Perlawanan Diaspora Palestina di Amerika Serikat dalam Menjaga Identitas Budaya dan Sejarah Tahun 2023-2025
Kuntum Khaira Ummah. HG, Dr. Hindun, M.Hum.
2026 | Tesis | S2 Sastra/Kajian Timur Tengah
Penelitian ini membahas profesionalisasi perlawanan diaspora Palestina di Amerika Serikat dalam menjaga identitas budaya dan sejarah Palestina pada periode 2023–2025 sebagai instrumen kontra-hegemoni. Palestina tidak hanya menghadapi kekerasan fisik, tetapi juga kekerasan diskursif. Hal yang paling mendasar dari kolonialisme Israel di Palestina adalah terkait upaya legitimasi pendudukan pemukim yang dibangun atas mitos terra nullius, bahwa Palestina adalah tanah kosong tanpa penghuni. Hal ini terus diupayakan Israel yang didukung dengan praktik memoricide untuk menghapus memori kolektif Palestina sekaligus menegasikan keberadaan bangsa Palestina. Untuk itu, penelitian ditujukan untuk mengetahui bagaimana diaspora Palestina melawan mitos terra nullius pada periode 2023–2025, dan bagaimana langkah strategis diaspora Palestina dalam melawan praktik penghapusan memori atau memoricide sepanjang periode 2023–2025. Penelitian ini menggunakan teori identitas budaya dan representasi Stuart Hall yang didukung oleh konsep profesionalisasi gerakan sosial McCarthy dan Zald. Metode yang digunakan adalah metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif-analitis melalui studi kepustakaan dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dukungan publik terhadap aspirasi Palestina dan aktivitas advokasi bagi Palestina meningkat setelah 7 Oktober 2023. Meskipun demikian, diaspora Palestina dan gerakan pro-Palestina di Amerika Serikat tetap menghadapi hambatan sistemik berupa diskriminasi, Islamofobia, pelabelan sebagai teroris, rasisme anti-Arab, doxxing, represi politik, pembatasan administratif di lingkungan kampus, ancaman pencabutan hak keimigrasian, serta kolonialisme siber. Dalam situasi tersebut, perang Gaza pasca-7 Oktober 2023 menjadi titik konsolidasi sekaligus memperkuat profesionalisasi perlawanan diaspora Palestina-Amerika melalui dua jalur utama. Pertama, rekonstruksi narasi Palestina di Amerika Serikat melalui media digital. Kedua, kapitalisasi storytelling Palestina melalui karya sastra, lagu, musik, film, dan animasi, serta produksi pengetahuan ilmiah untuk mendukung advokasi politik dan hukum. Strategi tersebut digunakan untuk menolak mitos terra nullius, praktik memoricide, pembungkaman, dehumanisasi, serta penghapusan identitas, sejarah, dan masa depan bangsa Palestina akibat kejahatan genosida Israel di Gaza.
This study examines the professionalization of Palestinian diaspora resistance in the United States in preserving Palestinian cultural identity and history during the period 2023–2025 as an instrument of counter-hegemony. Palestine faces not only physical violence, but also discursive violence. The most fundamental aspect of Israeli colonialism in Palestine concerns the effort to legitimize settler occupation through the myth of terra nullius, namely the claim that Palestine was an empty land without inhabitants. This effort continues to be carried out by Israel through the practice of memoricide, which seeks to erase Palestinian collective memory while negating the existence of the Palestinian people. Therefore, this study aims to examine how the Palestinian diaspora resisted the myth of terra nullius during the period 2023–2025, as well as the strategic measures taken by the Palestinian diaspora to resist the erasure of memory or memoricide throughout the same period. This study employs Stuart Hall’s theory of cultural identity and representation, supported by McCarthy and Zald’s concept of social movement professionalization. The research uses a qualitative method with a descriptive-analytical approach through literature review and documentation. The findings show that public support for Palestinian aspirations and advocacy activities for Palestine increased after October 7, 2023. Nevertheless, the Palestinian diaspora and pro-Palestinian movements in the United States continue to face systemic obstacles, including discrimination, Islamophobia, stigmatization as terrorists, anti-Arab racism, doxxing, political repression, administrative restrictions on campuses, the threat of immigration status revocation, and cyber colonialism. In this situation, the Gaza war following October 7, 2023 became a point of consolidation while also strengthening the professionalization of Palestinian-American diaspora resistance through two main pathways. First, the reconstruction of Palestinian narratives in the United States through digital media. Second, the capitalization of Palestinian storytelling through literary works, songs, music, films, animation, and the production of scholarly knowledge to support political and legal advocacy. These strategies are used to challenge the myth of terra nullius, practices of memoricide, silencing, dehumanization, and the erasure of Palestinian identity, history, and future as a result of Israel’s genocidal crimes in Gaza.
Kata Kunci : Diaspora Palestina-Amerika, identitas, media digital, memoricide, profesionalisasi, sejarah, storytelling, terra nullius