Laporkan Masalah

Transformasi Koordinat Sumur Minyak Dari ITRF1988 ke ITRF2020 Menggunakan Metode Molodensky-Badekas

Gilang Ardinata, Prof. Ir. Nurrohmat Widjajanti, M.T., Ph.D., IPU, ASEAN Eng., APEC Eng.

2026 | Skripsi | TEKNIK GEODESI

Kegiatan eksplorasi dan eksploitasi minyak dan gas (migas) di Indonesia telah berlangsung sejak masa kolonial Belanda dengan menggunakan sistem pengukuran koordinat dan referensi geodetik yang berbeda dari sistem saat ini. Perbedaan sistem referensi tersebut menyebabkan koordinat sumur minyak lama menjadi tidak konsisten dengan kerangka referensi terkini, sehingga berpotensi menimbulkan kesalahan dalam pencatatan posisi, pengukuran penampang sedimen, pemeliharaan basis data koordinat, serta estimasi cadangan migas. Penelitian ini dilakukan pada wilayah dengan cakupan regional, sehingga metode Molodensky-Badekas dipilih karena menggunakan titik sentroid sebagai pusat transformasi dan sesuai untuk diterapkan pada jaringan lokal. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mentransformasikan koordinat sumur minyak dari kerangka referensi ITRF1988 ke ITRF2020 menggunakan metode Molodensky-Badekas. Selain itu, penelitian ini juga menganalisis pengaruh variasi jumlah dan distribusi titik sekutu terhadap ketelitian hasil transformasi koordinat. 

Data yang digunakan berupa koordinat titik sumur minyak dengan sebelas titik sekutu yang dibagi ke dalam empat kategori, yaitu 4, 6, 8, dan 9 titik sekutu. Perhitungan parameter transformasi dilakukan dengan kuadrat terkecil metode parameter. Kualitas hasil perataan diuji melalui uji global, data snooping, dan uji signifikansi parameter pada tingkat kepercayaan 95%. Parameter hasil transformasi kemudian digunakan untuk melakukan transformasi pada titik uji guna memperoleh koordinat yang selanjutnya dievaluasi dengan RMSE.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa parameter translasi merupakan satu-satunya parameter yang signifikan secara statistik, sedangkan parameter rotasi dan faktor skala tidak berpengaruh signifikan terhadap perubahan koordinat. Nilai RMSE pada titik uji menunjukkan perbedaan pada setiap kategori, dengan nilai terkecil sebesar 7,7 cm pada kategori 4. Hasil ini menunjukkan bahwa konfigurasi sembilan titik sekutu menghasilkan transformasi yang paling mendekati koordinat ITRF2020 dan menjadi skenario terbaik dalam penelitian ini.

Oil and gas exploration and exploitation activities in Indonesia have been carried out since the Dutch colonial period using coordinate measurement systems and geodetic reference systems that differ from those used today. These differences have caused the coordinates of older oil wells to become inconsistent with the current reference frame, potentially leading to errors in position recording, sediment cross-section measurements, coordinate database maintenance, and hydrocarbon reserve estimation. This study was conducted at a regional scale; therefore, the Molodensky-Badekas method was selected because it uses a centroid point as the center of transformation and is well-suited for local networks. Accordingly, this study aims to transform oil well coordinates from the ITRF1988 reference frame to ITRF2020 using the Molodensky-Badekas method. In addition, the study evaluates the effect of variations in the number and distribution of common points on the accuracy of the coordinate transformation results.

The data used consists of oil well point coordinates, with 11 common points divided into 4 categories based on the number of points: 4, 6, 8, and 9. The transformation parameters were estimated using the least squares method. The research assessed the quality of the adjustment results through a global test, data snooping, and a parameter significance test at a 95% confidence level. The processing then applied the estimated transformation parameters to test points to obtain transformed coordinates, which were subsequently evaluated using RMSE.

The results show that the translation parameters are the only statistically significant components. In contrast, the rotation parameters and the scale factor are not significant. The RMSE values of the test points vary across categories, with the smallest value of 7.7 cm obtained in category 4. These findings indicate that the configuration with nine common points yields transformation results closest to the reference coordinates and represents the best scenario in this study.

Kata Kunci : Transformasi Datum, Sumur Minyak, Molodensky-Badekas, RMSE

  1. S1-2026-494673-abstract.pdf  
  2. S1-2026-494673-bibliography.pdf  
  3. S1-2026-494673-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2026-494673-title.pdf