : Regional Economic Corridor, Strategic Spatial Planning, State-Led Development, Planning Process, Comparative Study, Asia

  1. S1-2026-504963-abstract.pdf  
  2. S1-2026-504963-bibliography.pdf  
  3. S1-2026-504963-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2026-504963-title.pdf