Pemanfaatan Sampah Sebagai Pakan Ternak Sapi: Rasionalisasi Ekonomi Peternak Di Tempat Pembuangan Akhir Sampah Putri Cempo Surakarta
Salman Al-Farisiy, Prof. Dr. Bambang Hudayana, M.A.
2026 | Tesis | S2 Antropologi
Penelitian ini berangkat dari persoalan struktural sektor peternakan sapi di Indonesia, khususnya keterbatasan lahan dan tingginya biaya pakan yang menjadi hambatan utama bagi peternak skala kecil. Kenaikan harga pakan konsentrat, fluktuasi ketersediaan hijauan akibat musim, serta alih fungsi lahan mempersempit ruang produksi peternakan rakyat. Kondisi tersebut berdampak pada stagnasi produksi sapi nasional dan meningkatnya ketergantungan terhadap impor daging sapi. Dalam situasi ini, peternak dituntut untuk beradaptasi dan mencari model beternak alternatif yang lebih efisien dan terjangkau. Penelitian ini memfokuskan kajian pada praktik beternak sapi di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Putri Cempo Surakarta, yang memanfaatkan sampah organik sebagai sumber pakan utama. Dengan pendekatan antropologi ekonomi dan metode etnografi, penelitian ini mengkaji rasionalitas peternak dalam memilih TPA sebagai ruang produksi, strategi pengelolaan pakan dan ternak, serta mekanisme penjualan sapi di tengah stigma, risiko kesehatan, dan ketidakpastian kebijakan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa beternak sapi di TPA Putri Cempo merupakan bentuk adaptasi rasional terhadap tekanan ekonomi dan ekologis. Pemanfaatan sampah organik memungkinkan peternak menekan biaya produksi secara drastis, terutama pada aspek pakan dan tenaga kerja, sehingga peternakan dapat dijalankan dengan biaya minimal. Praktik ini juga didukung oleh sistem sosial seperti gaduh, jaringan antarpeternak, serta peran blantik dalam distribusi dan pemasaran sapi. Pengetahuan lokal dan pengalaman empiris menjadi dasar peternak dalam mengelola kesehatan ternak dan menentukan kualitas sapi. Meskipun praktik ini mengandung risiko, seperti potensi penyakit ternak, pencemaran lingkungan, stigma “sapi sampah”, serta ancaman relokasi akibat pembangunan PLTSa, peternak tetap mempertahankan model ini sebagai strategi bertahan hidup. Penelitian ini menegaskan bahwa praktik peternakan sapi, melainkan sebagai bentuk rasionalitas kontekstual yang lahir dari keterbatasan sumber daya, ketimpangan kebijakan, dan kebutuhan untuk mempertahankan keberlanjutan ekonomi rumah tangga peternak
This research stems from the structural challenges facing Indonesia’s cattle farming sector, specifically land constraints and high feed costs, which serve as the primary obstacles for small-scale farmers. The rising price of concentrate feed, seasonal fluctuations in forage availability, and land-use conversion have restricted the production space for smallholder livestock. Consequently, this has led to a stagnation in national beef production and an increased dependency on beef imports. In this situation, farmers are compelled to adapt and seek alternative, more efficient, and affordable livestock-rearing models. This study focuses on the practice of cattle farming at the Putri Cempo Landfill (TPA) in Surakarta, where organic waste is utilized as the primary source of feed. Employing an economic anthropology approach and ethnographic methods, this research examines the farmers' rationality in selecting the landfill as a production space, their feed and livestock management strategies, and the cattle marketing mechanisms amidst stigma, health risks, and policy uncertainties. The findings indicate that cattle farming at the Putri Cempo Landfill is a rational adaptation to economic and ecological pressures. The utilization of organic waste allows farmers to drastically reduce production costs, particularly regarding feed and labor, enabling the livestock operation to run at minimal expense. This practice is further sustained by social systems such as gaduh (a livestock-sharing system), inter-farmer networks, and the role of blantik (livestock brokers) in cattle distribution and marketing. Local knowledge and empirical experience form the basis for farmers in managing livestock health and determining cattle quality. Although this practice carries risks—such as potential livestock diseases, environmental pollution, the "trash cattle" stigma, and relocation threats due to the construction of the Waste-to-Energy Power Plant (PLTSa)—farmers continue to maintain this model as a survival strategy. This research underscores that this cattle farming practice is not merely an anomaly, but rather a form of contextual rationality born out of resource limitations, policy disparities, and the necessity to sustain the economic viability of smallholder households.
Kata Kunci : : Peternakan Sapi, TPA Putri Cempo, Rasionalitas Ekonomi, Pakan Sampah, Antropologi Ekonomi