Melokalisasi Tata Kelola Digital: Adaptasi Indonesia terhadap Norma Digital Silk Road Tiongkok
Sinung Wikunto, Dr. Suci Lestari Yuana, MIA
2026 | Tesis | S2 Ilmu Hubungan Internasional
Penelitian ini
menganalisis strategi Indonesia dalam merespons norma tata kelola digital
Tiongkok yang disebarluaskan melalui inisiatif Digital Silk Road (DSR). Fokus
utama penelitian ini adalah menjawab mengapa strategi lokalisasi menjadi bentuk
dominan yang dipilih Indonesia dalam proses adopsi norma-norma tersebut,
alih-alih melakukan adopsi penuh atau penolakan total. Dengan menggunakan
kerangka teori lokalisasi norma dari Amitav Acharya, penelitian ini
mengeksplorasi bagaimana norma kunci Tiongkok, seperti kedaulatan siber,
multilateralisme, dan keseimbangan antara pembangunan dan keamanan, diadaptasi
ke dalam konteks domestik. Temuan penelitian menunjukkan bahwa strategi
lokalisasi Indonesia didorong oleh tiga faktor utama: kebutuhan ekonomi untuk
mempercepat pembangunan infrastruktur digital, doktrin politik luar negeri
bebas-aktif untuk menjaga otonomi strategis di tengah persaingan AS-Tiongkok,
serta nilai-nilai demokrasi yang membatasi adopsi kontrol negara yang absolut. Analisis
ini menyoroti peran lembaga negara seperti BSSN dan Komdigi sebagai norm
entrepreneur lokal yang membingkai ulang norma DSR agar selaras dengan
kepentingan nasional.
This
research analyzes Indonesia’s strategy in responding to Chinese digital
governance norms disseminated through the Digital Silk Road (DSR) initiative.
The primary focus of this study is to explain why localization strategy has
emerged as Indonesia's dominant form in the process of adopting these norms,
rather than full adoption or total rejection. Utilizing Amitav Acharya’s norm
localization theory framework, the research explores how key Chinese norms,
such as cyber sovereignty, multilateralism, and the balance between development
and security, are adapted to the domestic context. The findings indicate that
Indonesia’s localization strategy is driven by three main factors: economic
necessity to accelerate digital infrastructure development, the "free and
active" (bebas-aktif) foreign policy doctrine to maintain strategic
autonomy amidst US-China competition, and democratic values that limit the
adoption of absolute state control. This analysis highlights the role of state
institutions such as the National Cyber and Crypto Agency (BSSN) and the
Ministry of Communication and Digital (Komdigi) as local norm entrepreneurs who
reframe DSR norms to align with national interests.
Kata Kunci : Digital Silk Road, Lokalisasi Norma, Tata Kelola Digital, Kedaulatan Siber