KETERGANTUNGAN STRUKTURAL DAN HEGEMONI BUDAYA DALAM PROYEK NEW MACAU DI SIHANOUKVILLE, KAMBOJA
Vanya Frisca Sitanggang, Prof. Dr. Drs. Dafri Agussalim, M.A.
2026 | Skripsi | Ilmu Hubungan Internasional
Penelitian ini mengkaji bagaimana kapitalisme global menciptakan relasi ketergantungan struktural yang berimplikasi pada ketimpangan di Kamboja dan bagaimana masyarakat lokal meresponsnya. Menggunakan kerangka teori dependensi Andre Gunder Frank dan hegemoni Antonio Gramsci, penelitian ini berargumen bahwa ketergantungan Kamboja terhadap China bukan disebabkan kegagalan internal, melainkan hasil dari posisi strukturalnya sebagai negara periphery yang secara bersamaan menciptakan ketimpangan material sekaligus memproduksi persetujuan sosial yang membungkam resistensi. Melalui metode kualitatif single case study berbasis studi kepustakaan, penelitian ini menemukan bahwa China mengkonsolidasikan dominasinya melalui ekspansi perdagangan, FDI yang mencapai lebih dari 70% total investasi masuk Kamboja pada 2025, serta dukungan politik dan militer yang mengunci ketergantungan secara multidimensional. Sihanoukville menjadi manifestasi konkret ketergantungan tersebut, di mana ekspansi modal China melalui Belt and Road Initiative mendorong ledakan industri kasino yang mengubah kota ini dari destinasi wisata alam menjadi sentra perjudian eksklusif yang melayani konsumen China. Ekosistem kasino yang sepenuhnya dikuasai modal China ini terbukti rapuh ketika larangan judi lintas negara dan pandemi Covid 19 menyebabkan runtuhnya seluruh rantai ekonomi kota, mengakibatkan eksodus 450.000 pekerja dan 1.000 proyek konstruksi terbengkalai. Implikasi dari ekspansi ini sangat nyata bagi masyarakat lokal seperti penggusuran paksa, subordinasi tenaga kerja, degradasi lingkungan, dan erosi identitas budaya Khmer. Meski demikian, resistensi tidak berkembang menjadi gerakan kolektif karena tiga mekanisme hegemoni bekerja simultan: dominasi ekonomi sebagai basis material, narasi pembangunan negara, dan normalisasi ketimpangan yang diproduksi oleh aliansi rezim Kamboja sebagai elit komprador. Penelitian ini membuktikan bahwa kapitalisme global mereproduksi keterbelakangan tidak hanya secara struktural, tetapi juga secara ideologis.
This study examines how global capitalism creates structural dependency relations that contribute to inequality in Cambodia and how local communities respond to them. Using Andre Gunder Franks dependency theory and Antonio Gramscis theory of hegemony, this study argues that Cambodia dependence on China is not caused by internal failures but is the result of its structural position as a peripheral state, which simultaneously creates material inequality and produces social consent that silences resistance. Through a qualitative single case study based on a literature review, this research finds that China consolidates its dominance through trade expansion, FDI which is projected to account for more than 70% of total foreign investment in Cambodia by 2025 as well as political and military support that reinforces multidimensional dependence. Sihanoukville serves as a concrete manifestation of this dependency, where the expansion of Chinese capital through the Belt and Road Initiative has fueled a casino industry boom that has transformed the city from a nature tourism destination into an exclusive gambling hub catering to Chinese consumers. This casino ecosystem, entirely dominated by Chinese capital, proved fragile when cross border gambling bans and the COVID 19 pandemic caused the collapse of the city entire economic chain, resulting in the exodus of 450,000 workers and 1,000 abandoned construction projects. The implications of this expansion are very real for local communities, such as forced evictions, the subordination of labor, environmental degradation, and the erosion of Khmer cultural identity. Nevertheless, resistance has not developed into a collective movement because three mechanisms of hegemony operate simultaneously: economic domination as the material basis, the state development narrative, and the normalization of inequality produced by the Cambodian regimes alliance with the comprador elite. This study demonstrates that global capitalism reproduces underdevelopment not only structurally but also ideologically.
Kata Kunci : kapitalisme global, ketergantungan struktural, ketimpangan, FDI, industri kasino, subordinasi masyarakat lokal Kamboja, Sihanoukville, Kamboja, China