Dekonstruksi Kesepadanan Makna Istilah Budaya Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia pada Novel Petualangan Huckleberry Finn dan The Adventures of Huckleberry Finn
Natasya Ayu Salsabilla, Prof. Dr. Drs. Sajarwa, M.Hum
2026 | Tesis | S2 Linguistik
Kesepadanan dalam penerjemahan saat ini tidak lagi dipandang sebagai upaya mencari kesamaan semata, melainkan proses negosiasi makna. Akibatnya, kesepadanan yang terbentuk pada suatu waktu sangat mungkin mengalami perubahan pada konteks dan waktu yang berbeda. Perbedaan sistem budaya bahasa sumber dan bahasa sasaran menjadi tantangan dalam penerjemahan karena tidak semua istilah budaya memiliki padanan dalam bahasa sasaran. Kondisi tersebut berimplikasi pada perubahan makna, terutama pada karya sastra yang sarat nilai estetis dan kontekstual. Berdasarkan permasalahan tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perbedaan makna istilah budaya melalui perspektif dekonstruksi Derrida (1995) dan kesepadanan tekstual Baker (2018). Teori dekonstruksi memandang hubungan antara penanda dan petanda sebagai sesuatu yang tidak tetap. Penelitian ini mengkaji dua terjemahan novel The Adventures of Huckleberry Finn terjemahan tahun 1975 dan 2024. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan komparatif. Data penelitian berupa kata dan frasa bermuatan budaya yang diperoleh dari kedua teks terjemahan dan dianalisis melalui perbandingan kedua teks terjemahan untuk mengidentifikasi bentuk-bentuk dekonstruksi kesepadanan makna istilah budaya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dekonstruksi kesepadanan termanifestasi dalam berbagai bentuk, yaitu sinonimi, pergeseran sudut pandang, perubahan referen budaya, perubahan ideologi, penafsiran ulang, dekulturalisasi, dan adaptasi bahasa. Variasi tersebut dipengaruhi oleh faktor interpretatif penerjemah, faktor linguistik, faktor normatif kebahasaan, dan faktor budaya. Temuan ini mengindikasikan bahwa penerjemahan tidak sekadar proses pemindahan makna; penerjemahan juga melibatkan negosiasi antarteks, konteks, dan posisi ideologis penerjemah. Dengan demikian, makna dalam penerjemahan bersifat dinamis dan tidak tunggal, karena senantiasa dibentuk melalui interaksi antara bahasa, konteks, budaya, dan subjektivitas penerjemah.
Translation equivalence is no longer viewed as an attempt to achieve sameness, but rather as a process of meaning negotiation. Consequently, the equivalence established in one context or period may change across different contexts and times. The difference between the cultural systems of the source and target texts presents a challenge in translation, as not all cultural systems have direct equivalents in the target language. This condition may lead to differences in meaning, particularly in the aesthetics and contextual values of literary works. In response to this issue, this research examines differences in the meaning of cultural terms through the lens of Derrida's deconstruction theory (1995) and Baker's textual equivalence (2018). Deconstruction theory views the relationship between the signifier and the signified as unstable. The data were obtained from two Indonesian translations of The Adventures of Huckleberry Finn, published in 1975 and 2024. This research employs a descriptive qualitative method with a comparative approach. The research data consist of culturally bound words and phrases, which are analysed by comparing the two translated versions to identify forms of deconstructed equivalence. The findings reveal that the deconstruction of equivalence manifests in various forms: synonymy, shift in perspective, changes in cultural reference, ideological shifts, reinterpretation, deculturalization, and language adaptation. These variations are influenced by the translator's interpretation, linguistic factors, rules, and cultural factors. The findings indicate that translation is a process of transferring meaning as well as interpretative practice involving negotiation among text, context, and the translator's ideological position. Therefore, meaning in translation is dynamic and continuously shaped by the interaction between linguistic structure, cultural context, and the translator's subjectivity
Kata Kunci : dekonstruksi, kesepadanan, makna, istilah budaya, penerjemahan