Mobilisasi Voluntarisme dalam Politik Elektoral: Studi Kasus Relawan Bolone Mase Magelang pada Pemilihan Presiden 2024
Eva Nujhi Dzu Nur'aini, Dr. Nanang Indra Kurniawan, S.I.P., M.P.A.
2026 | Skripsi | ILMU PEMERINTAHAN
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana praktik mobilisasi voluntarisme terjadi dalam relawan Bolone Mase Magelang pada Pemilihan Presiden 2024. Selama ini, voluntarisme sering dipahami sebagai bentuk partisipasi warga yang lahir dari kesadaran sukarela, idealisme politik, dan inisiatif dari bawah ke atas (bottom-up participation). Namun, dalam konteks politik elektoral Indonesia yang diwarnai oleh praktik klientelisme, keterlibatan relawan tidak selalu menunjukkan partisipasi warga yang otonom. Oleh karena itu, penelitian ini berupaya untuk menjelaskan bagaimana kesukarelawanan politik beroperasi dalam struktur mobilisasi yang melibatkan distribusi sumber daya dan relasi patron-klien.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Data yang diperoleh dilakukan melalui wawancara mendalam dengan enam relawan Bolone Mase di Magelang dan dua orang masyarakat, observasi kegiatan relawan, serta analisis dokumen dan sumber sekunder yang relevan. Analisis penelitian ini merujuk pada konsep political voluntarism yang menekankan pada peran sumber daya, rekrutmen, dan keterlibatan dalam membentuk partisipasi politik, serta dikaitkan dengan praktik klientelisme dalam politik elektoral.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa voluntarisme dalam relawan Bolone Mase Magelang berlangsung dalam dinamika yang kompleks antara partisipasi warga, distribusi sumber daya, dan relasi patronase. Keterlibatan relawan tidak hanya didorong oleh motivasi ideologis dan loyalitas personal terhadap kandidat, tetapi juga berkaitan dengan jejaring sosial, pengalaman politik, serta harapan terhadap peluang politik di masa mendatang. Dalam praktiknya distribusi material berperan penting dalam mendukung aktivitas relawan sekaligus membentuk hubungan timbal balik antara relawan dan aktor politik. Temuan ini menunjukkan bahwa relawan politik tidak dapat dipahami semata-mata sebagai representasi partisipasi politik dari bawah ataupun sekadar instrumen elit, melainkan sebagai bagian dari dinamika demokrasi elektoral yang memperlihatkan keterkaitan antara kesukarelawanan, loyalitas, dan praktik patronase di tingkat lokal.
This study aims to analyze how volunteer mobilization practices occurred among Bolone Mase Magelang volunteers in the 2024 Presidential Election. Volunteering is often understood as a form of citizen participation born of voluntary awareness, political idealism, and bottom-up initiatives. However, in the context of Indonesian electoral politics, which is characterized by clientelism, volunteer involvement does not always indicate autonomous citizen participation. Therefore, this study seeks to explain how political volunteerism operates within a mobilization structure involving resource distribution and patron-client relationships.
This research uses a qualitative approach with a case study method. Data were obtained through in-depth interviews with six Bolone Mase volunteers in Magelang and two community members, observations of volunteer activities, and analysis of relevant documents and secondary sources. This research analysis refers to the concept of political voluntarism, which emphasizes the role of resources, recruitment, and involvement in shaping political participation, and is linked to clientelism in electoral politics.
The results of this study indicate that volunteerism among Bolone Mase Magelang volunteers takes place within a complex dynamic involving citizen participation, resource distribution, and patronage relationships. Opponent involvement is driven not only by ideological motivations and personal loyalty to candidates, but also by social networks, political experience, and expectations for future political opportunities. In practice, material distribution plays a crucial role in supporting opponent activities while also shaping reciprocal relationships between opponents and political actors. These findings demonstrate that political volunteers cannot be understood solely as a representation of grassroots political participation or merely an instrument of the elite, but rather as part of the dynamics of electoral democracy that demonstrate the interconnectedness of volunteerism, loyalty, and patronage practices at the local level.
Kata Kunci : voluntarisme, mobilisasi relawan, klientelisme, patron-klien, Pilpres, Bolone Mase Magelang