Analisis Molekuler Resistensi Antimikroba Pada Staphylococcus aureus Isolat Asal Hewan Kesayangan dan Sapi Perah
Lydia Ester Puspita, Prof. Dr. drh. Siti Isrina Oktavia Salasia
2026 | Skripsi | KEDOKTERAN HEWAN
Staphylococcus aureus merupakan bakteri komensal yang juga berperan sebagai
patogen oportunistik pada hewan. Penggunaan antibiotik yang tidak rasional
dalam penanganan infeksi S. aureus dapat memicu terjadinya resistensi antimikroba.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik molekuler resistensi
antimikroba pada S. aureus yang diisolasi dari hewan kesayangan dan sapi
perah. Sebanyak 20 sampel Staphylococcus aureus digunakan dalam
penelitian ini, berasal dari swab lesi, mulut, serta hidung pasien anjing,
kucing, dan kelinci di klinik hewan wilayah Yogyakarta serta sampel susu sapi
perah dari peternakan rakyat di Boyolali. Isolasi dan identifikasi awal
dilakukan secara fenotipik melalui kultur bakteri, uji morfologi koloni,
pewarnaan Gram, serta uji biokimia (katalase dan koagulase), kemudian
dikonfirmasi secara genotipik menggunakan PCR spesifik S. aureus. Analisis
molekuler resistensi dilakukan dengan teknik polymerase chain reaction (PCR)
menggunakan primer spesifik untuk mendeteksi gen resistensi antibiotik, yaitu tetK
dan tetM (tetrasiklin),
blaZ (?-laktamase), serta mecA
(penanda methicillin resistance). Proses PCR melalui tahapan
amplifikasi dengan kondisi siklus denaturasi, annealing, dan ekstensi yang
terstandarisasi, serta visualisasi produk PCR menggunakan elektroforesis gel
agarose. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh isolat (100%; 20/20)
membawa gen tetK dan tetM, sementara gen blaZ
terdeteksi pada 45% (9/20) isolat dan gen mecA pada 85% (17/20)
isolat. Temuan ini mengindikasikan tingginya potensi resistensi terhadap
antibiotik golongan tetrasiklin dan ?-laktam, termasuk kemungkinan keberadaan methicillin-resistant
Staphylococcus aureus (MRSA). Resistensi antibiotik pada S. aureus merupakan
ancaman kesehatan dunia karena potensi penyebaran zoonosis. Hasil penelitian
ini diharapkan dapat menjadi dasar dalam pengendalian resistensi antimikroba
serta mendukung penggunakan antibiotik yang rasional di bidang kesehatan hewan.
Staphylococcus aureus is a commensal bacterium that also acts as an opportunistic pathogen in animals. Improper use of antibiotics in the treatment of S. aureus infections can trigger antimicrobial resistance. This study aimed to analyze the molecular characteristics of antimicrobial resistance in S. aureus isolated from companion animals and dairy cattle. A total of 20 Staphylococcus aureus samples were used in this study, obtained from wound swabs, nasal swabs, ear swabs, or other site from dogs, cats, and rabbits at veterinary clinics in the Yogyakarta area, as well as milk samples from dairy cattle in smallholder farms in Boyolali. Initial isolation and identification were perfomed phenotypically through bacterial culture, colony morphology observation, Gram staining, and biochemical tests (catalase and coagulase), followed by genotypic confirmation using S. aureus-specific primer. Molecular analysis of resistance was performed using the polymerase chain reaction (PCR) technique with specific primers to detect antibiotic resistance genes, namely tetK and tetM (tetracycline), blaZ (?-lactamase), and mecA (a marker of methicillin resistance). The PCR process included amplification, consisted of denaturation, annealing, and extension cycles with optimised protocol, and visualization of amplicon using agarose gel electrophoresis. The results showed that all isolates (100%; 20/20) carried the tetK and tetM genes, while the blaZ gene was detected in 45% (9/20) of isolates and the mecA gene in 85% (17/20) of isolates. Antibiotic resistance in S. aureus represents a global health threat due to its potential for zoonotic transmission. These findings indicate a high potential for resistance to tetracycline and ?-lactam antibiotics, including the possible presence of methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA). This study is expected to provide a basis for controlling antimicrobial resistance and to support the rational use of antibiotics in veterinary medicine.
Kata Kunci : gen resistensi antimikroba, hewan kesayangan, PCR, sapi perah, Staphylococcus aureus.