Laporkan Masalah

Influence of Emotional Factors, Knowledge, and Facilities Towards Waste Separation Using Extended Theory of Planned Behaviour

Fajar Munichputranto, Yulia Arisnani Widyaningsih, M.B.A., Ph.D.,

2026 | Tesis | S2 Manajemen

Pemilahan sampah merupakan salah satu aspek penting dalam meningkatkan pengelolaan sampah perkotaan. Namun, dalam praktiknya, masyarakat masih sering belum mampu menerjemahkan niat memilah sampah menjadi perilaku nyata. Di Indonesia, isu ini menjadi semakin penting karena penanganan sampah baru mencapai 24,6?ri total timbulan sampah nasional sepanjang tahun 2025. Penelitian ini mengkaji faktor-faktor yang memprediksi niat dan perilaku pemilahan sampah rumah tangga, sekaligus membahas kesenjangan antara niat dan perilaku pada penduduk di beberapa wilayah perkotaan terpilih di Pulau Jawa, Indonesia. Dengan menggunakan pengembangan Theory of Planned Behaviour (TPB), penelitian ini memasukkan faktor emosional, pengetahuan tentang klasifikasi sampah, dan kepuasan terhadap fasilitas pemilahan sampah di lingkungan sekitar. Data survei dari 372 responden dianalisis menggunakan PLS-SEM, yang mencakup analisis mediasi, moderasi, serta analisis multikelompok antara Generasi Z dan Milenial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa niat berperan sebagai mekanisme utama yang menghubungkan faktor-faktor dalam TPB dengan perilaku pemilahan sampah. Faktor emosional memperkaya model penelitian, di mana rasa bersalah dan harapan terbukti memperkuat pembentukan niat memilah sampah. Sementara itu, pengetahuan tentang klasifikasi sampah belum cukup kuat dalam mendorong niat memilah sampah. Kepuasan terhadap fasilitas pemilahan sampah cenderung berperan bukan sebagai faktor yang memperkuat hubungan antara niat dan perilaku, melainkan sebagai kondisi praktis yang secara langsung mendorong perilaku pemilahan sampah. Selain itu, Generasi Z menunjukkan hubungan niat dan perilaku yang lebih kuat dibandingkan Milenial. Penelitian ini memperluas TPB dengan mengintegrasikan perspektif emosional, pengetahuan, fasilitas, dan perbedaan generasi dalam menjelaskan perilaku pemilahan sampah rumah tangga.

Waste separation is essential for improving urban waste management, yet residents still fail to translate intention into behaviour. In Indonesia, this issue is particularly critical, as waste handling achievements reached only 24.6% of total national waste generation in 2025. This study examines the predictors of household waste separation intention and behaviour, while also addressing the intention–behaviour gap among residents of selected urban areas in Java, Indonesia. Using an extended Theory of Planned Behaviour (TPB), this study incorporates emotional factors, objective knowledge, and satisfaction with local separation facilities. Survey data from 372 respondents were analysed using PLS-SEM, including mediation, moderation, and multigroup analyses between Gen Z and Millennials. The results confirm intention as the central mechanism linking TPB antecedents to behaviour. Emotional factors enrich the model, with guilt and hope strengthening intention formation. Objective knowledge shows limited explanatory power, highlighting understanding of waste classification alone may not be sufficient to strengthen separation intention. Facility satisfaction appears to operate less as a moderator and more as a practical condition as direct predictor. Interestingly, Gen Z shows a stronger intention–behaviour relationship than Millennials. This study extends TPB by integrating emotional, knowledge, facility-related, and cross-generational perspectives to explain waste separation behaviour.

Kata Kunci : waste separation behaviour,Theory of Planned Behaviour,social marketing,generational comparison

  1. S2-2026-529936-abstract.pdf  
  2. S2-2026-529936-bibliography.pdf  
  3. S2-2026-529936-tableofcontent.pdf  
  4. S2-2026-529936-title.pdf