Hubungan frekuensi dan asupan gizi makan pagi dengan kadar Hemoglobin (Hb) darah dan konsentrasi di Sekolah pada murid kelas V dan VI SDN Jetis I dan SDN Jetishardjo I Yogyakarta
KURNIASARI, Rita, Dra. Indria L. Gamayanti, MSi
2005 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan MasyarakatLatar Belakang: salah satu zat gizi yang mempunyai peranan dalam konsentrasi dan prestasi belajar adalah besi (Fe). Kurang gizi pada anak sekolah menyebabkan anak menjadi lemah, cepat lelah dan sakit-sakitan. Salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan gizi anak dalam sehari antara lain dengan memberikan makan pagi sebelum berangkat sekolah. Tujuan Penelitian: untuk mengetahui hubungan frekuensi dan asupan gizi makan pagi terhadap kadar hemoglobin darah dan konsentrasi di sekolah. Metode Penelitian: Penelitian observasional dengan menggunakan pendekatan coss sectional dengan sampel murid kelas V dan VI Sekolah Dasar Negeri Jetis I dan Sekolah Dasar Negeri Jetisharjo I Yogyakarta dengan analisis independent t test, Kai kuadrat, korelasi . Hasil Penelitian : Anak yang tidak sering makan pagi mempunyai risiko 1,7 kali untuk mempunyai kadar hemoglobin darah <12 gr/dl dibandingkan dengan yang sering makan pagi. Rata-rata kadar hemoglobin terbesar pada kelompok frekuensi makan pagi 6 kali (12,7 ± 0,9) dan rata-rata kadar hemoglobin terkecil pada kelompok frekuensi makan pagi 2 kali (11,8 ± 0,5). Rata-rata asupan gizi makan pagi lebih tinggi pada kelompok kadar hemoglobin ³12 gr/dl dibandingkan pada kelompok kadar hemoglobin <12 gr/dl. Rata-rata konsentrasi di sekolah lebih tinggi pada kelompok kadar hemoglobin ³12 gr/dl, dibandingkan pada kelompok kadar hemoglobin <12 gr/dl. Rata-rata konsentrasi di sekolah lebih tinggi pada kelompok yang sering makan pagi dibandingkan pada kelompok yang tidak sering makan pagi, ratarata konsentrasi di sekolah terbesar pada kelompok yang frekuensi makan pada 6 kali (15,8 ± 2,9) dan rata-rata konsentrasi di sekolah terkecil pada kelompok frekuensi makan pagi 2 kali (13,4 ± 1,4). Kesimpulan : Ada hubungan yang signifikan antara frekuensi makan pagi dengan kadar hemoglobin, ada hubungan yang signifikan antara asupan energi dan protein makan pagi dengan kadar hemoglobin, tidak ada hubungan yang signifikan antara asupan Fe dengan kadar hemoglobin, ada hubungan yang signifikan antara frekuensi makan pagi dengan konsentrasi di sekolah, ada hubungan yang signifikan antara asupan energi dan protein makan pagi dengan konsentrasi di sekolah, tidak ada hubungan yang signifikan antara asupan Fe makan pagi dengan konsentrasi di sekolah, ada hubungan yang signifikan antara kadar hemoglobin dengan konsentrasi di sekolah.
Background: One of nutritional substances which plays role in concentration and academic achievement is iron (Fe). Nutrition deficiency in school children causes them to be weak, easily getting tired and ailing. One way to fulfil daily nutrition need of children is giving them breakfast before they go to school. Objective: To know effects of having breakfast frequency and breakfast nutrition intake to haemoglobin and concentration in school. Method: The study was a survey which used a cross sectional approach with samples of students in grades V and VI at Jetis I and Jetisharjo I Public Elementary Schools, Yogyakarta using independent t-test, chi square, correlation and anova analyses. Result: Children not usually having breakfast had risk of having haemoglobin less than 12 gr/dl as many as 1.7 times than those having breakfast. Average of highest haemoglobin level for group with 6 times having breakfast was 12.7 gr/dl + 0.9 and average of lowest haemoglobin level for group with 2 times having breakfast was 11.8 gr/dl + 0.5. Average of breakfast nutrition intake was higher in group having haemoglobin ? 12 gr/dl compared to those having haemoglobin < 12 gr/dl. Average of concentration level in school was higher in group having breakfast more often than those having breakfast less often. Average of concentration level in school was highest in group having breakfast 6 times (15.8 + 2.9) and was lowest in group having breakfast 2 times (13.4 + 1.4). Conclusion: There was significant relationship between frequency of having breakfast and haemoglobin level; between energy and protein intake and haemoglobin level; between frequency of having breakfast and concentration level in school; between energy and protein intake and haemoglobin level; between haemoglobin level and concentration level. There was no significant relationship between breakfast iron intake and haemoglobin level; between breakfast iron intake and concentration in school.
Kata Kunci : Gizi Anak,Asupan Gizi Makan Pagi,Hb