Implikasi Aksesibilitas Program Jaminan Sosial Lanjut Usia Terhadap Kesejahteraan Subjektif Keluarga Sandwich Generation di Kota Yogyakarta
Tabina Ayesha, Nurhadi, S.Sos., M.Si. Ph.D
2026 | Skripsi | ILMU SOSIATRI
Yogyakarta sebagai provinsi dengan persentase penduduk lansia tertinggi di Indonesia menghadapi tantangan dalam pemerataan aksesibilitas program perlindungan sosial, salah satunya Program Jaminan Sosial Lanjut Usia (JSLU). Kondisi ini berdampak pada pergeseran beban perawatan kepada keluarga dan menempatkan mereka dalam posisi sandwich generation, yang berpotensi mempengaruhi kesejahteraan subjektif mereka. Penelitian ini bertujuan untuk memahami bagaimana aksesibilitas program JSLU dimaknai dan dialami oleh keluarga sandwich generation dalam kaitannya dengan kesejahteraan subjektif mereka di Kota Yogyakarta.
Penelitian ini menggunakan konsep aksesibilitas dari The CESCR dan konsep subjective well-being dari Ed Diener sebagai kerangka analisis, dengan pendekatan kualitatif studi kasus melalui teknik pengumpulan data berupa wawancara mendalam, observasi, analisis dokumen, dan dokumentasi. Informan penelitian terdiri dari lima keluarga sandwich generation dari penerima manfaat JSLU di Kota Yogyakarta.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa aksesibilitas program JSLU berjalan baik pada dimensi cakupan, keterjangkauan, dan akses fisik, namun masih belum memadai pada dimensi kelayakan serta partisipasi dan informasi. Bantuan JSLU dimaknai secara multidimensional oleh informan, mencakup makna ekonomi, psikologis, relasional, dan sosial. Kesejahteraan subjektif keluarga lebih ditentukan oleh keberhasilan menjalankan peran ganda dalam pemenuhan kebutuhan dasar keluarga. Program JSLU berperan sebagai faktor pendukung dalam membantu keluarga sandwich generation menjalankan peran gandanya dengan lebih baik. Maka dari itu, disimpulkan bahwa program JSLU tidak secara langsung menentukan kesejahteraan subjektif keluarga sandwich generation, namun berkontribusi sebagai jembatan dalam mendukung keberhasilan peran ganda yang dijalankan oleh keluarga.
Yogyakarta, as the province with the highest percentage of elderly residents in Indonesia, faces challenges in ensuring equitable access to social protection programs, one of which is the Social Security Program for the Elderly (JSLU). This shifts the burden of care to families and places them in a sandwich generation position, potentially impacting their subjective well-being. This study aims to understand how the accessibility of the JSLU program is interpreted and experienced by sandwich generation families in relation to their subjective well-being in Yogyakarta City.
This study uses the accessibility concept from The CESCR and the subjective well-being concept from Ed Diener as an analytical framework, using a qualitative case study approach through data collection techniques such as in-depth interviews, observation, document analysis, and documentation. The research informants consisted of five sandwich generation families who are JSLU beneficiaries in Yogyakarta City.
The results indicate that the accessibility of the JSLU program is good in terms of coverage, affordability, and physical access, but remains inadequate in terms of eligibility, participation, and information. JSLU assistance is interpreted multidimensionally by informants, encompassing economic, psychological, relational, and social dimensions. A family's subjective well-being is largely determined by their success in fulfilling their dual roles in meeting their basic family needs. The JSLU program acts as a supporting factor in helping sandwich generation families better fulfill their dual roles. Therefore, it is concluded that the JSLU program does not directly determine the subjective well-being of sandwich generation families, but rather contributes as a bridge to support the success of the dual roles carried out by families.
Kata Kunci : Perlindungan Sosial, Lansia, JSLU, Kesejahteraan Subjektif, Keluarga Sandwich Generation