PRINSIP KEADILAN EKOLOGIS DALAM GEOMITOLOGI PADA KEARIFAN LOKAL TRADISI LABUHAN ALIT SEBAGAI STRATEGI MITIGASI BENCANA DI MASYARAKAT PESISIR DESA PARANGTRITIS, BANTUL Skripsi ini untuk memenuhi persayaratan
Adi Nugraha Pamungkas, Fitri Alfariz, S.Fil., M.Phil.; Drs. Budisutrisna, M.Hum.
2026 | Skripsi | ILMU FILSAFAT
Skripsi berjudul “Prinsip Keadilan Ekologis dalam Geomitologi pada Kearifan Lokal Tradisi Labuhan Alit sebagai Strategi Mitigasi Bencana di Masyarakat Pesisir Desa Parangtritis, Bantul” yang disusun di Fakultas Filsafat, Universitas Gadjah Mada, dilatarbelakangi oleh meningkatnya risiko bencana alam di kawasan pesisir selatan Yogyakarta serta berkurangnya kesadaran masyarakat terhadap keseimbangan alam akibat modernisasi dan aktivitas pariwisata. Tradisi Labuhan Alit yang diwariskan oleh Keraton Yogyakarta dan masih dijalankan masyarakat Parangtritis dipandang sebagai wujud kearifan lokal yang mengandung nilai-nilai keadilan ekologis. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan peran geomitologi dalam membentuk kesadaran ekologis masyarakat pesisir, mengidentifikasi nilai-nilai keadilan ekologis yang terkandung dalam tradisi Labuhan Alit, serta menganalisis penerapannya sebagai strategi mitigasi bencana berbasis komunitas.
Metode penelitian
yang digunakan bersifat kualitatif dengan pendekatan filosofis. Data diperoleh
melalui studi pustaka terhadap sumber primer dan sekunder, observasi lapangan,
serta wawancara dengan tokoh adat, juru kunci, dan pihak Parangtritis Geomaritime
Science Park. Analisis dilakukan dengan menggunakan metode interpretasi,
kesinambungan historis, holistika, dan refleksi filosofis untuk menelusuri
hubungan antara mitologi, sistem pengetahuan lokal, serta perilaku masyarakat
dalam menjaga keseimbangan alam.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa geomitologi Labuhan Alit merepresentasikan prinsip-prinsip keadilan ekologis Sonny Keraf, meliputi keadilan prosedural, distributif antar-kelompok, gender, antar-generasi, dan proteksi khusus bagi masyarakat adat. Tradisi ini menegaskan pengakuan terhadap alam sebagai subjek kehidupan, penghormatan terhadap laut sebagai ruang sakral, serta tanggung jawab moral dalam menjaga keberlanjutan ekosistem. Melalui praktik budaya seperti Labuhan Alit, masyarakat pesisir Parangtritis menerapkan nilai-nilai ekologis yang berfungsi sebagai strategi mitigasi bencana berbasis kearifan lokal yang adil, berkelanjutan, dan selaras dengan harmoni antara manusia dan alam.
The undergraduate thesis entitled “The Principle of Ecological Justice in Geomythology within the Local Wisdom of the Labuhan Alit Tradition as a Disaster Mitigation Strategy in the Coastal Community of Parangtritis, Bantul”, completed at the Faculty of Philosophy, Universitas Gadjah Mada, is based on the increasing risk of natural disasters along the southern coast of Yogyakarta and the declining ecological awareness of local communities due to modernization and tourism activities. The Labuhan Alit tradition, inherited from the Yogyakarta Palace and practiced by the Parangtritis community, reflects local wisdom that embodies the principles of ecological justice. This study aims to explain the role of geomythology in shaping ecological awareness, identify the values of ecological justice contained within the Labuhan Alit tradition, and analyze its application as a community-based disaster mitigation strategy.
The research employs
a qualitative method with a philosophical approach. Data were collected through
literature review of primary and secondary sources, field observations, and
interviews with traditional leaders, ritual custodians, and representatives of
the Parangtritis Geomaritime Science Park. The analysis utilized interpretative,
historical continuity, holistic, and philosophical reflection methods to
explore the relationship between mythology, local knowledge systems, and
community behavior in maintaining environmental balance.
The research findings indicate that the geomythology of Labuhan Alit reflects Sonny Keraf’s principles of ecological justice, which include procedural justice, distributive justice among groups, gender justice, intergenerational justice, and special protection for indigenous communities. This tradition affirms the recognition of nature as a living subject, reverence for the sea as a sacred space, and moral responsibility in maintaining ecological sustainability. Through cultural practices such as Labuhan Alit, the coastal community of Parangtritis applies ecological values that function as a form of disaster mitigation strategy rooted in local wisdom ethical, sustainable, and harmonious between humans and nature.
Kata Kunci : Kata kunci: geomitologi, Labuhan Alit, keadilan ekologis, mitigasi bencana, Parangtritis