Luaran Klinis Pasien Anak Ddengan Sindrom Multi Organ, Dengue Syok Sindrom, Obesitas
Naafi Rizqi Rahmawati, dr. Kristia Hermawan, M.Sc, PhD, Sp.A
2025 | Tesis-Spesialis | S2 Ilmu Kesehatan anak
Latar Belakang : Pada kasus berat, infeksi dengue dapat berkembang menjadi dengue syok sindom, yang menyebabkan hipoperfusi sistemik dan berujung pada sindrom multi organ, meliputi gangguan neurologis, ginjal, dan gastrointestinal. Kondisi ini memerlukan tata laksana yang cepat dan komprehensif serta pemantauan jangka panjang untuk mengevaluasi luaran klinis dan mendeteksi komplikasi yang mungkin menetap setelah fase akut.
Kasus : Seorang anak laki-laki usia 10 tahun 9 bulan obesitas dengan infeksi dengue terkonfirmasi berkembang menjadi Dengue Syok Sindrom (DSS) disertai syok berkepanjangan dan disfungsi multi organ. Pada fase akut pasien mengalami penurunan kesadaran, gagal ginjal akut stadium 3 dengan oliguria berat, serta memerlukan continuous renal replacement therapy (CRRT) selama 61 jam yang dilanjutkan dengan empat sesi hemodialisis. Selama fase pemulihan ditemukan tremor intensi, gangguan siklus tidur, dan gaya berjalan menyeret tanpa defisit neurologis fokal yang mengarah pada sekuela ensefalopati dengue. Fungsi ginjal menunjukkan perbaikan bertahap dengan peningkatan produksi urin dan penurunan kadar kreatinin, meskipun masih memerlukan pemantauan jangka panjang.
Kesimpulan: Pemulihan fungsi ginjal dan perbaikan gejala neurologis dapat dicapai meskipun terjadi disfungsi multi organ berat akibat Dengue Shock Syndrome. Munculnya hipertensi, sindrom metabolik, dan defisiensi vitamin D pada masa tindak lanjut menunjukkan bahwa penyintas penyakit kritis memerlukan evaluasi multidisiplin jangka panjang untuk mengoptimalkan luaran klinis.
Background: Severe dengue infection may progress to Dengue Shock Syndrome (DSS), resulting in systemic hypoperfusion and multiorgan dysfunction involving the neurological, renal, and gastrointestinal systems. These complications require prompt and comprehensive management, as well as long-term follow-up to evaluate clinical outcomes and identify persistent sequelae after the acute phase.
Case: An obese 10-year-9-month-old boy with serologically confirmed dengue infection developed Dengue Shock Syndrome (DSS) complicated by prolonged shock and multiorgan dysfunction. During the acute phase, he experienced impaired consciousness and stage 3 acute kidney injury with severe oliguria, requiring continuous renal replacement therapy (CRRT) for 61 hours followed by four sessions of intermittent hemodialysis. During recovery, neurological evaluation revealed intention tremor, sleep–wake cycle disturbance, and a dragging gait without focal neurological deficits, consistent with sequelae of dengue encephalopathy. Renal function gradually improved, as evidenced by increasing urine output and declining serum creatinine levels, although continued long-term monitoring remained necessary.
Conclusion: Recovery of renal function and improvement of neurological symptoms were achieved despite severe multiorgan dysfunction secondary to Dengue Shock Syndrome. The development of hypertension, metabolic syndrome, and vitamin D deficiency during follow-up underscores the need for long-term multidisciplinary evaluation to optimize clinical outcomes in survivors of critical illness.
Kata Kunci : Dengue Shock Syndrome; Ensefalopati Dengue; Gagal Ginjal Akut; Obesitas; Anak; Luaran