Kejadian Penyakit Bakteri dan Perubahan Patologis Organ Kelinci dari Kasus Laboratorium Patologi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gadjah Mada Tahun 2024
Berliana Kinanthi Hayuningtyas, Dr. drh. Yuli Purwandari Kristianingrum, M.P.
2026 | Skripsi | KEDOKTERAN HEWAN
Populasi kelinci yang tinggi meningkatkan risiko terjadinya penyakit yang menyebabkan penurunan produktivitas, bahkan terjadi kematian. Infeksi bakterial pada kelinci bisa lebih kompleks dan dapat muncul sebagai infeksi primer maupun sekunder. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kejadian penyakit bakterial dan perubahan patologis organ kelinci berdasarkan data sekunder dari koasistensi diagnosa laboratorium hasil pemeriksaan kelinci yang dinekropsi pada Laboratorium Patologi Fakultas Kedokteran Hewan UGM di Daerah Istimewa Yogyakarta tahun 2024. Data kasus penyakit kelinci yang dinekropsi di Laboratorium Patologi FKH UGM dikelompokkan berdasarkan agen penyebab penyakit pada kelinci dan dianalisis secara kuantitatif untuk mengetahui kejadian penyakit bakterial pada kelinci dan secara deskriptif terkait perubahan patologis organ-organnya.
Hasil penelitian menunjukkan kejadian sebanyak 50/69 penyakit disebabkan oleh bakteri pada kelinci dari kasus di Laboratorium Patologi FKH UGM. Agen penyebab infeksi bakteri adalah Staphylococcus aureus 47/50 kasus dan Pasteurella multocida 3/50 kasus. Gejala klinis Staphylococcus aureus didominasi oleh penyakit yang berkaitan dengan sistem integumen seperti keropeng, ulser, dan eksudat purulen pada kulit. Perubahan patologis secara makroskopis dan mikroskopis didominasi oleh dermatitis dan pneumonia. Pasteurella multocida memiliki gejala klinis eksudat pada hidung, dan snuffles, dengan perubahan patologis berupa pneumonia.
A high rabbit population increases the risk of diseases that lead to reduced productivity and even death. Bacterial infections in rabbits can be complex and may present as either primary or secondary infections. This study aims to determine the incidence of bacterial diseases and pathological changes in rabbit organs based on secondary data from the concordance of laboratory diagnoses of rabbits that underwent necropsy at the Pathology Laboratory of the Faculty of Veterinary Medicine, UGM, in the Special Region of Yogyakarta in 2024. Data on rabbit disease cases subjected to necropsy at the UGM Faculty of Veterinary Medicine Pathology Laboratory were grouped by causative agent and analyzed quantitatively to determine the incidence of bacterial diseases in rabbits, and descriptively to assess pathological changes in their organs.
The results of the study showed that 50 out of 69 cases of disease in rabbits at the UGM Faculty of Veterinary Medicine Pathology Laboratory were caused by bacteria. The causative agents of bacterial infection were Staphylococcus aureus in 47 out of 50 cases and Pasteurella multocida in 3 out of 50 cases. The clinical symptoms of Staphylococcus aureus were dominated by diseases related to the integumentary system, such as scabs, ulcers, and purulent exudate on the skin. Macroscopic and microscopic pathological changes were dominated by dermatitis and pneumonia. Pasteurella multocida causes clinical symptoms such as nasal discharge and snuffles, with pathological changes including pneumonia.
Kata Kunci : Kelinci, Kejadian, Staphylococcus aureus, Pasteurella multocida