FAKTOR DOMESTIK DAN INTERNASIONAL DALAM KEPUTUSAN KUNJUNGAN KE KUIL YASUKUNI OLEH PERDANA MENTERI JUN’ICHIRO KOIZUMI (2001–2006) DAN SHINZO ABE (2013)
Zahra Maulidiya Ramadhani, Anisa Ledy Umoro, S.S., M.A., Ph.D.
2026 | Skripsi | SASTRA JEPANG
Kunjungan perdana
menteri ke Kuil Yasukuni kerap dianggap sebagai refleksi sikap Jepang terhadap
masa lalunya dan berimplikasi pada politik domestik dan internasional.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang melatarbelakangi
kunjungan Jun’ichiro Koizumi dan Shinzo Abe ke Kuil Yasukuni. Penelitian
ini juga menganalisis alasan mengapa Koizumi memilih terus melakukan kunjungan
tersebut dan Abe berhenti setelah kunjungan pertamanya. Penelitian ini
dilakukan dengan metode kualitatif melalui library research.
Hasil dari penelitian
ini menunjukkan bahwa Koizumi cenderung pragmatis dalam keputusan kunjungannya
ke Kuil Yasukuni. Koizumi mengutamakan kepentingan politik domestik
dibandingkan posisi Jepang di mata Cina dan Korea Selatan. Risiko internasional
tersebut diminimalkan dengan kedekatan Jepang dengan Amerika Serikat, khususnya
melalui dukungan terhadap war on terror. Sementara itu, kunjungan Abe
dilatarbelakangi oleh faktor elektabilitas dan ideologi pribadinya yang
nasionalis dan konservatif. Namun, Abe tidak lagi berkunjung ke Kuil Yasukuni
setelah kunjungan tersebut menyebabkan ketegangan dengan Amerika Serikat,
mengingat Jepang dan Abe masih bergantung pada Amerika Serikat dalam hal
keamanan dan ekonomi. Temuan ini menunjukkan bahwa kunjungan ke Kuil Yasukuni
bukan hanya merupakan tindakan simbolik, tetapi juga strategi politik yang
dipengaruhi oleh ideologi, situasi politik domestik, dan hubungan Jepang dengan
negara lain terutama Amerika Serikat.
The prime ministers’
visits to Yasukuni Shrine are often regarded as reflections of Japan’s stance
toward its wartime past and have implications for both Japan’s domestic and
international politics. This research aims to analyze the factors underlying Jun’ichiro
Koizumi’s and Shinzo Abe’s visits to Yasukuni Shrine, as well as to explain why
Koizumi chose to continue his visits, while Abe stopped after his first visit.
This study uses a qualitative approach through library research.
The findings indicated
that Koizumi adopted a pragmatic approach in his decisions regarding Yasukuni
Shrine visits. Koizumi prioritized his domestic political interests over
Japan’s position in its regional politics with China and South Korea. The
international risks were minimized through Japan’s close relationship with the
United States, particularly through Japan’s support for the United States war
on terror policy. In contrast, Abe’s visit was driven by electoral factors and
his nationalist and conservative ideology. However, Abe did not continue his
visit after it sparked tensions with the United States, given Japan’s
dependence on the United States for economic stability and national security.
These findings suggest that prime ministers’ visits to Yasukuni Shrine are not
merely symbolic actions, but also political strategies influenced by
ideological orientations, domestic political considerations, and Japan’s
international relations, particularly with the United States.
Kata Kunci : Kuil Yasukuni, Jun’ichiro Koizumi, Shinzo Abe, pragmatisme, konservatisme, hubungan Jepang–Amerika Serikat