Normal Orbital Volume In Children In The Indonesian Population: A Volumetric Study Based On CT-Scan
Gifta Aulia Zhafira, dr. Felicia Widyaputri, Ph.D ; Prof. Dr. dr. Lina Choridah,Sp.Rad. (K)
2026 | Skripsi | PENDIDIKAN DOKTER
Latar Belakang
Mata terdiri dari tiga lapisan utama dan terletak di dalam rongga orbita, yang dilindungi oleh struktur tulang, jaringan adiposa, dan otot-otot di sekitarnya. Volume orbita mengacu pada total ruang di dalam orbita yang menampung bola mata beserta struktur pendukungnya; volume ini biasanya diukur dalam satuan mililiter menggunakan modalitas pencitraan seperti CT scan atau MRI. Pengukuran volume orbita yang akurat sangat penting dalam berbagai konteks klinis dan penelitian, termasuk diagnosis kelainan kraniofasial, perencanaan bedah, penilaian trauma, dan pemantauan pertumbuhan pada populasi anak. Studi terdahulu yang dilakukan di negara-negara sepertiInggris menunjukkan bahwa volume orbita meningkat secara bertahap dari masa bayi hingga remaja, dengan sebagian besar mencapai volume setara dewasa pada usia sekitar 15 tahun, baik pada laki-laki maupun perempuan. Meskipun memiliki signifikansi klinis, data normatif mengenai volume orbita yang spesifik untuk populasi anak Indonesia masih sangat terbatas. Sebagian besar studi yang ada di Indonesia berfokus pada kondisi patologis seperti fraktur, tumor, atau kelainan bawaan, dengan perhatian yang minim terhadap subjek sehat. Kurangnya data acuan dasar ini menjadi tantangan bagi klinisi dan peneliti dalam mengevaluasi penyimpangan dari pola pertumbuhan normal atau menilai hasil pengobatan pada pasien anak. Selain itu, perbedaan etnis, latar belakang genetik, dan faktor nutrisi dapat memengaruhi perkembangan kraniofasial, sehingga penetapan acuan normatif lokal menjadi hal yang penting. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan rata-rata volume orbita berdasarkan kelompok usia pada anak-anak Indonesia berusia 0–18 tahun menggunakan pencitraan *computed tomography* (CT). Melalui analisis volume orbita kiri pada kelompok usia terpilih, penelitian ini diharapkan dapat memberikan nilai acuan awal yang dapat mendukung pengambilan keputusan klinis serta penelitian di masa mendatang mengenai perkembangan orbita anak di Indonesia.
Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perubahan volume orbita dari masa anak-anak hingga akhir masa remaja dengan menggunakan rekam medis pasien CT-scan, serta meninjau prevalensi, gambaran klinis, epidemiologi, jenis kelamin, usia, dan kondisi patologis pada populasi Indonesia.
Metode
Penelitian ini merupakan studi deskriptif-analitik retrospektif dengan populasi anak-anak dan remaja berusia 0–18 tahun. Data demografis, gambaran klinis, kondisi patologis, usia, dan jenis kelamin akan diambil dari rekam medis pasien yang telah menjalani pemeriksaan CT-scan di RS Dr. Sardjito. Pengukuran dilakukan menggunakan teknik CT-scan, di mana volume orbita dihitung menggunakan perangkat lunak khusus yang mampu mengukur volume berdasarkan hasil CT-scan medis. Analisis deskriptif dilakukan dengan menyajikan data dalam bentuk tabel dan grafik yang menggambarkan distribusi volume orbita berdasarkan usia dan jenis kelamin. Analisis analitik dilakukan menggunakan uji-t atau ANOVA untuk membandingkan kelompok jenis kelamin yang berbeda.
