Pemetaan Sebaran Dan Perubahan Habitat Bentik Di Perairan Lakaliba, Kabupaten Buton Selatan, Menggunakan Citra PlanetScope Multitemporal
Syifa Us Sudur, Ir. Abdul Basith, S.T., M.Si., Ph.D.
2026 | Tugas Akhir | D4 TEKNOLOGI SURVEI DAN PEMETAAN DASAR
Indonesia merupakan pusat Marine Mega Biodiversity dunia dengan keberadaan habitat bentik yang melimpah seperti terumbu karang, lamun, dan makroalga. Habitat ini berperan penting secara ekologis maupun ekonomis, namun sangat rentan terhadap tekanan antropogenik. Salah satu kawasan dengan potensi habitat bentik adalah Perairan Lakaliba di Buton Selatan, yang pernah ditetapkan sebagai area perlindungan program pengembangan karbon biru pada tahun 2024. Namun, diskontinuitas program tersebut pada tahun berikutnya berpotensi meningkatkan kerentanan kerusakan habitat bentik. Ketiadaan data spasio-temporal yang merepresentasikan dinamika habitat pasca-diskontinuitas program juga dapat menghambat pengelolaan ekosistem pesisir. Pemanfaatan citra resolusi tinggi seperti PlanetScope menjadi solusi efektif untuk memetakan sebaran dan perubahan habitat bentik. Proyek akhir ini bertujuan memetakan sebaran dan perubahan habitat bentik, sekaligus menguji tingkat akurasi hasil klasifikasi yang dilakukan.
Sebaran dan perubahan habitat bentik dipetakan menggunakan citra PlanetScope tahun 2023 dan 2025 yang merepresentasikan kondisi sebelum dan sesudah program karbon biru. Pre-processing citra dilakukan dengan clipping dan masking citra, serta koreksi kolom air. Adapun koreksi sunglint tidak diterapkan, dikarenakan kondisi citra tidak menunjukkan adanya glint pada area kajian. Habitat bentik diklasifikasikan ke dalam empat kelas meliputi terumbu karang, padang lamun, pasir, dan rubble/makroalga. Klasifikasi dilakukan dengan pendekatan Geographic Object-Based Image Analysis (GEOBIA) yang mengintegrasikan segmentasi Simple Non-Iterative Clustering dengan algoritma Supervised Random Forest. Hasil klasifikasi kemudian diuji tingkat akurasinya menggunakan matriks konfusi melalui interpretasi visual basemap ESRI Imagery World untuk citra tahun 2023 dan survei lapangan untuk citra tahun 2025. Hasil klasifikasi habitat bentik tahun 2023 dan 2025 kemudian dianalisis perubahannya menggunakan prinsip aljabar peta berupa fungsi Local Function.
Pemanfaatan citra PlanetScope multitemporal terbukti efektif dalam memantau dinamika habitat bentik sebagai dasar pengelolaan ekosistem pesisir berkelanjutan. Hasil proyek akhir ini menunjukkan bahwa Perairan Lakaliba pada tahun 2023 dan 2025 didominasi oleh kelas rubble/makroalga masing-masing seluas 77,216 ha dan 76,510 ha. Hasil klasifikasi pada masing-masing epoch menghasilkan nilai Overall Accuracy (OA) mencapai 86,25% untuk tahun 2023 dan 85% untuk tahun 2025, sehingga memenuhi standar ketelitian sesuai SNI 7716:2011 (> 60%). Analisis perubahan menunjukkan bahwa habitat bentik di area kajian cenderung tidak mengalami perubahan seluas 90,198 ha, sedangkan 28,112 ha lainnya mengalami perubahan. Perubahan yang terjadi didominasi oleh peralihan lamun menjadi rubble/makroalga mencapai 7,242 ha, yang relevan sebagai dampak diskontinuitas program karbon biru di kawasan tersebut. Secara spasial, distribusi perubahan yang terjadi terkonsentrasi pada zona rataan terumbu yang dipengaruhi oleh faktor alam maupun intervensi antropogenik.
Indonesia is the center of Marine Mega Biodiversity, characterised by an abundance of benthic habitats such as coral reefs, seagrass meadows, and macroalgae. These habitats hold significant ecological and economic value, yet remain highly vulnerable to anthropogenic pressures. Lakaliba Waters in South Buton represents one of the areas with notable benthic habitat potential, having been designated as a blue carbon program protection area in 2024. The discontinuation of the program in the following year, however, potentially increases the vulnerability of benthic habitats to degradation. The absence of spatio-temporal data representing habitat dynamics in the post-discontinuation period may further hinder effective coastal ecosystem management. The utilisation of high-resolution imagery such as PlanetScope offers an effective solution for mapping the distribution and changes of benthic habitats.
The distribution and changes of benthic habitats were mapped using PlanetScope imagery acquired in 2023 and 2025, representing conditions before and after the blue carbon program. Image pre-processing included clipping, masking, and water column correction, while sunglint correction was not applied as no glint was observed in the study area. Benthic habitats were classified into four classes: coral reefs, seagrass meadows, sand, and rubble/macroalgae. Classification was performed using a Geographic Object-Based Image Analysis (GEOBIA) approach, integrating Simple Non-Iterative Clustering (SNIC) segmentation with a Supervised Random Forest algorithm. Classification accuracy was assessed using a confusion matrix, with reference data derived from visual interpretation of ESRI Imagery World basemap for the 2023 imagery and field surveys for the 2025 imagery. Change detection between the two classification outputs was subsequently conducted using map algebra principles through a Local Function.
The multitemporal application of PlanetScope imagery proved effective in monitoring benthic habitat dynamics as a basis for sustainable coastal ecosystem management. Results indicate that Lakaliba Waters in both 2023 and 2025 were dominated by rubble/macroalgae, covering 77.216 ha and 76.510 ha respectively. Classification accuracy reached an Overall Accuracy (OA) of 86.25% for 2023 and 85% for 2025, fulfilling the minimum accuracy standard set by SNI 7716:2011 (>60%). Change detection analysis revealed that approximately 90.198 ha of benthic habitats remained unchanged, while 28.112 ha underwent transition. The most dominant change was the conversion of seagrass to rubble/macroalgae, covering 7.242 ha, which is relevant as a potential impact of the blue carbon program discontinuation. Spatially, the distribution of changes was concentrated in the reef flat zone, influenced by both natural factors and anthropogenic intervention.
Kata Kunci : pemetaan sebaran, pemetaan perubahan, habitat bentik, PlanetScope, GEOBIA