Dampak formularium terhadap persediaan farmasi, biaya farmasi, dan pendapatan farmasi di RS Islam Klaten
HANDAYANI, Fitri, dr. Sulanto Saleh Danu, SpFK
2005 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan MasyarakatLatar Belakang: RSI Klaten (164 tempat tidur) sejak tahun 1999 telah menerapkan formularium. Sebagai RS swasta, dampak ekonomis dari formularium diharapkan memberi kontribusi pada peningkatan pendapatan RS. Dalam 4 tahun terakhir, BOR dan kunjungan pasien cenderung menurun, namun biaya farmasi justru meningkat. Untuk itu akan diteliti bagaimana dan sejauh mana dampak penerapan formularium terhadap persediaan farmasi, biaya farmasi, dan pendapatan farmasi di RSI Klaten. Metode: Penelitian studi kasus dengan rancangan studi kasus tunggal, bersifat eksploratoris, secara retrospektif. Data diambil dari wawancara mendalam, kuesioner, resep, laporan stok, dan laporan instalasi farmasi. Data kuantitatif disajikan dalam bentuk tabel dan grafik, dengan analisis tren. Data kualitatif dilakukan analisis isi dan disajikan secara tekstual. Hasil: Formularium diterapkan dengan sistem seleksi obat yang longgar. Pada tahun pertama formularium memberikan dampak yang baik terhadap kinerja persediaan dengan naiknya ITOR dari 7,40 menjadi 8,64, serta turunnya nilai persediaan dari Rp.363.381.530,- menjadi Rp.336.192.620,. Mulai tahun kedua ITOR mengalami naik-turun yaitu 8,21; 9,19; 8,77; 9,05; 8,50 tetapi semuanya masih di bawah standar ITOR yang baik untuk pelayanan swasta yaitu 12. Mulai tahun kedua nilai persediaan juga selalu meningkat yaitu Rp.402.552.615,-; Rp.534.113.727,-; Rp.617.904.951,-; Rp.678.173.361,-; Rp.722.533.845,-. Hal ini terjadi karena banyaknya jumlah item obat. Tingkat pelayanan pelanggan selalu tinggi (di atas 99%) karena kebijakan manajemen untuk memenuhinya. Pendapatan farmasi selalu meningkat, tetapi pertumbuhan biaya farmasi cenderung lebih tinggi dari pertumbuhan pendapatan. Tahun 2002-2004 ketika pendapatan farmasi mengalami pertumbuhan 10,45% ; 13,27% ; 2,77%, biaya farmasi mengalami pertumbuhan lebih besar yaitu 10,53% ; 13,32% ; 3,25%. Hal ini mengakibatkan profit margin (yang merupakan indikator efisiensi) juga menurun dari 11,75% (tahun 2001) menjadi 11,69% ; 11,65% ; 11,24%. Ketika omset besar, laba bersih farmasi tetap meningkat. Tetapi ketika kenaikan omset tidak terlalu besar seperti terjadi tahun 2004, laba bersih farmasi terpengaruh oleh inefisiensi dan turun dari Rp.843.488.998,- menjadi Rp.836.373.861,- (turun 0,84%). Kesimpulan: Sistem penerapan formularium yang longgar di RSI Klaten dapat mempertahankan tingkat pelayanan pelanggan yang tinggi, tetapi belum dapat menghasilkan ITOR yang optimal, dan belum dapat membatasi nilai persediaan. Sistem yang longgar ini dapat meningkatkan pendapatan, tetapi juga meningkatkan biaya dan menurunkan profit margin. Penerapan formularium di RSI Klaten belum dapat dimanfatkan secara optimal pada aspek ekonomis dan aspek efisiensinya.
Background: Klaten Islamic Hospital (164 beds) has implemented formularium since 1999. As a private hospital, economic impact of formularium was expected to contribute to increase of hospital income. During the last 4 years, bed occupancy rate and patient visits tended to decrease, but pharmaceutical cost increased. Methods: This was a case study research which used an exploratory and retrospective single case study design. Data were gathered through indepth interview, questionnaires, prescription, stock report and pharmacy department report. Quantitative data were presented in tables and graphs using trend analysis. Qualitative data were analyzed in content and presented textually. Results: Formularium was implemented using lenient drug selection system. During the first year formularium brought good impact to stock performance with increase of Inventory Turn Over Ratio (ITOR) from 7.40 to 8.64 and decrease of stock value from Rp 363,381,530 to Rp 336,192,620. In the second year ITOR fluctuated, i.e. 8.21 ; 9.19 ; 8.77 ; 9.05 ; 8.50 but all were still under good ITOR standard for private service (12). In the second year stock value also increased, i.e. Rp 402,552,615 ; Rp 534,113,727 ; Rp 617,904,951 ; Rp 678,173,361 ; Rp 722,533,845. This might happen because of greater number of drug items. Level of customer service was always high (above 99%) because of management policy to fulfill it. Pharmaceutical income always increased, but pharmaceutical cost growth tended to be higher than income growth. In 2002 – 2004, when pharmaceutical income grew by 10.45%; 13.27%; 2.77%, pharmaceutical cost grew bigger,i.e. 10.53% ; 13.32% ; 3.25%. This caused profit margin (as efficiency indicator) to decrease from 11.75% (2001) to 11.69% ; 11.65% ; 11.24%. When income was high, pharmaceutical net profit still increased. But when income increase was not so high as it happened in 2004, pharmaceutical net profit was affected by inefficiency and it decreased from Rp 843,488,998 to Rp 836,373,861 (0.84% decrease). Conclusion: Lenient formularium implementation system at Klaten Islamic Hospital had not provided optimum ITOR, and had not limited stock value. Lenient system could increase not only income, but also cost and reduced profit margin. Formularium implementation at Klaten Islamic hospital could not be well utilized both from economic and efficiency aspects.
Kata Kunci : Manajemen Rumah Sakit,Pengelolaan Obat,Pendapatan Rumah Sakit