Lulus Tak Pasti Mulus: Lika Liku Perjalanan Lulusan Sarjana Humaniora Dalam Menapaki Dunia Kerja
Rafida Kamilatunnisa, Prof. Dr. Setiadi, S.Sos., M.Si.
2026 | Skripsi | ANTROPOLOGI BUDAYA
Tingginya
angka pengangguran terdidik di kalangan anak muda menunjukkan adanya persoalan
serius, khususnya mereka para generasi Z yang mulai memasuki dunia kerja. Di
tengah arus prioritas STEM dalam kebijakan pendidikan nasional maupun global,
lulusan dari bidang humaniora menghadapi tekanan yang lebih berat dalam
memasuki pasar tenaga kerja yang semakin kompetitif. Penelitian ini bertujuan
untuk mengeksplorasi strategi lulusan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah
Mada dalam memasuki dunia kerja, mengidentifikasi bentuk-bentuk kesenjangan
antara kompetensi yang diperoleh selama masa studi dengan tuntutan dunia kerja,
serta menggali upaya yang dilakukan para lulusan dalam menjembatani kesenjangan
tersebut. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi
kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam semi-terstruktur terhadap
tujuh alumni Fakultas Ilmu Budaya dari berbagai program studi. Pemilihan
informan melalui teknik purposive sampling dengan kriteria sebagai
berikut; sudah bekerja, termasuk ke dalam generasi Z, dan bersedia untuk
diwawancarai. Analisis data menggunakan pendekatan tematik. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa modal pengetahuan akademik bersifat kondisional, hanya
berperan signifikan ketika terdapat keselarasan dengan bidang pekerjaan.
Sementara modal pengalaman bersifat universal dan menjadi daya tawar utama bagi
seluruh informan. Kesenjangan ditemukan dalam tiga bentuk yaitu kesenjangan
pengetahuan profesional, kesenjangan keterampilan teknis, dan kesenjangan
pengalaman. Kesenjangan yang dialami lulusan tidak hanya dialami pada mereka
yang berkarier di luar bidang studi, melainkan dialami oleh lulusan yang
berkarier di bidang yang masih relevan dengan bidang studi mereka. Dalam
merespon kesenjangan tersebut, para lulusan menempuh strategi upskilling dan
reskilling baik itu secara mandiri ataupun difasilitasi oleh pihak perusahaan.
The high rate of educated unemployment
among young people highlights a serious issue, particularly for Generation Z
entering the workforce. Amid the national and global emphasis on STEM
priorities in education policy, humanities graduates face greater pressure in
penetrating an increasingly competitive job market. This study aims to explore
the strategies employed by graduates of the Faculty of Cultural Sciences at
Universitas Gadjah Mada to enter the workforce, identify gaps between
competencies acquired during their studies and job market demands, and examine
the efforts made by these graduates to bridge those gaps. This research adopts
a qualitative method with a case study approach. Data were collected through
semi-structured in-depth interviews with seven alumni from various programs in
the Faculty of Cultural Sciences. Informants were selected using purposive
sampling with the following criteria: currently employed, belonging to
Generation Z, and willing to be interviewed. Data analysis employed a thematic
approach. The findings reveal that academic knowledge serves as a conditional
asset, proving significant only when aligned with the job field. In contrast,
experiential capital acts as a universal asset and the primary bargaining power
for all informants. Gaps were identified in three forms: professional knowledge
gaps, technical skills gaps, and experience gaps. These gaps are not exclusive
to graduates working outside their field of study but are also experienced by
those in careers still relevant to their academic background. To address these
gaps, graduates pursued upskilling and reskilling strategies, either
independently or facilitated by their employers.
Kata Kunci : Lulusan Humaniora, Kesenjangan Kompetensi, Upskilling & Reskilling.