HUBUNGAN KONSUMSI MAKANAN BERISIKO DENGAN GEJALA DEPRESI PADA REMAJA DI INDONESIA: ANALISIS DATA SURVEI KESEHATAN INDONESIA 2023
Sabrina Julietta Arisanty, Dr. Drs. Abdul Wahab, MPH; Digna Niken Purwaningrum, S.Gz., MPH., Ph.D
2026 | Tesis | S2 Ilmu Kesehatan Masyarakat
Latar
Belakang: Depresi menjadi salah satu
gangguan yang paling banyak dialami remaja di Indonesia, dengan prevalensi
tertinggi berada pada kelompok usia 15–24 tahun. Pada saat yang sama, pola
konsumsi makanan berisiko meningkat secara signifikan pada kelompok usia
remaja. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa makanan berisiko berpotensi
memengaruhi mekanisme biologis seperti inflamasi, stres oksidatif, dan gangguan
gut–brain axis yang terkait dengan munculnya gejala depresi.
Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan
antara konsumsi makanan berisiko dan gejala depresi pada remaja di Indonesia
menggunakan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023.
Metode: Desain penelitian bersifat observasional dengan
pendekatan potong lintang, melibatkan responden berusia 15–24 tahun yang
memenuhi kriteria inklusi. Variabel dependen adalah gejala depresi yang diukur
dengan instrumen Mini-International Neuropsychiatric Interview (MINI),
sedangkan variabel independen berupa konsumsi makanan berisiko yang diambil
dari modul gizi SKI 2023. Analisis dilakukan melalui regresi logistik biner dan
regresi logistik berganda.
Hasil:
Terdapat 1,9% remaja berusia 15 – 24 tahun mengalami
gejala depresi di Indonesia. Konsumsi makanan berisiko memiliki hubungan yang
signifikan dengan gejala depresi remaja (p=0,000; OR=1,61; 95%CI=1,30 –
199). Jenis makanan berisiko yang berhubungan dengan gejala depresi antara
lain: makanan olahan (p=0,000), bumbu penyedap (p=0,000), dan
makanan instan (p=0,000) yang dikonsumsi dengan frekuensi sering,
Kesimpulan:
Konsumsi makanan berisiko memiliki hubungan dengan
kejadian gejala depresi pada remaja di Indonesia. Namun, diperlukan analisis
lebih lanjut untuk mengatahui hubungan kausalitas antara keduanya.
Background:
Depression is one of the most common disorders
experienced by adolescents in Indonesia, with the highest prevalence among the
15–24 age group. At the same time, consumption patterns of risky foods have
increased significantly among adolescents. Various studies have revealed how risky
foods have the potential to influence biological mechanisms such as
inflammation, oxidative stress, and gut–brain axis disorders that are
associated with the emergence of depressive symptoms.
Objective:
This study aims to analyze the relationship between
risky food consumption and depressive symptoms in adolescents in Indonesia
using data from the 2023 Indonesian Health Survey (SKI).
Method:
The study design was observational with a
cross-sectional approach, involving respondents aged 15–24 who met the
inclusion criteria. The dependent variable was depressive symptoms, measured
using a questionnaire.Mini-International Neuropsychiatric Interview (MINI),
while the independent variable is the consumption of risky foods taken from the
2023 SKI nutrition module. The analysis was carried out through binary logistic
regression and multiple logistic regression.
Results:
In Indonesia, 1.9% of adolescents aged 15–24
experience symptoms of depression. Consumption of risky foods is significantly
associated with depressive symptoms in adolescents (p=0.000; OR=1.61;
95%CI=1.30 – 199). Types of risky foods associated with depressive symptoms
include: processed foods (p=0.000), seasoning (p=0.000), and
instant food (p=0.000) which is consumed frequently,
Conclusion: Consumption of risky foods is associated with depressive symptoms in adolescents in Indonesia. However, further analysis is needed to determine the causal relationship between the two.
Kata Kunci : remaja, gejala depresi, makanan berisiko, pola makan, Survei Kesehatan Indonesia/adolescents, depressive symptoms, risky foods, dietary patterns, Indonesian Health Survey