Laporkan Masalah

Ambil Hari Bayar Hari: Perubahan Hubungan Agraris Komunitas Taboso Dalam Mengelola Pertanian Sawah Padi Irigasi

Agus Salim Bujang, Prof. Dr. P. M. Laksono, M.A: Prof. Dr. Bambang Hudayana, M.A.

2026 | Disertasi | S3 Ilmu-ilmu Humaniora

Selama lebih dari 4 dekade pertanian sawah padi irigasi dikembangkan oleh komunitas Taboso di Halmahera Barat menggantikan pertanian sawah padi ladang. Perubahan pertanian sawah padi ini membawa implikasi pada strategi budidaya dari pola budidaya kurang intensif menjadi lebih intensif, lebih banyak menggunakan input produksi seperti pupuk, obat-obatan pertanian, dan terutama tenaga kerja. Akibatnya, terjadi perubahan pola hubungan kerja agraris yaitu, petani semakin membutuhkan tenaga kerja resiprositas dan bahkan pinjam meminjam lahan agar para petani dapat memenuhi kebutuhannya. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan bagaimana pola kerja resiprositas dan praktik pinjam meminjam lahan yang berdampak pada perubahan relasi sosial komunitas Taboso yang semula merupakan masyarakat suku/adat dan berubah menjadi masyarakat petani agraris. Untuk menjelaskan perubahan ini, disertasi menggunakan teori ekologi budaya Julian Steward yang menerangkan hubungan antara masalah lingkungan, pola produksi, dan organisasi sosial, serta menggunakan teori-teori tentang pola kerja hubungan agraris yang berkembang dalam studi Antropologi Ekonomi. Untuk melakukan studi di komunitas Taboso, penelitian ini menggunakan metode etnografi dengan melakukan studi lapangan secara berkala sejak tahun 2021 sampai Desember 2024, guna melakukan wawancara mendalam dan observasi secara intensif dengan informan sebanyak 25 orang yang terdiri atas para petani, ibu rumahtangga, pejabat pemerintah, dan tokoh adat. Penelitian ini menemukan bahwa pertanian sawah padi irigasi merupakan strategi adaptasi orang Taboso dalam mengatasi keterbatasan sumber daya alam guna memenuhi kebutuhan hidupnya. Sekalipun umumnya masyarakat Halmahera Barat tidak melanjutkan budidaya sawah padi, orang Taboso mampu mempertahankan pertanian ini karena mereka mengembangkan hubungan kerja agraris yang arahnya mengedepankan kerja sama resiprositas (ambil hari bayar hari) agar kebutuhan tenaga kerja yang sangat tinggi bisa terpenuhi. Selain itu, imbas dari sempitnya lahan pertanian per petani dan ancaman kekurangan pangan, sekalipun sudah melakukan usaha tani intensif seperti; menanam padi dua kali setahunnya, petani kemudian melakukan kerja sama tolong menolong, pinjam meminjam lahan. Budaya resiprositas dan pinjam meminjam lahan itu menjadi kekuatan penting petani Taboso untuk mempertahankan pertanian padi sawah irigasi dan budaya ini justru memperkuat integrasi sosial orang Taboso yang memiliki ikatan kekerabatan yang kuat.

Kata Kunci: Komunitas Taboso, keterbatasan lingkungan, adaptasi ekologi budaya, pertanian sawah padi, resiprositas, integrasi sosial.

For more than four decades, irrigated rice paddy farming has been developed by the Taboso community in West Halmahera, replacing traditional upland rice cultivation. This agricultural transformation has had significant implications for cultivation strategies, shifting from less intensive to more intensive farming practices that require greater production inputs, such as fertilizers, pesticides, and especially labor. Consequently, changes have occurred in agrarian labor relations, as farmers increasingly rely on reciprocal labor exchanges and land-borrowing arrangements to meet their farming needs. This dissertation aims to explain how reciprocal labor systems and land-borrowing practices have influenced changes in the social relations of the Taboso community, which has evolved from a tribal/customary society into an agrarian farming society. To explain these changes, this dissertation employs Julian Steward’s theory of cultural ecology, which examines the relationships among environmental conditions, production patterns, and social organization. It also draws upon theories of agrarian labor relations developed within the field of Economic Anthropology. The study uses an ethnographic approach, involving periodic fieldwork from 2021 to Deecember 2024, and intensive participant observation and in-depth interviews with 25 people, among farmers, housewife, Government officials, and traditional leaders in the Taboso community. The research finds that irrigated rice paddy farming represents an adaptive strategy developed by the Taboso people to overcome environmental resource limitations and sustain their livelihoods. While most communities in West Halmahera have not continued rice paddy cultivation, the Taboso people have successfully maintained this agricultural system by developing agrarian labor relations that emphasize reciprocal cooperation (ambil hari bayar hari), enabling them to meet the high labor demands of intensive rice farming. Furthermore, due to limited landholdings and the persistent threat of food shortages, even after adopting intensive farming practices such as cultivating rice twice a year, farmers continue to engage in mutual assistance through land-borrowing arrangements. These traditions of reciprocity and land borrowing have become essential mechanisms that enable Taboso farmers to sustain irrigated rice cultivation. At the same time, these practices strengthen the social integration of the Taboso people, whose community is characterized by strong kinship ties.

Keywords: Taboso Community, environmental constraints, cultural ecological adaptation, irrigated rice farming, reciprocity, social integration.

Kata Kunci : Kata Kunci: Komunitas Taboso, keterbatasan lingkungan, adaptasi ekologi budaya, pertanian sawah padi, resiprositas, integrasi sosial.

  1. S3-2026-435451-abstract.pdf  
  2. S3-2026-435451-bibliography.pdf  
  3. S3-2026-435451-tableofcontent.pdf  
  4. S3-2026-435451-title.pdf