Hasil
Penelitian ini menemukan bahwa seiring bertambahnya usia, ukuran volume orbita juga meningkat; hal ini turut dipengaruhi oleh faktor-faktor fisiologis. Dari total 81 subjek, diperoleh rata-rata volume rongga normal sebesar 14,75 ± 5,08 cm³. Rata-rata volume normal rongga orbita pada kelompok usia 0–4 tahun adalah 8,61 ± 3,10 cm³; pada kelompok usia 5–9 tahun sebesar 15,82 ± 1,35 cm³; dan pada kelompok usia 10–18 tahun sebesar 18,75 ± 3,19 cm³. Penelitian ini juga menemukan bahwa tidak terdapat perbedaan yang signifikan secara statistik antara volume orbita dan jenis kelamin. Dengan demikian, tidak ditemukan perbedaan ukuran volume orbita antara laki-laki dan perempuan.
Kesimpulan
Dalam penelitian ini, pengukuran volume rongga orbita hanya dilakukan pada mata kiri untuk menjaga konsistensi data dan meminimalkan variabilitas antar sisi. Berdasarkan pembagian kelompok usia anak, terdapat hubungan yang signifikan antara volume rongga orbita normal dan peningkatan usia (nilai P <0 P=0,105).>
Background
The eye consists of three main layers and is situated within the orbital cavity, protected by surrounding bony structures, adipose tissue, and muscles. Orbital volume refers to the total space within the orbit that houses the eyeball and its supporting structures; this volume is typically measured in milliliters using imaging modalities such as CT scans or MRI. Accurate measurement of orbital volume is crucial in various clinical and research contexts, including the diagnosis of craniofacial abnormalities, surgical planning, trauma assessment, and the monitoring of growth in pediatric populations. Previous studies conducted in countries such as the United Kingdom indicate that orbital volume increases gradually from infancy through adolescence, with most individuals reaching adult-equivalent volume by approximately 15 years of age, in both males and females. Despite its clinical significance, normative data regarding orbital volume specific to the Indonesian pediatric population remain very limited. Most existing studies in Indonesia focus on pathological conditions such as fractures, tumors, or congenital anomalies, with minimal attention paid to healthy subjects. This lack of baseline data poses a challenge for clinicians and researchers in evaluating deviations from normal growth patterns or assessing treatment outcomes in pediatric patients. Furthermore, differences in ethnicity, genetic background, and nutritional factors can influence craniofacial development, making the establishment of local normative references important. This study aims to determine the mean orbital volume by age group in Indonesian children aged 0–18 years using computed tomography (CT) imaging. By analyzing left orbital volume across selected age groups, this study is expected to provide baseline reference values ??that can support clinical decision-making and future research regarding pediatric orbital development in Indonesia.
Obejctive
This study aims to determine changes in orbital volume from childhood through late adolescence using patient CT scan records, as well as to examine the prevalence, clinical presentation, epidemiology, gender, age, and pathological conditions within the Indonesian population.
Method
This study is a retrospective, descriptive-analytical investigation involving a population of children and adolescents aged 0–18 years. Demographic data, clinical presentations, pathological conditions, age, and gender will be obtained from the medical records of patients who underwent CT scans at Dr. Sardjito Hospital. Measurements were performed using CT scanning, with orbital volume calculated via specialized software capable of determining volume based on medical CT scan data. Descriptive analysis involved presenting data in tables and graphs illustrating the distribution of orbital volume according to age and gender. Analytical analysis was conducted using t-tests or ANOVA to compare different gender groups.
Result
This study found that orbital volume increases with age, a trend influenced by physiological factors. Among the 81 subjects, the mean orbital cavity volume was 14.75 ± 5.08 cm³. The mean orbital cavity volume was 8.61 ± 3.10 cm³ for the 0–4 age group, 15.82 ± 1.35 cm³ for the 5–9 age group, and 18.75 ± 3.19 cm³ for the 10–18 age group. The study also found no statistically significant difference in orbital volume based on gender; thus, no difference in orbital volume was observed between males and females.
Conclusion
In this study, orbital cavity volume measurements were performed only on the left eye to ensure data consistency and minimize inter-side variability. Based on the pediatric age groups, a significant association was found between normal orbital cavity volume and increasing age (p-value <0 P=0,105). >
Kata Kunci : Normal Orbital Volume, CT-Scan measurement, 0-18 years, Indonesia, Yogyakarta