Laporkan Masalah

Krisis Perkembangan Identitas Perempuan Imigran Generasi Ketiga dalam L'Art de Perdre Karya Alice Zeniter

Eni Saras Wati, Prof. Dr. Wening Udasmoro, S.S., M.Hum., DEA

2026 | Skripsi | SASTRA PERANCIS

Komunitas imigran menghadapi tantangan identitas yang kompleks ketika harus menegosiasikan budaya asal dan budaya dominan di negara tujuan. Beban ini semakin berat bagi imigran yang berasal dari wilayah dengan sejarah kolonial,karena relasi kuasa pascakolonial masih terus memengaruhi posisi sosial mereka hingga generasi berikutnya. Perempuan imigran, dalam hal ini, menghadapi situasi yang lebih kompleks. Mereka tidak hanya berhadapan dengan perbedaan budaya, tetapi juga tekanan gender dari dua lingkungan sekaligus. Kondisi ini membuat proses pembentukan identitas menjadi tidak stabil. Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi perkembangan identitas perempuan imigran generasi ketiga serta mengungkap kebisuan sejarah keluarga dan warisan kolonial yang memengaruhinya. Fokus penelitian diarahkan pada tokoh Naïma dalam novel L’Art de Perdre karya Alice Zeniter. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan teori perkembangan identitas Erik Erikson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkembangan identitas tokoh Naïma tidak linear, melainkan melompat dan bergeser. Ada empat tahap yang muncul dalam pembacaan terhadap novel tersebut: trust vs mistrust, identity vs role confusion, intimacy vs isolation, dan integrity vs despair. Kebisuan sejarah keluarga dalam konteks ini memutus transmisi narasi masa lalu sehingga menyebabkan perkembangan identitas yang tidak linear. Sementara, warisan kolonial memperkuat ketegangan identitas tokoh perempuan yang dibesarkan dalam budaya dominan tetapi tetap mengalami eksklusi sosial di kedua negara.


Immigrant communities face complex identity challenges when negotiating their culture of origin with the dominant culture of their host country. This burden intensifies for immigrants from regions with colonial histories, as postcolonial power relations continue to shape their social positioning across generations. Immigrant women, in particular, navigate an even more complex situation. They confront not only cultural differences but also simultaneous gender pressures from two distinct social environments. These conditions render the identity formation process inherently unstable. Based on these conditions, this study aims to explore the identity development of third-generation immigrant women and to uncover the silences of family history and colonial legacy that influence it. The study focuses on the character of Naïma in Alice Zeniter's novel L'Art de Perdre. This research employs a descriptive qualitative method grounded in Erik Erikson's theory of identity development crises. The findings reveal that Naïma's identity development does not follow a linear trajectory but rather marked by leaps and shifts across stages. Four stages emerge from the reading of the novel: trust vs. mistrust, identity vs. role confusion, intimacy vs. isolation, and integrity vs. despair. The silence surrounding family history in this context disrupts the transmission of narratives of the past, leading to a nonlinear development of identity. Meanwhile, the colonial legacy intensifies the identity tensions faced by female figures who were raised within the dominant culture yet continue to experience social exclusion in both countries.

Kata Kunci : Imigran, krisis perkembangan identitas, Erik Erikson, L’Art de Perdre, pascakolonial

  1. S1-2026-498454-abstract.pdf  
  2. S1-2026-498454-bibliography.pdf  
  3. S1-2026-498454-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2026-498454-title.pdf