Pembuatan Peta Indeks Risiko Banjir Rob pada Tingkat Persil di Kecamatan Semarang Utara
Nabila Rossa Herwinda, Ir. Heri Sutanta, S.T., M.Sc., Ph.D.
2026 | Skripsi | TEKNIK GEODESI
Banjir rob atau banjir pasang surut adalah salah satu bencana pesisir yang sering terjadi di wilayah pesisir utara Pulau Jawa, misalnya di Kecamatan Semarang Utara. Terjadinya banjir rob tersebut dipengaruhi oleh kombinasi kenaikan muka air laut dan penurunan muka tanah yang berlangsung secara terus-menerus. Selain itu, kondisi topografi di wilayah tersebut relatif datar sehingga rentan terjadi genangan rob. Kejadian banjir rob yang berulang menunjukkan tingginya tingkat risiko banjir rob di wilayah tersebut sehingga mengakibatkan adanya kerusakan infrastruktur, permukiman, dan terganggunya aktivitas sosial ekonomi masyarakat. Meskipun demikian, kajian terkait pembentukan indeks risiko banjir rob yang telah dilakukan sebelumnya berada pada tingkat kawasan sehingga belum mampu menggambarkan risiko banjir rob pada tingkat persil. Keterbatasan informasi risiko banjir rob pada tingkat persil menghambat upaya mitigasi, penataan ruang, dan pengurangan risiko bencana tepat sasaran, serta memengaruhi penyesuaian nilai properti dan Zona Nilai Tanah (ZNT) pada wilayah terdampak. Pembentukan indeks risiko banjir rob pada tingkat persil menjadi penting untuk dilakukan karena memberikan gambaran yang lebih detail terkait bahaya, kerentanan, dan kapasitas pada tingkat persil.
Penelitian ini dilakukan dengan menganalisis dan membentuk indeks risiko banjir rob tingkat persil tepatnya di Kecamatan Semarang Utara. Pembentukan indeks risiko banjir rob dengan mengintegrasikan komponen ancaman, kerentanan, dan kapasitas dengan menggunakan metode weighted overlay berbasis Sistem Informasi Geografi (SIG). Hasil peta indeks risiko banjir rob kemudian di overlay dengan Peta Bidang Tanah dengan menggunakan tools Zonal Statistics sehingga diperoleh indeks risiko banjir rob tiap persil. Pendekatan tingkat persil dilakukan agar distribusi indeks risiko banjir dapat teridentifikasi secara rinci. Hasil klasifikasi indeks risiko banjir rob terbagi menjadi tiga kelas, yaitu rendah, sedang, dan tinggi. Jumlah persil pada setiap kelas risiko dapat diperoleh dengan tools Statistics by Categories sehingga dihasilkan informasi terkait jumlah persil yang berada pada masing – masing kelas risiko. Selain itu, dilakukan identifikasi properti yang akan dijual melalui survei lapangan dan Google Street View untuk menganalisis keterkaitannya dengan tingkat risiko banjir rob dan kapasitas ekonomi masyarakat.
Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar wilayah di Kecamatan Semarang Utara berada di kelas risiko sedang hingga tinggi, terutama di Kelurahan Tanjung Mas, Bandarharjo, dan Panggung Lor dengan elevasi rendah dan penurunan muka tanah yang signifikan. Berdasarkan hasil klasifiksi indeks risiko banjir rob pada tingkat persil, terdapat 19.123 persil pada kelas risiko tinggi, 11.409 persil pada kelas risiko sedang, dan 11 persil pada kelas risiko rendah. Hasil tersebut menunjukkan bahwa sebagian besar persil di Kecamatan Semarang Utara memiliki tingkat risiko yang relatif tinggi terhadap banjir rob. Selain itu, teridentifikasi terdapat 34 unit properti dijual, 22 rumah berada di kelas risiko sedang, 12 berada pada kelas risiko tinggi. Banyaknya properti yang dijual menunjukkan bahwa kapasitas ekonomi memengaruhi strategi masyarakat dalam beradaptasi terhadap dampak banjir rob. Hasil analisis tingkat persil dapat memberikan informasi spasial yang lebih detail serta mendukung proses mitigasi dan pengelolaan wilayah pesisir.
Tidal flood is one of the coastal hazards that frequently occurs along the northern coast of The Java Island, particularly in Semarang City, especially in North Semarang District. The occurrence of tidal flooding is influenced by continuous sea-level rise and land subsidence. In addition, the relatively flat topograpfhic conditions in the area make it highly vulnerable to tidal inundation. However, previous tidal flood risk studies have generally been conducted at the regional scale and have not adequately represented flood risk at the parcel level. The lack of parcel-level flood risk information hinders effective mitigation efforts, spatial planning, and targeted disaster risk reduction strategies, while also affecting property valuation and Land Value Zone assessments in affected areas. Therefore, the development of a parcel-level tidal flood risk index is essential to provide more detailed information regarding hazard, vulnerability, and capacity at the parcel scale.
This study was conducted to analyze and develop a parcel-based tidal flood risk index in North Semarang District. The analysis was carried out by integrating hazard, vulnerability, and capacity components using a Geographic Information System (GIS) based weighted overlay method. The result of tidal flood risk map index was overlaid with cadastral parcel map using the Zonal Statistics tool to obtain the risk value for each land parcel. A parcel-based approach was applied to identify the distribution of flood risk in detail. The risk classification results were divided into three classes : low, medium, and high. The number of parcels in each risk class was obtained using the Statistics by Categories tool, resulting in information regarding the distribution of parcels within each risk category. In addition, the identification of properties for sale was conducted through field surveys and the use of Google Street View to examine the relationship between this phenomenon, tidal flood risk levels, and the economic capacity of the community in the study area.
The result indicate that most areas of North Semarang District fall within the moderate to high risk categories, particularly in Tanjung Mas, Bandarharjo, and Panggung Lor, which are characterized by low elevations and significant land subsidence. Based on the parcel- level tidal flood risk classification, 19.123 parcels were identified as high risk, 11.409 parcels as moderate risk, and 11 parcels as low risk. These findings indicate that the majority of parcels in North Semarang District are exposed to relatively high levels of tidal flood risk. Furthermore, 34 properties offered for sale were identified, consisting of 22 properties located in moderate-risk areas and 12 properties in high risk areas. The large number of properties offered for sale suggests that economic capacity influences community adaptation strategies in response to the impacts of tidal flooding. The parcel-level analysis provides more detailed spatial information and supports disaster mitigations efforts as well as sustainable coastal area management.
Kata Kunci : banjir rob, indeks risiko banjir, analisis spasial, penurunan muka tanah, persil, Semarang Utara, properti dijual