Pengaruh Temperatur Tuang Terhadap Kekuatan Tarik Dan Kekerasan Pada Pengecoran Baling-Baling Kapal Kuningan
Dodi Septriyono, Prof. Dr. Suyitno , S.T, M.Sc.
2009 | Skripsi | S1 TEKNIK MESINPenggunaan teknologi pengecoran saat ini sangat luas dan terus berkembang seiring pertumbuhan industri. Produk pengecoran dimanfaatkan baik di industri besar, kecil maupun untuk masyarakat secara luas dalam kehidupan sehari-hari. Sebagai contoh piston, blok silinder motor, baling-baling kapal dan sebagainya. Penelitian ini bertujuan menganalisa salah satu faktor yang mempengaruhi hasil pengecoran yaitu temperatur tuang, terhadap sifat kekerasan dan kekuatan tarik pada pengecoran baling-baling kapal menggunakan bahan logam kuningan 60,76%Cu-38,94%Zn Pengecoran baling-baling kapal dilakukan dengan metode pola lilin dan beberapa variasi temperatur tuang, yaitu 1050oC, 1080oC, dan 1110oC. Setelah itu dilakukan pengujian tarik, pengamatan struktur mikro serta uji kekerasan terhadap spesimen tersebut. Hasil penelitian menunjukkan harga kekerasan Brinell rata-rata temperatur tuang 1110oC; 1080oC dan 1050 oC yaitu: 103,24 kg/mm2 ; 97,49 kg/mm2 ; 93,85 kg/mm2 . Rata-rata hasil kekuatan tarik pengecoran dengan temperatur tuang 1110 oC , 1080 oC dan 1050 oC yaitu: 36,96 kg/mm2 ; 34,61 kg/mm2 dan 31,28 kg/mm2 . Nilai regangan rata-rata temperatur tuang 1110 oC 21,29%; 1080 oC 9,55 % dan 1050 oC 8,43%. Berdasarkan pengujian struktur mikro dapat diketahui bahwa dari semua variasi temperatur mempunyai butir dengan fasa ? dan ?. Kuningan yang dicor dengan pengaruh temperatur tuang yang lebih tinggi, maka pendinginan akan berjalan lebih lama sehingga tersedia cukup waktu untuk terjadinya pertumbuhan butir. Apabila kuningan dicor dengan temperatur tuang lebih rendah, pendinginan akan berjalan dalam waktu lebih singkat dan pertumbuhan butir tidak berjalan secara sempurna.
Casting technology is currently widely used and continues to evolve alongside industrial growth. Cast products are utilized in large and small-scale industries as well as in everyday life; examples include pistons, motorcycle cylinder blocks, and ship propellers. This study aims to analyze the effect of pouring temperature—a key factor influencing casting outcomes—on the hardness and tensile strength of ship propellers cast from brass (60.76% Cu–38.94% Zn). The ship propellers were cast using the wax pattern method with three pouring temperature variations: 1050°C, 1080°C, and 1110°C. Subsequently, the specimens underwent tensile testing, microstructural analysis, and hardness testing. The results indicate average Brinell hardness values ??of 103.24 kg/mm², 97.49 kg/mm², and 93.85 kg/mm² for pouring temperatures of 1110°C, 1080°C, and 1050°C, respectively. The average tensile strength values ??for the castings produced at 1110°C, 1080°C, and 1050°C were 36.96 kg/mm², 34.61 kg/mm², and 31.28 kg/mm², respectively. Average strain values ??were 21.29% for 1110°C, 9.55% for 1080°C, and 8.43% for 1050°C. Microstructural analysis revealed that grains containing both ? and ? phases were present across all temperature variations. When brass is cast at a higher pouring temperature, cooling takes longer, allowing sufficient time for grain growth to occur. Conversely, when cast at a lower pouring temperature, cooling proceeds more rapidly, and grain growth does not fully develop.
Kata Kunci : Pengecoran logam, variasi temperatur tuang, kuningan, kekuatan tarik, Kekerasan, struktur mikro.