Subalternitas Perempuan dalam Novel Layar Terkembang Karya Sutan Takdir Alisjahbana: Kajian Poskolonialisme Gayatri Spivak
Iswatun Siti Qomariah, Dr. Drs. Sudibyo, M. Hum.
2022 | Skripsi | S1 SASTRA INDONESIA
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji subalternitas perempuan dalam novel Layar Terkembang karya Sutan Takdir Alisjahbana menggunakan perspektif subalternitas Gayatri Chakravorty Spivak. Penelitian ini dilatarbelakangi oleh posisi perempuan pada masyarakat kolonial tahun 1930-an yang mulai memperoleh akses pendidikan dan ruang publik, tetapi masih mengalami pembatasan suara dan pilihan hidup akibat dominasi patriarki dan kolonialisme. Masalah utama yang dianalisis mengenai represi yang dialami oleh tokoh utama perempuan yaitu Tuti dan Maria, serta upaya strategi resistensi yang dapat dilakukan oleh tokoh utama perempuan untuk menghadapi patriarki dan kolonialisme. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif analisis.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perempuan dalam novel mengalami subalternitas akibat dominasi patriarki dan modernitas kolonial yang membatasi ruang perempuan dalam menentukan pilihan hidup dan memperoleh otoritas atas suaranya sendiri. Bentuk represi yang ditemukan meliputi represi ideologis, psikologis melalui internalisasi kepatuhan, pembatasan akses dan orientasi, serta mediasi suara perempuan oleh pengarang. Resistensi perempuan dilakukan melalui pendidikan, ekonomi, organisasi, dan keberanian menyampaikan gagasan mengenai kesetaraan perempuan. Namun, resistensi tersebut belum sepenuhnya membebaskan perempuan dari dominasi patriarki dan kolonialisme karena emansipasi perempuan masih bergerak dalam batas-batas modernitas kolonial. Dengan demikian, novel Layar Terkembang memperlihatkan ambivalensi emansipasi perempuan pada masa kolonial, yaitu perempuan mulai memperoleh ruang untuk bersuara, tetapi suaranya masih dimediasi oleh struktur kekuasaan dominan.
This study aims to examine the subalternity of women in the novel Layar Terkembang by Sutan Takdir Alisjahbana using Gayatri Chakravorty Spivak’s perspective on subalternity. The research is motivated by the position of women in colonial society in the 1930s, who began to gain access to education and public spaces but still experienced restrictions on their voices and life choices due to the dominance of patriarchy and colonialism. The main issues analyzed concern the repression experienced by the female protagonists, Tuti and Maria, as well as the resistance strategies that these female protagonists can employ to confront patriarchy and colonialism. This study employs a qualitative method with a descriptive-analytical approach.
The research findings show that women in the novel experience subalternity due to the dominance of patriarchy and colonial modernity, which limit women’s space to determine their own life choices and gain authority over their own voices. The forms of repression identified include ideological repression, psychological repression through the internalization of obedience, restrictions on access and orientation, and the mediation of women’s voices by the author. Women’s resistance is carried out through education, economic independence, organization, and the courage to voice ideas about gender equality. However, this resistance has not fully liberated women from patriarchal and colonial domination, as women’s emancipation still operates within the boundaries of colonial modernity. Thus, the novel Layar Terkembang illustrates the ambivalence of women’s emancipation during the colonial period women began to gain space to speak, but their voices were still mediated by the dominant power structures.
Kata Kunci : subalternitas; perempuan; represi; resistensi; poskolonialisme; Gayatri Spivak; Layar Terkembang.