Latar Belakang: Minuman berpemanis gula (SSB) telah menjadi tren di Indonesia. Asupan SSB banyak dikaitkan dengan peningkatan risiko non communicable disease (NCD) melalui mekanisme penumpukan lemak, termasuk lemak viseral. Penelitian yang menghubungkan asupan SSB dengan parameter antropometri dasar seperti indeks massa tubuh (IMT) telah dilakukan di Indonesia, tetapi yang mengaitkan dengan Body Roundness Index (BRI) masih terbatas. BRI diketahui lebih unggul dalam hal sensitivitas terhadap kelebihan lemak viseral di area abdominal dibandingkan IMT, termasuk pada kondisi normal weight obesity dan sarcopenic obesity, serta lebih baik dalam memprediksi risiko NCD. Penelitian terdahulu menunjukkan mahasiswa FK-KMK UGM berisiko tinggi terpapar asupan SSB dan NCD.
Tujuan: Mengetahui hubungan frekuensi asupan SSB dan jumlah asupan gula tambahan dari SSB dengan BRI pada mahasiswa FK-KMK UGM.
Metode: Penelitian desain cross-sectional ini dilakukan pada 75 mahasiswa FK-KMK UGM berusia 18-23 tahun. Subjek penelitian diperoleh melalui teknik proportionate stratified random sampling. Pengambilan data asupan SSB dilakukan dengan kuesioner SQFFQ modifikasi yang telah tervalidasi serta BRI dengan pengukuran lingkar pinggang (pita ukur) dan tinggi badan (microtoise). Analisis data menggunakan uji korelasi Spearman Rank dan uji beda Mann-Whitney U.
Hasil: Mayoritas mahasiswa memiliki frekuensi asupan SSB tidak sering (53,3%) dan asupan gula tidak berisiko (60%). Rata-rata nilai BRI responden 3,26 ± 1,21 dengan mayoritas tergolong BRI tinggi (36%). Analisis korelasi frekuensi asupan SSB dan asupan gula dari SSB dengan BRI, masing-masing p = 0,083 dan p = 0,066. Analisis perbedaan jenis kelamin dan aktivitas fisik pada tiap variabel bernilai p-value > 0,05.
Kesimpulan: Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara frekuensi asupan SSB dan jumlah asupan gula tambahan dari SSB dengan BRI pada mahasiswa FK-KMK UGM. Perlu penelitian lanjutan dengan mempertimbangkan faktor total kalori harian untuk menilai hubungan asupan SSB dengan BRI secara lebih optimal.
Background: Sugar-sweetened beverages (SSBs) have become a trend in Indonesia. SSB intake has been widely associated with an increased risk of NCD through fat accumulation, including visceral fat. Studies linking SSB intake to basic anthropometric parameters such as BMI have been conducted in Indonesia. However, studies examining its association with Body Roundness Index (BRI) are still lacking. BRI is known to have higher sensitivity in detecting excess visceral fat in the abdominal area compared to BMI, including in normal weight obesity and sarcopenic obesity, and is better at predicting NCD risk. Previous research has shown that students from FK-KMK UGM are at high risk of exposure to SSB intake and NCD.
Objective: To determine the relationship between frequency and amount of added sugar intake from SSB with BRI in FK-KMK UGM students.
Methods: This cross-sectional study was conducted among 75 FK-KMK UGM students aged 18-23 years. Subjects were selected using a proportionate stratified random sampling technique. Data on SSB intake was collected using a validated modified SQFFQ, and BRI with waist circumference (measuring tape) and height measurement (microtoise). Data were analyzed using Spearman Rank correlation test and Mann-Whitney U test.
Results: The majority of students reported infrequent SSB intake (53,3%) and low-risk sugar intake (60%). The mean BRI score of respondents was 3.26 ± 1.21, with the majority categorized as having high BRI (36%). Correlation analysis of SSB intake frequency and SSB sugar intake with BRI showed p = 0.083 and p = 0.066, respectively. Analysis of differences by gender and physical activity for each variable showed p-value > 0.05.
Conclusion: There is no significant relationship between frequency and amount of added sugar intake from SSB with BRI in FK-KMK UGM students. Further research considering total daily calorie intake is needed to assess the relationship between SSB intake and BRI more optimally.
Kata Kunci :
body roundness index, lemak viseral, mahasiswa kesehatan, minuman berpemanis gula