ANALISIS WACANA KRITIS RELASI POSKOLONIAL FRANCO-AFRICAIN DALAM AFRIQUE-FRANCE SUMMIT 2021
Muhammad kamal satria driyantama, Dr. Merry Andriani, S.S., M.L.C.S.
2026 | Skripsi | SASTRA PERANCIS
Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap relasi poskolonial Franco-Africain melalui tuturan Emmanuel Macron dalam Summit Afrique-France 2021 di Montpellier. Di tengah meningkatnya krisis legitimasi di kawasan Sahel, Macron berusaha untuk membawa wacana ‘era baru’ yang diklaim lebih inklusif. Dengan menggunakan pendekatan Analisis Wacana Kritis tiga dimensi Norman Fairclough, penelitian ini mengulik tuturan Macron dalam summit tersebut untuk mengkaji relasi kuasa yang berlaku di dalam hubungan Franco-Africain lebih lanjut. Data transkrip tuturan Macron pada summit tersebut dan komentar publik terhadap acara ini yang ditayangkan melalui kanal media YouTube France24 menjadi data utama. Penelitian pada praktik tekstual dan diskursif menunjukkan Macron menggunakan eufemisme linguistik dan struktur pasif untuk menghindari tanggung jawab masa lalu dan menyamarkan relasi kuasa yang timpang. Strategi ini ditujukan untuk mengemas citra baru Perancis dan merangkul generasi muda untuk menjaga kepentingan strategis di Afrika. Pada tatanan sosial, wacana tersebut menghadapi resistensi yang kuat dari audiens dengan munculnya kritik terhadap paternalisme barat dan inkonsistensi kebijakan Perancis. Diskursus tandingan juga muncul dengan basis semangat Pan-Afrikanisme yang menuntut kemandirian dari bantuan Perancis. Penelitian ini menunjukkan bahwa meskipun Perancis mencoba membawa wacana baru, hegemoni tersebut dihadapkan dengan resistensi yang kuat yang disebabkan oleh kesadaran kritis masyarakat Afrika.
This research aims to uncover the Franco-African postcolonial relations through Emmanuel Macron's speech at the 2021 Afrique-France Summit in Montpellier. Amidst a burgeoning crisis of legitimacy in the Sahel region, Macron sought to introduce a "new era" discourse claimed to be more inclusive. Utilizing Norman Fairclough’s three-dimensional Critical Discourse Analysis, this study examines Macron’s speech during the summit to further investigate the prevailing power dynamics in Franco-African relations. The primary data consist of Macron’s speech transcripts and public comments from the France24 YouTube channel's coverage of the event. Findings at the textual and discursive levels indicate that Macron employs linguistic euphemisms and passive structures to evade past responsibilities and disguise unequal power relations. This strategy is designed to rebrand France's image and engage the younger generation to safeguard strategic interests in Africa. At the social level, this discourse faces strong resistance from the audience, characterized by critiques of Western paternalism and inconsistencies in French policy. A counter-discourse rooted in Pan-Africanist spirit also emerged, demanding independence from French assistance. This research demonstrates that although France attempts to introduce a new narrative, its hegemony is confronted by robust resistance driven by the critical consciousness of the African people
Kata Kunci : Analisis Wacana Kritis, Emmanuel Macron, Relasi Kuasa, Poskolonialisme, Afrique-France Summit 2021.