Hubungan Implementasi Integrasi Pelayanan Kesehatan Primer Dengan Pelayanan Kesehatan Ibu Hamil di Indonesia
Khairunnisa Nurulfirdausi, Dr. Drs. Abdul Wahab, MPH; Prof. Dr. dr. Mubasysyir Hasanbasri, MA; dr. Likke Prawidya Putri, MPH., Ph.D; dr. Tiara Marthias, MPH., Ph.D
2026 | Tesis | MAGISTER KEBIJAKAN DAN MANAJEMEN KESEHATAN
Latar belakang: Kementerian Kesehatan menggulirkan 6 pilar transformasi kesehatan. Transformasi berupa Integrasi Pelayanan Kesehatan
Primer (ILP) diharapkan dapat menjawab permasalahan dan tantangan yang terjadi
pada pelayanan primer seperti Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang masih belum
memenuhi target 100%, salah satunya adalah pelayanan kesehatan ibu hamil. Tujuan:
Menganalisis hubungan implementasi integrasi pelayanan kesehatan primer dengan
pelayanan kesehatan ibu hamil, mengeksplorasi kondisi terkini implementasi ILP,
serta mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat Puskesmas mengimplementasikan
ILP. Metode: Pendekatan Mixed methods dengan desain cross-sectional.
Data kuantitatif berupa data sekunder di seluruh kabupaten/kota, sedangkan data
kualitatif dilakukan di 4 kabupaten/kota yaitu Kabupaten Bantul, Kabupaten
Blora, Kota Batu, dan Kota Bekasi, dikumpulkan melalui wawancara semi
terstruktur dan telaah dokumen kepada 15 informan di Dinas Kesehatan
kabupaten/kota dan Puskesmas. Analisis data kuantitatif dilakukan melalui Uji Chi
Square dan Regresi Logistik Berganda, sedangkan data kualitatif dianalisis
secara deskriptif. Hasil: Hasil penelitian kuantitatif menunjukkan bahwa
terdapat hubungan signifikan antara implementasi ILP dengan pelayanan kesehatan
ibu hamil. Sedangkan hasil penelitian kualitatif yaitu Puskesmas sudah
menerapkan 3 fokus utama ILP yaitu pendekatan berbasis siklus hidup,
mendekatkan akses pelayanan sampai tingkat desa/dusun, dan pemantauan wilayah
setempat walaupun masih belum optimal. Faktor pendukung Puskesmas mengimplementasikan
ILP antara lain komitmen pimpinan daerah, kerjasama dengan lintas sektor, kelengkapan
SDM dan alat kesehatan, serta partisipasi masyarakat. Sedangkan faktor
penghambat yaitu sistem informasi yang belum terintegrasi serta efisiensi dan
ketimpangan anggaran. Kesimpulan: Implementasi ILP sangat penting untuk
meningkatkan capaian pelayanan kesehatan dan diperlukan komitmen serta dukungan
dari berbagai pihak agar pelaksanaan ILP berjalan optimal.
Background: The Ministry of Health has launched six pillars of health
transformation. This transformation, in the form of Integrated Primary Health
Care (IPHC), is expected to address the problems and challenges facing primary
care services, such as the Minimum Service Standards, which have yet to meet
the 100% target; one such area is maternal health care. Objective: To
analyze the relationship between the implementation of integrated primary
health care and maternal health care, to explore the current status of IPHC
implementation, and to identify factors supporting and hindering Community
Health Centers in implementing IPHC. Methods: A mixed-methods approach
with a cross-sectional design. Quantitative data consisted of secondary data
from all districts/cities, while qualitative data were collected in 4
districts/cities namely Bantul Regency, Blora Regency, Batu City, and Bekasi
City, through semi-structured interviews and document reviews with 15
informants from district/city Health Offices and Community Health Centers.
Quantitative data were analyzed using the Chi-Square Test and Multiple Logistic
Regression, while qualitative data were analyzed descriptively. Results:
The quantitative findings indicate a significant association between the
implementation of IPHC and maternal health services. The qualitative findings
reveal that Community Health Centers have implemented the three main focuses of
the IPHC framework: a life-cycle-based approach, bringing health services
closer to the village/neighborhood level, and local area monitoring, although
these efforts remain suboptimal. Supporting factors for Community Health
Centers in implementing ILP include the commitment of local leaders,
collaboration across sectors, the availability of human resources and medical
equipment, and community participation. Meanwhile, inhibiting factors include
an unintegrated information system, as well as budget inefficiencies and
disparities. Conclusion: The implementation of IPHC is crucial for
improving health service outcomes, and commitment and support from various
stakeholders are necessary to ensure optimal implementation of IPHC.
Kata Kunci : Transformasi sistem kesehatan, integrasi layanan primer, pelayanan kesehatan ibu hamil, Puskesmas, mixed methods