Analisis Gender dalam Pengelolaan Hutan Rakyat di Kelompok Tani Hutan Rakyat Sidodadi II Dusun Jetis Kalurahan Sendangsari Pajangan Bantul Yogyakarta
Ferdyan Ery Laksono, Ir. Wahyu Tri Widayanti, S.Hut., MP, IPU.
2026 | Skripsi | KEHUTANAN
Pengelolaan Hutan Rakyat yang optimal memerlukan sinergi pengelolaan dan kesetaraan gender yang kuat. Penelitian ini bertujuan untuk: 1) Menjelaskan pengelolaan Hutan Rakyat oleh KTHR Sidodadi II. 2) Menganalisis peran, profil akses, kontrol, dan pola pengambilan keputusan berbasis gender dalam pengelolaan Hutan Rakyat. 3) Merumuskan strategi untuk meningkatkan peran gender dalam pengelolaan Hutan Rakyat.
Data dikumpulkan melalui metode survei dan dianalisis menggunakan Harvard Gender Framework Analysis (HGFA) yang mencakup variabel peran produktif, reproduktif, sosial kemasyarakatan, dan pengambilan keputusan. Selanjutnya, analisis SWOT digunakan untuk menyusun strategi peningkatan peran perempuan dan laki-laki dalam pengelolaan Hutan Rakyat tersebut.
Hasil menunjukkan kegiatan kelola kawasan mencapai 100?ri persiapan lahan hingga pemanenan, kegiatan kelembagaan (100%) pada pertemuan, dan penyusunan peraturan (27,27%), serta kegiatan kelola usaha semua petani melakukan penjualan kayu (100%). Pada KTHR Sidodadi II, pembagian peran produktif didominasi oleh laki-laki (86,43% pada kehutanan dan 57,42% pada pertanian), sedangkan peran reproduktif didominasi oleh perempuan (83,46%). Pada peran sosial kemasyarakatan laki-laki (78,89%) dan perempuan (91,39%) memiliki peran yang hampir setara. Pada profil akses dan kontrol terhadap sumber daya, laki-laki (74,63%) dan perempuan (71,79%) memiliki pembagian yang hampir setara. Laki-laki (70,67%) dan perempuan (62,31%) memiliki kedudukan yang hampir sama dalam pengambilan keputusan di rumah tangga, namun pada pengambilan keputusan di KTH laki-laki lebih mendominasi (79,44%). Strategi SWOT berada pada Kuadran I, yang berarti progresif, peningkatan peran gender dilakukan dengan penguatan ekonomi melalui usaha dan pemasaran kolektif, peningkatan posisi tawar dan keadilan pembagian peran, serta efisiensi pekerjaan domestik.
Optimal community forest management requires strong management synergy and gender equality. This study aims to: 1) Explain community forest management by the KTHR Sidodadi II. 2) Analyze gender-based roles, access profiles, control, and decision-making patterns in community forest management. 3) Formulate strategies to enhance gender roles in community forest management.
Data were collected through a survey method and analyzed using the Harvard Gender Framework Analysis (HGFA), which includes variables such as productive, reproductive, social, and decision-making roles. A SWOT analysis was then used to develop strategies to enhance the roles of women and men in community forest management.
The results show that area management reached 100%, from land preparation to harvesting, institutional management (100%) at meetings, and regulation development (27,27%), as well as business management involving timber selling (100%). The productive role is dominated by men (86,43% in forestry and 57,42% in agriculture), while the reproductive role is dominated by women (83,46%). In social roles, men (78,89%) and women (91,39%) have almost equal roles. In the access and control profile over resources, men (74,63%) and women (71,79%) have almost equal distribution. Men (70,67%) and women (62,31%) have almost equal positions in household decision-making, but in decision-making in the KTH, men are more dominant (79,44%). The SWOT strategy shows Quadrant I, which means progressive, optimalizing gender roles could be done by economic strengthening via collective enterprise and marketing, improved bargaining power and equitable role distribution, as well as greater efficiency in domestic work.
Kata Kunci : Gender, Hutan Rakyat, Peran, Kesetaraan