LEGITIMATION STRATEGIES IN INDONESIAN EXTRACTIVE CORPORATIONS’ SUSTAINABILITY REPORTS: A CORPUS-ASSISTED ECO-CRITICAL DISCOURSE ANALYSIS
Elisabeth Kivana Damayanti, Prof. Dr. Suhandano, M.A.
2026 | Tesis | S2 Linguistik
Perusahaan-perusahaan ekstraktif telah berkontribusi terhadap degradasi lahan, polusi air, dan konflik dengan masyarakat adat. Untuk memenuhi harapan para pemangku kepentingan dan mengelola pengawasan publik, perusahaan ekstraktif membuat laporan keberlanjutan yang menggunakan strategi bahasa beragam. Studi ini mencoba mengungkap sikap perusahaan terhadap aksi iklim dan keberlanjutan melalui analisis legitimasi dan wacana eko-kritis. Studi ini menggabungkan linguistik korpus, strategi legitimasi Van Leeuwen, dan analisis wacana eko-kritis. Data yang digunakan adalah lima laporan keberlanjutan yang diperoleh dari situs web perusahaan Indonesia, termasuk PT Vale Indonesia, PT ANTAM, PT KPC, PT FI, dan PT PERTAMINA. Laporan keberlanjutan tersebut selanjutnya membentuk Korpus SR (Sustainability Report) dengan 28.603 token. Korpus ini menjalani analisis kata kunci, kolokasi, dan konkordansi untuk mengungkap strategi legitimasi. Perhitungan LogDice kemudian digunakan untuk memvalidasi klausa representatif. Hasilnya mengungkapkan empat strategi linguistik, dengan rasionalisasi instrumental dan evaluasi moral mendominasi wacana. Studi ini mengindikasikan bahwa beberapa perusahaan menekankan keahlian dalam inovasi teknologi dan refleksi moral, namun tetap terikat pada program pembangunan pemerintah. Intertekstualitas dan interdiskursivitas lebih lanjut menggarisbawahi bahwa wacana politik, ekonomi, dan media memengaruhi legitimasi kelima laporan keberlanjutan tersebut. Temuan menunjukkan bahwa wacana laporan keberlanjutan bersifat eko-ambivalen, yang mengindikasikan bahwa upaya keberlanjutan masih didorong oleh motif pertumbuhan ekonomi dan pembangunan nasional. Studi ini menyediakan legitimasi, intertekstualitas, dan interdiskursivitas terintegrasi sebagai kerangka ekologis untuk menganalisis klaim lingkungan dan inisiatif berkelanjutan. Studi ini berkontribusi pada evaluasi akuntabilitas dan transparansi dalam beberapa laporan keberlanjutan perusahaan.
Extractive corporations have largely contributed to land degradation, water pollution, and conflicts with indigenous people. To address stakeholders’ expectations and maintain public scrutiny, extractive corporations create sustainability reports that employ a diverse language strategy. This study tries to reveal corporate stances on climate action and sustainability through legitimation and eco-critical discourse analysis. This study combines corpus linguistics, Van Leeuwen’s legitimation strategies, and eco-critical discourse analysis. The data is the five sustainability reports obtained from the Indonesian corporate websites, including PT Vale Indonesia, PT ANTAM, PT KPC, PT FI, and PT PERTAMINA. The sustainability reports further comprise an SR Corpus with 28,603 tokens. The corpus undergoes keyword, collocation, and concordance analysis to reveal legitimation strategies. It uses the LogDice calculation to validate the representative clauses. The results reveal four linguistic strategies, with instrumental rationalization and moral evaluation dominating the discourse. It emphasizes that several corporations present technological and moral expertise while remaining tethered to government development programs. The intertextuality and interdiscursivity further underscore that political, economic, and media discourses influence the legitimacy of the five sustainability reports. The findings suggest that the sustainability report discourse is eco-ambivalent, indicating that sustainability attempts are still encouraged by economic growth and national development motives. The study provides an integrated legitimation and intertextuality, and interdiscursivity as an ecological framework to analyze environmental claims and sustainable initiatives. It contributes to evaluating the accountability and transparency in several corporate sustainability reports.
Kata Kunci : legitimation, eco-critical discourse analysis, sustainability report, extractive corporation