Laporkan Masalah

Pengaruh Lintas Bahasa pada Produksi Bahasa Inggris Santriwati dalam Program Imersi Bahasa Inggris di Pondok Pesantren Darul Hijrah Putri, Kalimantan Selatan

Nur Alfa Rahmah, Prof. Dr. Syamsul Hadi, S.U., M.A.; Dr. Adi Sutrisno, M.A.

2026 | Disertasi | S3 Ilmu-ilmu Humaniora

Penelitian ini membahas pengaruh lintas bahasa dalam program imersi bahasa Inggris di sebuah pesantren modern yang berada dalam lingkungan sosiolinguistik Banjar di Kalimantan Selatan. Penelitian ini bertujuan menjelaskan: (1) pelaksanaan program imersi bahasa Inggris dalam sistem pesantren sebagai komunitas praktik; (2) bentuk-bentuk pengaruh bahasa Banjar, bahasa Indonesia, dan bahasa Arab dalam produksi bahasa Inggris santriwati; serta (3) proses sosial yang membuat bentuk-bentuk tersebut berulang, dikenali, dan menjadi bagian dari repertoar linguistik bersama.

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan rancangan studi kasus mini-etnografis di Pondok Pesantren Darul Hijrah Putri, Martapura. Data diperoleh dari 379 catatan percakapan tertulis santriwati yang dikumpulkan melalui tugas percakapan semi-terarah yang terinspirasi oleh Discourse Completion Task (DCT), wawancara dengan guru dan santriwati, observasi, serta dokumen kelembagaan. Data dianalisis untuk mengidentifikasi pengaruh lintas bahasa pada tataran leksikal, pragmatik, dan morfosintaksis, termasuk penggunaan partikel, reduplikasi, dan afiksasi. Analisis interpretif selanjutnya dilakukan dengan menggunakan perspektif pengaruh lintas bahasa, komunitas praktik, dan teori berbasis penggunaan.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa program imersi bahasa Inggris di pesantren berlangsung sebagai imersi parsial yang terutama diwujudkan melalui kehidupan asrama, organisasi santriwati, kegiatan harian, dan interaksi sebaya. Bahasa Banjar berperan kuat dalam membentuk organisasi ujaran, partikel pragmatik, reduplikasi, dan ungkapan terjemahan langsung. Bahasa Indonesia memperkuat sejumlah pola karena kedekatan struktural dan kebiasaan penggunaannya, sedangkan bahasa Arab hadir terutama melalui kosakata religius dan institusional. Penggunaan partikel seperti lah, pang, kah, dan nah, serta bentuk seperti after you dong, people-nya, there is or not?, hurry up only!, dan angry-angry, menunjukkan bahwa bahasa Inggris santriwati tidak terbentuk secara acak, tetapi berpola, berulang lintas penutur dan konteks, serta memiliki fungsi komunikatif.

Penelitian ini menyimpulkan bahwa Darul Hijrah English merupakan repertoar berbasis komunitas yang muncul dari interaksi antara pengaruh lintas bahasa dan dinamika komunitas praktik pesantren. Pengaruh lintas bahasa menyediakan sumber daya linguistik, sedangkan kehidupan komunitas pesantren menyediakan rutinitas berulang, pemodelan sebaya, keterpahaman bersama, toleransi, dan koreksi yang memungkinkan bentuk-bentuk tersebut beredar dan mengalami stabilisasi sosial. Dengan demikian, bahasa Inggris santriwati tidak semata-mata dipahami sebagai penyimpangan dari bahasa Inggris standar, tetapi sebagai repertoar yang dinegosiasikan secara sosial dalam lingkungan pesantren multilingual.

This dissertation examines crosslinguistic influence in the English immersion program of a modern pesantren situated in a Banjarese sociolinguistic environment in South Kalimantan. It aims to explain: (1) how the English immersion program is organized and enacted within the pesantren system as a community of practice; (2) how Banjarese, Indonesian, and Arabic influence the students’ English production; and (3) how these crosslinguistic features recur, become recognizable, and form part of a shared linguistic repertoire.

This study employed a qualitative approach with a mini-ethnographic case study design at Pondok Pesantren Darul Hijrah Putri, Martapura. The data were collected from 379 student-generated written conversation records elicited through a DCT-inspired semi-guided conversation task, interviews with teachers and students, observations, and institutional documents. The data were analyzed to identify crosslinguistic influence at lexical, pragmatic, and morphosyntactic levels, including particles, reduplication, and affixation. An interpretive analysis was then conducted using the perspectives of crosslinguistic influence, community of practice, and usage-based theory.

The findings show that the English immersion program operates as partial immersion, mainly enacted through dormitory life, student organization, daily activities, and peer interaction. Banjarese strongly influences utterance organization, pragmatic particles, reduplication, and directly translated expressions. Indonesian reinforces several patterns because of structural proximity and habitual use, while Arabic appears mainly through religious and institutional vocabulary. The use of particles such as lah, pang, kah, and nah, as well as forms such as after you dong, people-nya, there is or not?, hurry up only!, and angry-angry, indicates that the students’ English is not random, but patterned, recurrent across speakers and contexts, and communicatively functional.

This study concludes that Darul Hijrah English is a community-based repertoire emerging from the interaction between crosslinguistic influence and the dynamics of the pesantren community of practice. Crosslinguistic influence provides linguistic resources, while pesantren community life provides recurrent routines, peer modelling, mutual intelligibility, tolerance, and correction that allow these forms to circulate and become socially stabilized. Thus, the students’ English should not be understood merely as a deviation from Standard English, but as a socially negotiated repertoire within a multilingual pesantren environment.

Kata Kunci : crosslinguistic influence, English immersion, modern pesantren, community of practice, Banjarese, Darul Hijrah English

  1. S3-2026-450385-abstract.pdf  
  2. S3-2026-450385-bibliography.pdf  
  3. S3-2026-450385-tableofcontent.pdf  
  4. S3-2026-450385-title.pdf