Laporkan Masalah

Kajian perkembangan morfologi kekotaan kecamatan Depok kabupaten Sleman

Yoan Adi Wibowo Sutomo, Dr. M.R. Djarot Sadharto Widyatmoko, M.Sc.

2005 | Skripsi | S1 PEMBANGUNAN WILAYAH

Perkembangan kekotaan di negara-negara berkembang lebih bersifat horisontal, yaitu menyebar ke sekelilingnya. Hal tersebut menyebabkan daerah di sekeliling kota akan mengalami dampak perembetan sifat kekotaan dan mengalami perkembangan sifat kekotaan. Salah satu sifat kekotaan tersebut nampak pada morfologi wilayahnya. Perkembangan morfologi kekotaan ini tidak merata di setiap daerah dan memiliki pola yang berbeda-beda pula. Morfologi kekotaan mencakup tiga unsur, yaitu penggunaan lahan, pola jalan dan tipe bangunan. Penelitian ini dilakukan di Kecamatan Depok, Kabupaten Sleman. Kecamatan Depok merupakan kecamatan dengan penduduk terbesar dan terpadat di Kabupaten Sleman yang berbatasan langsung dengan Kota Yogyakarta. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perkembangan morfologi kekotaan Kecamatan Depok, pola perkembangannya serta perubahan-perubahan yang terjadi pada morfologi kekotaan Kecamatan Depok. Metode penelitian yang digunakan adalah analisa kuantitatif dan kualitatif, yaitu dengan metode skoring perbandingan dan overlay dalam analisis peta. Unit analisis penelitian ini adalah desa, yaitu 3 desa yang tercakup dalam Kecamatan Depok. Hasil penelitian ini menunjukkan terjadinya perkembangan morfologi kekotaan dengan kuantitas dan pola yang berbeda pada setiap desa di Kecamatan Depok. Desa Caturtunggal yang berbatasan langsung dengan Kota Yogyakarta memliki morfologi kekotaan yang lebih besar dari kedua desa lainnya. Selain itu, perkembangan setiap unsur morfologi kekotaan yang terjadi di Kecamatan Depok juga memiliki kuantitas yang berbeda-beda. Perkembangan morfologi kekotaan di Kecamatan Depok pada tahun 1993-2003 terutama terjadi di sekitar jalan-jalan utama dan perguruan tinggi-perguruan tinggi terkemuka. Pola perkembangan morfologi kekotaan setelah tahun 2003 sedikit banyak masih seperti periode 1993-2003. Akan tetapi, perkembangan lebih banyak terjadi di luar Desa Caturtunggal. Hal ini dikarenakan Desa Caturtunggal telah dipenuhi oleh lahan terbangun sedangkan kedua desa lainnya masih memiliki lahan kosong yang lebih luas, terutama Desa Maguwoharjo. Penelitian ini merekomendasikan pada Pemerintah Kecamatan Depok untuk menata pembangunan di Kecamatan Depok sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan tetap menjaga kelestarian alam untuk mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan

Urban development in developing countries is more horizontal by spreading around it. It makes the area around the city will experience urban sprawl and growth. One of the urban characters appears on the territorial morphology. The urban morphology develops unevenly and has different pattern for each area. Urban morphology comprises three elements; they are land use, lay out of street and architectural style of buildings and their design. This research was conducted in sub district of Depok, Sleman. Depok is the most populous sub district in Sleman. It is adjacent to Yogyakarta. This research aims to know the urban morphological development of Depok together with the changes. The method used quantitative and qualitative analysis, namely by using scoring method, comparison and overlay in map analysis. The analysis unit of this research comprised three villages under the sub district of Depok. The result showed different pattern and quality in the urban morphological development for each village. Caturtunggal village, which is directly adjacent to Yogyakarta, has greater urban morphology than two other villages. Additionally, the development of each urban morphological element in Depok has different quantity. The urban morphological development of Depok in 1993-2003 taken place particularly around the main roads and on leading universities. The urban morphological development pattern after 2003 was rather similar to 1993-2003 periods. However, it taken place outside Caturtunggal village. This is because Caturtunggal have been full of built area while other two villages still have wider vacant areas, especially Maguwoharjo village. This research recommends to organize the development in sub district of Depok which apropriate with public needs and to keep the nature environment to perform continous development.

Kata Kunci : Morfologi kota,Depok,Sleman,DIY

  1. S1-2005-140451-abstract.pdf  
  2. S1-2005-140451-bibliography.pdf  
  3. S1-2005-140451-tableofcontent.pdf  
  4. S1-2005-140451-title.pdf