Inovasi Kebijakan KB Krama Bali dalam Tekanan Multi-dimensional: Fertilitas, Budaya, dan Politik Identitas
Eddy Kiswanto, 1. Dr. Hakimul Ikhwan, MA.; 2. Dr. Umi Listyaningsih, M.si
2026 | Disertasi | S3 STUDI KEBIJAKAN
Penelitian ini mengkaji inovasi kebijakan KB Krama Bali sebagai respons Pemerintah Provinsi Bali terhadap tekanan multidimensional yang mencakup dinamika fertilitas, keberlanjutan budaya lokal, dan politik identitas dalam kerangka otonomi daerah. Secara demografis, Bali merupakan salah satu provinsi dengan tingkat fertilitas total (Total Fertility Rate/TFR) terendah di Indonesia, yang menimbulkan kekhawatiran terhadap keberlanjutan struktur sosial dan budaya masyarakat Bali. Dalam konteks tersebut, KB Krama Bali dirancang tidak hanya sebagai instrumen pengendalian kelahiran, tetapi juga sebagai strategi kebijakan untuk merekonstruksi makna keluarga, reproduksi, dan keberlanjutan adat Bali.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kombinasi (mixed methods), yaitu mengombinasikan atau menghubungkan metode penelitian kualitatif dan kuantitatif. Metode kombinasi dalam penelitian ini secara khusus menggunakan model Sequential Exploratory, tahap awal digunakan metode kualitatif dan tahap berikutnya baru menggunakan metode kuantitatif. Bobot metode lebih pada metode tahap pertama, yaitu metode kualitatif, dan selanjutnya dilengkapi dengan metode kuantitatif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa KB Krama
Bali merupakan bentuk inovasi kebijakan berbasis budaya yang mengintegrasikan
nilai-nilai adat, simbol budaya, dan narasi identitas lokal ke dalam desain dan
komunikasi kebijakan keluarga berencana. Namun demikian, inovasi ini juga
menghadapi ketegangan antara tujuan demografis nasional, kepentingan politik
lokal, dan dinamika penerimaan masyarakat. Studi ini menegaskan bahwa
keberhasilan inovasi kebijakan KB berbasis budaya sangat ditentukan oleh
kemampuan daerah dalam menavigasi interaksi antara rasionalitas teknokratis,
legitimasi budaya, dan politik identitas.
This study examines the KB Krama Bali policy
innovation as a response of the Bali Provincial Government to multidimensional
pressures encompassing fertility dynamics, cultural sustainability, and
identity politics within the framework of regional autonomy. Demographically,
Bali has one of the lowest Total Fertility Rates (TFR) in Indonesia, raising
concerns about the long-term sustainability of Balinese social and cultural
structures. In this context, KB Krama Bali was designed not merely as a
population control instrument but as a policy strategy to reconstruct the
meanings of family, reproduction, and cultural continuity in Balinese
society.
This research employs a mixed-methods
approach, combining and linking qualitative and quantitative research methods.
Specifically, the mixed-method approach utilizes the Sequential Exploratory
model, employing qualitative techniques in the initial phase, followed by
quantitative methods in subsequent phases. The first phase, qualitative
methods, is given greater weight, followed by quantitative methods.
The findings reveal that KB Krama Bali
represents a form of culture-based policy innovation that embeds local customs,
cultural symbols, and identity narratives into the design and communication of
family planning policy. Nevertheless, the policy also encounters tensions
between national demographic objectives, local political interests, and varying
levels of societal acceptance. This study argues that the effectiveness of culturally
grounded family planning policy innovations depends largely on the capacity of
subnational governments to navigate the interplay between technocratic
rationality, cultural legitimacy, and identity politics.
Kata Kunci : inovasi kebijakan, keluarga berencana, KB Krama Bali, fertilitas, budaya, politik identitas.