Peran Budaya Lokal dalam Penerapan Good Agricultural Practices Jagung untuk Ketahanan Pangan Masyarakat Atoin Meto di Nusa Tenggara Timur
Musa Frengkianus Banunaek, Prof. Dr. Ir. Siti Andarwati, S.Pt., M.P., IPU., ASEAN Eng.; Prof. Dr. Ir. Sunarru Samsi Hariadi, M.S.
2026 | Disertasi | S3 Penyuluhan dan Komunikasi Pembangunan
Ketahanan pangan jagung masyarakat Atoin Meto di Nusa Tenggara Timur masih menghadapi tantangan akibat keterbatasan sumber daya lahan kering, perubahan iklim, akses sarana produksi, dan belum optimalnya penerapan Good Agricultural Practices (GAP). Studi ini bertujuan untuk menganalisis peran faktor internal dan eksternal petani Atoin Meto dalam mendukung ketahanan pangan jagung, baik secara langsung maupun melalui penguatan perilaku penerapan GAP tanaman jagung, serta menganalisis keterkaitan antara faktor internal, faktor eksternal, dan perilaku penerapan GAP dalam mendukung ketahanan pangan jagung masyarakat Atoin Meto. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif eksplanatori dengan teknik survei menggunakan kuesioner. Sampel awal berjumlah 300 petani jagung yang ditentukan melalui systematic random sampling. Setelah pemeriksaan multivariate outliers, sebanyak 263 petani digunakan dalam analisis akhir. Data dianalisis secara deskriptif dan menggunakan Structural Equation Modeling (SEM) dengan bantuan AMOS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor internal petani Atoin Meto memiliki pengaruh total paling besar terhadap ketahanan pangan jagung, yaitu sebesar 0,762. Faktor eksternal petani Atoin Meto berperan terhadap ketahanan pangan terutama melalui penguatan perilaku penerapan GAP, dengan pengaruh total sebesar 0,135. Perilaku penerapan GAP tanaman jagung berpengaruh positif terhadap ketahanan pangan jagung dengan koefisien sebesar 0,402. Secara simultan, faktor internal dan faktor eksternal menjelaskan 56 persen variasi perilaku penerapan GAP, sedangkan faktor internal, faktor eksternal, dan perilaku penerapan GAP menjelaskan 81 persen variasi ketahanan pangan jagung. Hasil analisis juga menunjukkan adanya perbedaan pola penguatan perilaku penerapan GAP dan ketahanan pangan antara wilayah distal dan proksimal. Pada wilayah distal, Amaf memiliki otoritas sosial-budaya dan kekuasaan normatif yang lebih kuat dibandingkan penyuluh dalam mengarahkan perilaku petani, menjaga praktik gotong royong, dan memperkuat ketahanan pangan. Sebaliknya, pada wilayah proksimal penyuluh pertanian lebih dominan dalam mendorong perubahan perilaku petani melalui informasi teknis, pendampingan, dan penguatan penerapan GAP. Kebaruan studi ini terletak pada formulasi model integratif yang tidak hanya menempatkan budaya lokal, faktor internal, faktor eksternal, dan perilaku penerapan GAP sebagai dasar penguatan ketahanan pangan jagung, tetapi juga menunjukkan bahwa relasi kuasa lokal menentukan aktor yang paling berpengaruh dalam perubahan perilaku petani. Dalam perspektif teori power, efektivitas penguatan GAP dan ketahanan pangan pada masyarakat Atoin Meto dipengaruhi oleh distribusi kekuasaan antara otoritas adat Amaf dan otoritas formal penyuluh, yang berbeda menurut konteks wilayah distal dan proksimal.
Maize food security in the Atoin Meto community in East Nusa Tenggara faces significant challenges continuously due to limited dryland resources, climate change, limited access to agricultural production inputs, and the suboptimal implementation of Good Agricultural Practices (GAP). This study aims to analyze the role of internal and external factors among Atoin Meto farmers in supporting maize food security, both directly and through reinforcing the farmers’ GAP implementation behavior in maize cultivation. It also examines the interrelationships among internal factors, external factors, and GAP implementation behavior in supporting maize food security in the Atoin Meto community.This study employed an explanatory quantitative approach using a survey method with questionnaires. The initial sample consisted of 300 maize farmers selected through systematic random sampling. After the assessment of multivariate outliers, 263 farmers were included in the final analysis. The data were analyzed descriptively using Structural Equation Modeling (SEM) with AMOS help with .The findings indicate that internal factors among Atoin Meto farmers exerted the greatest total effect on maize food security, with a coefficient of 0.762. External factors contributed to maize food security primarily through reinforcing the GAP implementation behavior, with a total effect of 0.135. The GAP implementation behavior in maize cultivation had a positive effect on maize food security, with a coefficient of 0.402. Simultaneously, internal and external factors explained 56 percent of the variance in GAP implementation behavior, while internal factors, external factors, and GAP implementation behavior explained 81 percent of the variance in maize food security.The analysis also revealed differences in the patterns of GAP implementation behavior reinforcement and maize food security between distal and proximal regions. In distal regions, the Amaf holds stronger socio-cultural authority and normative power than agricultural extension workers in guiding farmers’ behavior, maintaining mutual cooperation practices, and reinforcing food security. Conversely, in proximal regions, the role of the Amaf is more limited to customary regulation, while agricultural extension workers play a more dominant role in encouraging farmers’ behavioral change through technical information, facilitation, and the reinforcement of GAP implementation.The novelty of this study lies in the formulation of an integrative model not only positioning local culture, internal factors, external factors, and GAP implementation behavior as the foundation for strengthening maize food security, but also demonstrates that local power relations determine the most influential actors in transforming farmers’ behavior. From the perspective of power theory, the effectiveness of GAP reinforcement and maize food security in the Atoin Meto community is shaped by the distribution of power between the customary authority of the Amaf and the formal authority of agricultural extension workers, differring across distal and proximal regional contexts.
Kata Kunci : budaya lokal, Good Agricultural Practices, jagung, ketahanan pangan, Atoin Meto