Faktor-faktor yang berhubungan dengan tingkat konsumsi garam beryodium dan kaitannya dengan gangguan akibat kekurangan yodium ibu hamil di wilayah di Kabupaten Gunung Kidul
IRAWATI, Tri Endang, Prof.dr. Hamam Hadi, MS,Sc.D
2005 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan MasyarakatLatar Belakang : Gangguan akibat kekurangan yodium (GAKY) masih merupakan salah satu masalah gizi utama yang belum dapat dieliminir hingga saat ini. Total Goiter Rate (TGR) anak sekolah meningkat dari 9,8 % tahun 1998 menjadi 11,1 % tahun 2003. Kabupaten Gunungkidul TGR anak sekolah 12,2 % dan ibu hamil 18,4 % tahun 1996. . Salah satu upaya penanggulangan GAKY adalah yodisasi garam. Hasil survei konsumsi garam beryodiun rumah tangga tahun 2002, hanya 68,53% rumah tangga yang telah mengkonsumsi garam dengan kadar yodium cukup. Hasil pemantauan garam beryodium di Kabupaten Gunung Kidul tahun 2003 hanya 73,08% rumah tangga yang mengkonsumsi garam dengan kadar yodium cukup. Masih rendahnya rumah tangga mengkonsumsi garam yang berkadar yodium cukup dapat disebabkan antara lain ketersediaan garam dipasar kualitasnya banyak yang rendah tidak sesuai dengan label yang tertera, harga yang lebih mahal dari garam beryodium dan kurangnya pengetahuan ibu tentang jenis dan manfaat garam beryodium. Tujuan Penelitian : untuk mengetahui tingkat konsumsi garam beryodium dan status GAKY ibu hamil daerah endemik GAKY di Kabupaten Gunungkidul. Metode Penelitian : Jenis penelitian observasional dengan rancangan penelitian cross sectional dengan subyek penelitian ibu hamil pada trimester II, dengan pendekatan secara kuantitatif dan kualitatif. Hasil : Ketersediaan garam beryodium dalam hal : kualitas garam yang rendah 81,1% dan cukup 18,9%; jenis garam bentuk curai 17,6%, briket 77,8% dan halus 4,6%; tanggapan harga garam yang mahal 69% dan tidak mahal 31%; rasa garam yang pahit 36,8% dan 63,2%. Hasil analisis Pearson Chi-Square dengan Odd Ratio didapat ada hubungan antara kualitas garam dan jenis garam dengan tingkat konsumsi garam beryodium dirumah tangga (p<0,05) dengan OR masing-masing kualitas garam (OR=20,50), jenis garam (OR = 43;1,62 dan 1) dan ada hubungan antara tingkat konsumsi garam dengan ekskresi yodium urin (EYU) dengan p<0,05 dan OR=2,604. Median kadar EYU 86,1mg/l termasuk katagori daerah endemik GAKY ringan dan tidak ada perubahan status daerah endemik. dari tahun 1996. Kesimpulan: Ada hubungan yang bermakna antara kualitas garam dan jenis garam dengan tingkat kosumsi garam beryodium. Ada hubungan antara tingkat konsumsi garam beryodium dengan GAKY. Program yodisasi garam belum efektif dan pemberian kapsul yodium masih perlu dilanjutkan sampai penggunaan garam beryodium baik.
Background: Iodine deficiency disorders (IDD) is one of main nutrition problems which cannot be eliminated until now. Total Goiter Rate (TGR) of school children increases from 9.8% in 1998 to 11.1% in 2003. In Gunung Kidul District. TGR of school Children is 12.2%and of pregnant mothers is 18.4% in 1996. One of efforts to overcome IDD is salt iodinenization. Result of household iodinenized salt consumption in 2002 shows that only 68.53% of households consume salt monitoring at Gunung Kidul District in 2003 shows that only 73.08% of households may be caused by availability of salt with low iodine level (not as high as mentioned in the label), higher price of iodinenized salt and lack of knowledge about types and benefits of iodinenized salt among mothers. Objectives: To identify consumption level of iodinenized salt and IDD status of pregnant mothers at IDD endemic area at Gunung Kidul District. Methods: The study was an observational type which used cross sectional design with both quantitative and qualitative approaches. Subject of the study were pregnant mothers at their second trimester pregnancy. Results: Availability of iodinenized salt according to: quality was 81.1% low and 18,9% sufficient; types of salt was 17,6% coorse, 77,8% bricket, and 4.6%; price was 69% high and 31% not high; taste was 36,8% bitter and 63,2% not bitter. Analysis result of pearson Chi-Square with Odd Ratio showed that there was relationship between quality and types of salt with consumption level of iodinenized salt in the household (p<0.05) with OR =20.50 for quality, OR=43 ; 1.62 and 1 for types. There was relationship between salt consumption level of urine iodine excretion with p<0.05 and OR=2.604. Median of urine iodine excretion level was 81,6μg/l which belonged to category of light IDD endemic area and there had been no change of endemic area status since 1996. Conclusion: There was significant relationship between quality and types of salt with consumption level of iodinenized salt. There was relationship between iodinenized salt consumption level and IDD. Iodinenized salt program was not yet effective and supply of iodine capsules should go on until it reached use of good iodinenized salt.
Kata Kunci : Gizi Ibu Hamil,Konsumsi Garam Beryodium,quality of salt, types of salt, consumption level of iodinenized salt, IDD, urine iodine excretion