Parameter Produksi Suhu dan Karakteristik Fisiko- Kimia Pepton Berbasis Limbah Ikan Gabus Sebagai Media Pertumbuhan Mikroba
SHAFIRA PUTRI DAMAYANTI, Dr.rer.nat. Lucia Dhiantika Witasari, S.Farm., Apt., M.Biotech.
2026 | Tesis | S2 Ilmu dan Teknologi Pangan
Pepton merupakan sumber nitrogen yang esensial dalam media kultur mikroba;
namun, pepton komersial konvensional umumnya berasal dari sumber hewan darat,
sehingga menimbulkan berbagai perhatian terkait biaya produksi, keberlanjutan
lingkungan, dan kepatuhan terhadap standar halal. Limbah pengolahan ikan,
khususnya ikan gabus (Channa striata), merupakan bahan baku yang kaya protein,
tersedia melimpah secara lokal, dan sesuai dengan persyaratan halal untuk produksi
pepton. Penelitian ini mengombinasikan eksperimen laboratorium dan tinjauan
sistematis untuk mengevaluasi potensi bubuk pepton yang berasal dari limbah ikan
gabus sebagai sumber nitrogen alternatif yang berkelanjutan dan halal untuk media
kultur mikroba. Pada eksperimen laboratorium, pepton diproduksi melalui
hidrolisis enzimatis menggunakan bromelain kasar yang diekstraksi dari nanas
muda, kemudian dikeringkan menggunakan metode spray drying pada dua kondisi
suhu inlet (165°C dan 175°C). Bubuk pepton yang dihasilkan menunjukkan
kelarutan yang tinggi (>92%), aktivitas air yang rendah (?0,29), serta nilai
dispersibilitas yang melebihi 80%. Tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara
kedua kondisi suhu inlet terhadap kadar air, aktivitas air, dispersibilitas, dan warna.
Namun, perbedaan yang signifikan ditemukan pada parameter kelarutan dan bulk
density. Pada tinjauan sistematis, faktor-faktor utama produksi, termasuk jenis
bahan baku, pemilihan enzim, kondisi hidrolisis, dan metode pengeringan,
ditemukan berpengaruh kuat terhadap kualitas pepton melalui pengaruhnya
terhadap derajat hidrolisis, pemulihan nitrogen, kelarutan, dan stabilitas
penyimpanan. Pepton yang berasal dari limbah ikan telah dilaporkan mampu
mendukung pertumbuhan bakteri asam laktat dan mikroorganisme lainnya pada
tingkat yang sebanding dengan pepton komersial. Selain itu, produksi biomassa
dilaporkan sebanding dengan pepton komersial pada sekitar 87% percobaan yang
ditinjau, yang menunjukkan kelayakan pepton berbasis limbah ikan sebagai sumber
nitrogen alternatif untuk kultivasi mikroba. Meskipun demikian, masih terdapat
beberapa tantangan yang perlu diatasi, termasuk variabilitas komposisi antar-batch,
jalur sertifikasi halal, optimasi proses pengeringan, dan produksi dalam skala
industri. Secara keseluruhan, pepton yang berasal dari limbah ikan gabus
menunjukkan potensi yang besar sebagai sumber nitrogen yang halal dan
berkelanjutan untuk media pertumbuhan mikroba, sekaligus mendukung prinsip
bioekonomi sirkular dan pengembangan industri bioteknologi lokal.
Peptone is an essential nitrogen source in microbial culture media; however,
conventional commercial peptones are typically derived from terrestrial animal
sources, raising concerns regarding production costs, environmental sustainability,
and halal compliance. Fish processing waste, particularly from snakehead fish
(Channa striata), represents a protein-rich, locally abundant, and halal-compatible
raw material for peptone production. This study combined a laboratory experiment
and a systematic review to evaluate the potential of snakehead fish waste-derived
peptone powder as a sustainable and halal alternative nitrogen source for microbial
culture media. In the laboratory component, peptone was produced through
enzymatic hydrolysis using crude bromelain extracted from unripe pineapple,
followed by spray drying at two inlet temperature conditions (165°C and 175°C).
The resulting peptone powders exhibited high solubility (>92%), low water activity
(?0.29), and dispersibility values exceeding 80%. No significant differences were
observed between the two inlet temperature conditions in moisture content, water
activity, dispersibility, and color. However, significant differences were found in
solubility and bulk density. In the systematic review component, key production
factors, including raw material type, enzyme selection, hydrolysis conditions, and
drying method, were found to strongly influence peptone quality through their
effects on the degree of hydrolysis, nitrogen recovery, solubility, and storage
stability. Fish waste-derived peptones have been reported to support the growth of
lactic acid bacteria and other microorganisms at levels comparable to those
achieved with commercial peptones. Furthermore, biomass production was found
to be comparable in approximately 87% of reported experiments, indicating the
feasibility of fish waste-derived peptones as alternative nitrogen sources for
microbial cultivation. Nevertheless, challenges remain regarding batch-to-batch
compositional variability, halal certification pathways, drying process optimization,
and industrial-scale production. Overall, snakehead fish waste-derived peptone
demonstrates strong potential as a halal and sustainable nitrogen source for
microbial growth media, supporting circular bioeconomy principles and the
development of local biotechnology industries.
Kata Kunci : limbah ikan; pepton berbasis ikan; halal; media pertumbuhan mikroba; keberlanjutan