Efisiensi Penggunaan Lahan di Kabupaten Sleman
Panji Dwi Satrio, Retno Widodo Dwi Pramono, S.T., M.Sc., Ph.D.
2026 | Skripsi | PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA
Kabupaten Sleman mengalami tekanan urbanisasi yang
intensif sebagai wilayah penyangga Kota Yogyakarta, ditandai semakin pesatnya
alih fungsi lahan. Perluasan fisik ini tidak selalu diimbangi pertumbuhan nilai
tambah ekonomi yang setara, sehingga menimbulkan pertanyaan mendasar mengenai
efisiensi penggunaan lahan di tingkat lokal. Kajian efisiensi penggunaan lahan
yang ada saat ini masih terbatas pada pendekatan fisik-spasial tanpa
mengintegrasikan dimensi ekonomi, serta umumnya dilakukan pada skala makro sehingga
belum mampu menangkap heterogenitas pada skala desa.
Penelitian ini bertujuan menganalisis variasi dan pola
spasial efisiensi penggunaan lahan, serta mengidentifikasi faktor-faktor yang
memengaruhinya antar desa di Kabupaten Sleman periode 2019–2024. Pendekatan
deduktif kuantitatif digunakan dengan unit analisis 86 desa. Karena
keterbatasan data PDRB yang hanya tersedia pada skala kabupaten, estimasi nilai
tambah ekonomi tingkat desa dilakukan melalui downscaling PDRB berbasis Geographically
Weighted Regression (GWR). Efisiensi penggunaan lahan selanjutnya dihitung
sebagai rasio laju pertumbuhan nilai tambah ekonomi terhadap laju pertumbuhan
luas lahan terbangun. Pola spasial dianalisis menggunakan Moran's I global
dan LISA, sedangkan faktor-faktor berpengaruh di dentifikasi melalui
pemodelan regresi spasial yang mencakup OLS, Spatial Lag Model (SAR),
dan Spatial Error Model (SEM), dengan variabel independen meliputi
aksesibilitas jaringan jalan, jarak ke pusat kota, kepadatan POI, kepadatan
bangunan, dan kepadatan penduduk.
Hasil penelitian menunjukkan adanya variasi efisiensi
penggunaan lahan yang besar antar desa dengan pola spasial yang cenderung
mengelompok secara lokal mengikuti kedekatan terhadap pusat kota, bukan
membentuk struktur spasial global yang terintegrasi. Desa yang berdekatan
dengan Kota Yogyakarta cenderung lebih efisien, sementara desa pinggiran
menunjukkan kinerja yang lebih rendah. Dari sisi faktor penentu, variabel
berbasis aktivitas ekonomi dan posisi spasial terbukti lebih menentukan
dibandingkan variabel kepadatan fisik, dengan aksesibilitas jaringan jalan
menunjukkan pengaruh yang terbalik dengan peningkatan aksesibilitas justru
cenderung mendorong ekspansi lahan terbangun yang tidak diimbangi pertumbuhan
ekonomi yang setara.
Sleman Regency is subject to intense urbanization
pressure as a buffer zone of the Yogyakarta City metropolitan area,
characterized by an accelerating pace of land conversion. This physical
expansion, however, is not consistently matched by proportional economic
value-added growth, raising fundamental questions regarding land use efficiency
at the local scale. Existing studies on land use efficiency remain limited to
physical-spatial approaches that do not integrate economic dimensions and are
generally conducted at the macro scale, rendering them unable to capture
heterogeneity at the village level.
This study aims to analyze the spatial variation
and pattern of land use efficiency, as well as to identify its determinant
factors across villages in Sleman Regency for the period 2019–2024. A
quantitative deductive approach was employed with 86 villages as the unit of
analysis. Given the unavailability of GDP data at the sub-district level,
village-level economic value-added was estimated through GDP downscaling using
Geographically Weighted Regression (GWR). Land use efficiency was subsequently
computed as the ratio of economic value-added growth rate to the growth rate of
built-up area. Spatial patterns were examined through global Moran's I and
Local Indicators of Spatial Association (LISA), while determinant factors were
identified through spatial regression modeling encompassing Ordinary Least
Squares (OLS), the Spatial Autoregressive Model (SAR), and the Spatial Error
Model (SEM). Independent variables include road network accessibility, distance
to urban center, point-of-interest (POI) density, building density, and
population density.
The findings reveal substantial inter-village variation in land use efficiency, with spatial patterns exhibiting local clustering tendencies aligned with proximity to the urban core rather than forming an integrated global spatial structure. Villages adjacent to Yogyakarta City tend to demonstrate higher efficiency, whereas peripheral villages exhibit comparatively lower performance. With respect to determinant factors, variables reflecting economic activity and spatial positioning prove more consequential than physical density variables. Road network accessibility, notably, displays a paradoxical effect, whereby greater accessibility tends to stimulate built-up area expansion without commensurate economic growth.
Kata Kunci : Efisiensi penggunaan lahan, nilai tambah ekonomi, Pola spasial, Regresi Spasial, Geographically Weighted Regression (GWR), Kabupaten Sleman/Land use efficiency, economic value-added, Spatial pattern, spatial regression, GWR downscaling, Sleman Regency.