Menatap Masa Depan: Analisis Perkembangan Destinasi Wisata Warisan Candi Muarajambi Dengan Model Tourism Area Life Cycle (TALC) Dalam Arah Kebijakan
Manda Juniawan, Erda Rindrasih, S.Si., M.U.R.P., Ph.D.
2026 | Tesis | MAGISTER MANAJEMEN DAN KEBIJAKAN PUBLIK
Indonesia, sebagai negara kepulauan dengan sejarah peradaban yang kaya, memiliki banyak situs warisan budaya yang berperan strategis dalam pembangunan. Namun, banyak situs tersebut yang masih belum berkembang maksimal, termasuk Candi Muarajambi. Sebagai kompleks percandian terluas di Asia Tenggara, Candi Muarajambi memiliki nilai sejarah yang penting sebagai pusat pendidikan agama Buddha dari abad ke-7 hingga ke-12. Meskipun pemugaran telah dilakukan sejak 1978, situs ini belum mendapatkan pengakuan luas. Oleh karena itu, akan dilakukan analisis untuk memetakan pengembangan masa depan situs ini menggunakan Model Tourism Area Life Cycle (TALC), yang akan menjadi dasar dalam merumuskan kebijakan pengembangan yang berakar pada nilai-nilai yang berkembang di antara para pemangku kepentingan di Kawasan situs.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metodologi studi kasus, mengumpulkan data melalui observasi, dokumentasi, dan wawancara lintas sektor. Data yang terkumpul kemudian dianalisis menggunakan model analisis data Creswell dan diverifikasi melalui teknik triangulasi. Penelitian ini merupakan yang pertama kali mengaplikasikan Model TALC pada destinasi wisata warisan budaya, khususnya pada kompleks percandian.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Candi Muarajambi telah melewati empat tahap dalam Model TALC: eksplorasi (1978-1995), keterlibatan (1996-2014), konsolidasi (2015-2022), dan pembangunan (2023-2024). Menariknya, meskipun destinasi wisata biasanya memasuki tahap pembangunan setelah tahap keterlibatan, Candi Muarajambi justru mengalami tahap konsolidasi lebih awal. Pengembangan Candi Muarajambi ke depan harus menyeimbangkan nilai ekonomi, lingkungan, dan sosial budaya, karena ketiga elemen ini harus saling bersinergi untuk memastikan kelestarian budaya dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.
Indonesia, as an archipelagic nation with a rich civilization history, has numerous cultural heritage sites that play a strategic role in national development. However, many of these sites remain underdeveloped, including Candi Muarajambi. As the largest temple complex in Southeast Asia, covering 3,981 hectares, Candi Muarajambi holds significant historical value as a renowned centre of Buddhist education from the 7th to the 12th century. Despite restoration efforts since 1978, the site has yet to receive widespread recognition. Therefore, this study analyses the development of Candi Muarajambi using the Tourism Area Life Cycle (TALC) Model as the basis for formulating policy directions rooted in the values that have developed among stakeholders.
This study employed a qualitative case study approach, collecting data through observation, documentation, and cross-sector in-depth interviews with 26 purposively selected informants. Data were analysed using Creswell's data analysis model and verified through source and method triangulation techniques. This study is the first to apply the TALC Model to a cultural heritage tourism destination based on a temple complex.
Findings indicate that Candi Muarajambi has traversed four stages of the TALC Model: exploration (1978–1995), involvement (1996–2014), consolidation (2015–2022), and development (2023–present). A critical finding is that the consolidation stage preceded the development stage, which is the inverse of Butler's (1980) normative TALC sequence a unique characteristic of this heritage destination's development pattern. Furthermore, the future development of Candi Muarajambi must balance economic, environmental, and socio-cultural values through a collaborative governance model based on the 2022 KCBN Zoning Framework.
Kata Kunci : Heritage Tourism, Tourism Area Life Cycle (TALC), Pariwisata berkelanjutan, Pengembangan pariwisata, Siklus Hidup Pariwisata